JENNIE ALEXXANDRA

JENNIE ALEXXANDRA
Surat



Langkah jennie berhenti saat seseorang menyapanya, perasaannya campur aduk.


dia Kemudian membalikkan badannya perlahan.


Dan....


"Heh Bagas bisa gak sih gak usah ngagetin aku" kata Jennie kesal bercampur lega


kesal karena Bagas meneriakinya seperti maling hingga membuat orang orang disekitaran pantai menoleh kearahnya,lega karena bukan orang yang dia takutkan meneriakinya.


"Loh kok ngamok,lagian ngapain sih disini bukannya tungguin aku dimobil,malah keluyuran gak jelas"Bagas Kemudian melirik kantong plastik yang dibawa Jennie


sedangkan Jennie mendengus kesal kemudian berjalan kearah mobilnya diparkirkan.


"eh Jen,Lo bawa apa tuh"kata Bagas sambil menunjuk kantong plastik Jennie dengan dagunya


"tadi aja manggil nya aku kamu sekarang Lo gua, aneh emang"batin Jennie


lamunan Jennie buyar ketika Bagas menggoyangkan bahu Jennie


"apaan sih gas,main pegang pegang,hih gelay"kata Jennie sambil menujukkan ekspresi geli


"tadi gua nanya,itu apa Lo nya diem ngelamun pasti lagi mikirin gua ya"


"dih ngapain mikirin Lo kayak gak ada kerjaan"kata Jennie mulai menggunakan Gua Lo sebagai kata tunjuk


"udah yuk pulang nanti keburu malem,Lo nanti dimarahin sama papa Lo" Bagas menimpali


mereka akhirnya pulang kerumah Jennie menggunakan mobil Jennie...


selang beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah Jennie.


mereka Kemudian turun dari mobil


Jennie melirik Bagas yang dari tadi hanya diam saja entah apa yang dia pikirkan kan


Jennie Kemudian tersenyum penuh arti


"Lo kenapa gas? takut ya,tadi gua kan udah bilang gak usah pakek acara ngajak makan malam gua segala,gua gak tau sih gimana reaksi papa gua ngeliat anaknya diajak makan malam orang asing"kata Jennie menakut nakuti dilan dengan ekspresi seriusnya, padahal dalam hati dia menebak kalau dilan akan pamit pulang


"enggak kok,siapa yang takut gua malah gak sabar ketemu sama papa Lo" kata Bagas dengan wajah serius dan tenang juga santai.Dalam hati Bagas sangat gelisah, pikirannya kalut karena sebenarnya dia ingin pulang,namun harga dirinya bisa turun dihadapan Jennie jika dia pulang kerumahnya"semoga papanya baik, semoga papanya bukan mafia"batin Bagas


"beneran Lo berani?" tanya jennie


"masa boong, udahlah ayok masuk Lo suka banget sih ngaret ngaretin waktu"


"iya iya"


mereka berdua kemudian berjalan masuk kedalam rumah Jennie


Jennie kemudian menekan tombol bel pintu rumahnya


setelah dipencet 3 kali, seorang ibu paruh baya dengan gaya rambut disanggul,dress warna biru tua, serta gelang dan perhiasan lainnya menambah kesan bahwa dialah pemilik rumah ini


Bagas menelan ludahnya kasar


"bukan kaleng kaleng,kalau emaknya aja begini,gimana nanti bapaknya" batin Bagas namun berusaha tetap tampil tenang dengan senyum yang bertengger manis


"eh Jennie,kenapa pulangnya hampir malem,trs itu kenapa bajunya kayak kena tumpahan minyak,terus ini siapa,setau mami dia bukan dilan deh" kata ibu Jennie (kita panggil nya Dewi aja ya biar mudah)


"mi kita gak disuruh duduk dulu nih" kata Jennie pada maminya


"eh iya ayo masuk"Dewi mempersilakan keduanya masuk,namun matanya masih setia mengamati Bagas dengan tatapan yang tajam


Bagas yang merasa ditatap,balik menatap kearah Bu Dewi sambil tersenyum menampilkan lesung pipi diwajahnya


Jennie menarik tangan Bagas hingga membuat yang punya tangan deg degan tidak karuan


"heh Jane siapa laki laki yang kamu bawa ini" kata Alex yang tadinya membaca koran secara tiba tiba sambil menampilkan wajah garangnya.sedangkan Bagas jangan ditanya dia tertunduk lemas tak berani menatap kearah papa nya Jennie, dia berharap ada keajaiban dunia menyelamatkan dirinya


"dia temen Jane pa,namanya Bagas" kata Jennie santai saat dia dan dilan sudah duduk di sofa,dia tak menghiraukan tatapan papanya yang seakan ingin melahap Bagas habis habis


"eh kamu temennya Jane,hm siapa tadi namanya bagus,eh ralat BAGAS,kamu temannya Jane kenapa nunduk hah saya gak suka anak saya temenan sama anak lemah" Alex menekan kata Bagas


Bagas yang tadi hanya menatap lantai,kini menaikkan dagunya menatap kearah Alex yang balik menatapnya dia merasa kesal dengan Alex karena mengatainya lemah


"iya om,saya Bagas"kata Bagas mantap dengan wajah yang serius


"pa enaknya kita apain ini anak orang,bakar atau cambuk,atau siksa dulu,atau mungkin tebas langsung lehernya" kata Dewi tersenyum devil


Bagas yang mendengar kata kata yang tak ingin dia dengar kembali menatap lantai berkeramik marmer,nyalinya menciut dia sekarang benar benar merasa terperangkap andai dia tadi mendengarkan Jennie


"oh tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang aku masih sayang nyawaku"batin Bagas hampir menangis


"lebih baik kita tebas aja langsung ma"Alex menimpali,matanya pun tak pernah berhenti memperhatikan gerak gerik Bagas


pikiran Bagas kembali kalut, sekarang yang bisa menolongnya hanya lah Jennie seorang.


