JENNIE ALEXXANDRA

JENNIE ALEXXANDRA
Dilan Darius Agatha



Akhirnya yang dinanti pun tiba.Keluarga Agatha berkunjung kerumah Alex dan Dewi.


Candra,Helena,Selena,Dan Dilan memasuki rumah Alex yang disambut sangat hangat oleh si empunya rumah.


"Hai apa kabar bro,Lo tambah ganteng aja"kata Alex membuka pembicaraan.sedangkan Helena saling lempar pandang dengan dewi.


"Hahaha,bisa aja,ya gini" balas Candra


"mari masuk,maaf rumah kami tidak terlalu luas dan besar"kata Dewi dengan senyumnya


Keluarga Agatha pun mendudukkan bokongnya disofa.


"mah panggil Jennie sana" kata Alex saat mereka semua sudah duduk


Dewi mengngagukkan kepalanya,dan berjalan keatas ke kamar Jennie


-Dikamar Jennie-


saat ini Jennie sedang menonton Drakor kesukaan.


*ceklek*


pintu kamar dibuka oleh Dewi


"Jennie ayo kita turun kita sudah ditunggu tamu dibawah"


" hm iya mah, mamah tunggu aja dibawah ntar Jennie nyusul"


Dewi pun mengiyakan permintaan Jennie


Dewi turun tanpa Jennie


"mah Jennie mana" tanya Alex


"itu lagi diatas ntar katanya nyusul"


Alex hanya menganggukan kepalanya


Candra berbicara dengan Alex, sedangkan Helena diam kadang berbisik-bisik dengan anaknya Selena,sedangkan dilan dia memilih memainkan hp nya


"jennie sini sayang" kata Dewi setengah berteriak saat melihat Jennie turun dengan dressnya


Helena menatap sinis calon menantunya, baginya cara berpakaian Jennie sama sekali tidak ada gaul gaulnya dan tidak mengikuti jaman.


"om,Tante,udah lama disini"? kata Jennie saat tangannya ingin menyalim tangan kedua calon menantunya


"enggak juga je" kata Candra sambil tersenyum menerima uluran tangan menantunya,saat Jennie hendak menyalim tangan helena,Helena pura pura tidak melihat dan tangannya tidak bergerak sama sekali


Jennie kemudian menarik Tangannya kembali karena tidak ada tanggapan dari Helena


Jennie duduk disamping Dewi


jennie sedikit melirik ke arah dilan


dilan yang merasa dilirik pun menatap Jennie tajam


Saat itu aku sama sekali tidak pernah terpikirkan akan dijodohkan,namun secara tiba tiba papiku mengatakan,aku harus menikah dengan seorang wanita cantik,karena ia sudah menjodohkanku dengan wanita itu.awalnya aku sangat sangat menolak,bahkan lebih dari menolak aku sempat mencaci papiku sendiri karena emosi yang tidak bisa kubendung bagaimana bisa aku hidup selama ini selau dikekang ini salah,itu salah,aku kadang stress dengan tingkah papi yang tidak bisa memahamiku lain dengan mama yang selalu bisa mengerti diriku, walaupun mamaku juga kadang menyebalkan,dia juga sering mencarikan aku wanita,agar aku kencani,namun tidak separah papi yang tiba tiba menjodohkanku dengan wanita pilihanya.Marah itu Adalah salah satu kata yang ada ketika aku mendengar apa yang papi katakan.saat aku menolak nya bahkan sempat sedikit mencaci papi ku


papiku ambruk,akupun berteriak-teriak histeris meminta mama turun kebawah, saat mama melihat papi tidak sadarkan diri,dia juga berteriak histeris,ia memanggil nama pelayan agar mengantar papi kerumah sakit.


kamipun meluncur kerumah sakit,dengan wajah penuh penyesalan,dan kekhawatiran,aku mengantar papi sampai pintu depan kamar rawat,karena dokter tidak memperbolehkanku.Aku menunggu di kursi bersama mama,yang menahan tangisnya sedari tadi.


beberapa menit kemudian dokter keluar dari kamar rawat


aku dan mama kemudian bergegas menemui dokter dan bertanya tentang keadaan papi


"beliau tidak apa apa hanya mengalami kelelahan, dan saranku tolong turuti apa saja yang diminta agar pikirannya tidak terlalu berat atau banyak beban" kata dokter


aku dan mama mengangguk


"apakah saya boleh menemui suami saya dok"?kata mama pada dokter


'boleh tapi ingat pesan saya tadi jangan biarkan dia banyak pikiran"


"baik dok" kataku kemudian aku dan mama berjalan masuk ke ruang rawat


"pi maafkan dilan,dilan janji akan nurutin kemauan papi tapi papi sembuh dulu ya"kataku pada papi,papi hanya memasang wajah datarnya


"Pi ayolah maafkan aku,nanti aku janji akan menikahi wanita yang papi pilihankan tapi tolong sembuh dulu dan maafkan aku"kataku pada papi


papi kemudian tersenyum saat mendengarkanku


"baiklah papi pegang janjimu"


mama tampak terkejut namun ia kembali menetralkan ekspresinya


"tapi pi, bukannya dilan sudah punya pacar"?


kata mamiku pada papi


"jika kau punya pacar, putuskan pacarmu sekarang juga dilan" kata papi tegas,aku hanya bisa mengiyakan permintaanya asalkan aku tidak dicabut dari ahli waris


"t,tapi pi"kata mamaku namun langsung dijeda oleh papi


"ma,diamlah,biarkan dilan menjalani hidupnya" kata papi pada mama


mamaku tampak pasrah,namun ia tidak menunjukkan wajah nya itu ia hanya memasang wajah datarnya


"dilan Minggu depan kita sekeluarga akan pergi ke rumahnya jadi siapkan dirimu karena papi tidak main main dengan ucapan