"pa,mi udahlah kasian Bagas, pasti dia tertekan ya kan gas"kata jennie sambil tertawa manis


"Bagas lagi lagi dibuat takut,Jen plis deh gak usah nakut nakutin gua, dengan senyuman maut Lo itu"batin Bagas


Dewi hanya tersenyum geli, sedangakan Alex tertawa terbahak bahak sampai batuk batuk


"ish papa ni kebiasaan banget kalo ketawa sampai batuk batuk kayak gitu,inget umur Pa pokoknya ini yang terakhir papa Ngerjain temennya Jennie kasian mereka pasti trauma"kata Dewi sambil tersenyum hangat kearah Bagas


"hahahaha,sudah sudah papa capek"Alex Kemudian bernafas perlahan walaupun masih ngos-ngosan


pasangan suami-istri itu.


"Jane buatinn teh temen kamu dia pasti haus habis papa kerjain"kata Alex


Jennie kemudian berjalan kearah dapur


meninggalkan Bagas diantara papa dan maminya


"nama lengkap kamu siapa nak"Dewi membuka pembicaraan dengan lembut


"saya bagas Tante,B-Bagas Abraman"


Bagas Dengan terbata-bata


"tenang saja saya dan istri saya bukan pembunuh tadi kami cuman bercanda' Alex tersenyum kearah Bagas


Bagas tersenyum lega,namun tetap saja dia masih merasa jengkel dikerjai oleh pasangan suami-istri itu


ckk udah tua masih aja doyan ngerjain calon mantu, untung calon mertua kalo bukan udah gua lempar ke lubang buaya batin Bagas


"eh iya om,gak apa apa" kata bagas menampilkan lesung pipi nya


"biasanya kalo ada temen Jennie kesini kami biasanya kerjain dulu biar seru,ya kan pa" dewi kemudian menatap Alex


"iya"kata alex singkat


"seru seru apa nya yang seru"Bagas kembali berjibaku dengan hatinya


mereka kemudian lanjut bercakap-cakap sambil menunggu Jennie


namun percakapan mereka terhenti tatkala bunyi ponsel berlogo apel milik Bagas berbunyi


"Bentar ya om Tante saya angkat telepon dulu"kata bagas sopan kemudian berjalan keluar


"halo mah, kenapa?" tanya bagas pada si penelpon


"APA....iya-iya Bagas pulang sekarang"kata bagas kemudian mematikan panggilan itu


dia kemudian berlari ketengah Rumah Jennie


"Om Tante saya pamit dulu ya maaf mendadak ada urusan" kata bagas sopan


"kamu bawa apa kesini?" tanya Alex


"tadi numpang mobil Jennie om,tapi saya udah dijemput sama temen saya sebentar,saya mau pamit sama Jennie dulu, Jennie nya didapurkan"tanya Bagas tergesa gesa


Alex dan dewi menatap heran bagas kemudian mengangguk


Bagas kemudian berlari kearah dapur disana Jennie sedang tertidur Tangannya yang satu menopang kepalanya agar tidak jatuh


"mm Pantesan dari tadi tehnya belum Dateng Dateng" batin Bagas dia kemudian mematikan kompor yang masih menyala


Bagas mengecup pipi Jennie lembut


kemudian dia kembali ke ruang tengah tempat Alex dan dewi duduk


bagas Kemudian menghampiri pasangan suami-istri itu


"om ini titip buat Jennie ya,jangan dibuka om biasalah urusan anak muda"kata bagas dia kemudian meraih tangan Alex dan mengecupnya


"saya pamit om Tante" bagas kemudian berlalu dari hadapan mereka


Alex dan dewi Kemudian mendengar suara deru mobil meninggalkan halaman rumah mereka


Alex dan Dewi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bagas,entah apa yang akan terjadi padanya, pasangan suami-istri hanya bisa mendoakan yang terbaik buat pemuda tampan itu


Jennie yang sudah dibangunkan oleh maminya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya namun langkahnya terhenti


"Jane ini ada surat dari Bagas,sebelum dia pulang katanya buat kamu"kata Dewi Kemudian menyerahkan surat yang dibungkus amplop itu


Jennie mengambilnya dia Kemudian berjalan kembali kekamarnya dia kemudian merebahkan diri nya kembali karena dia sudah sangat mengantuk,dia meletakkan surat dari Bagas dilacinya


dia berpikir itu hanya surat biasa yang isinya hanya pesan biasa...


Jennie kemudian memasuki alam mimpinya


sedangkan Bagas??


ada yang tau Bagas kemana??


tunggu lanjutan update nya di Jennie Alexxandra ya readers....


Buat readers :


Maaf ya kalo karya author banyak yang salah,maklumin author baru nulis novel,kalo ada masukan kasi tau dikomen ya nanti pasti author balas,maaf juga kalo author update nya gak nentu,author sibuk daring


*Dukung Author Selalu Ya Readers,Jangan Lupa Like Nya Like Dari Kalian Sangat Berarti Buat Author*


See U Next Time


Dukung Author Selalu Ya....


Byee


-_-|*_*(:......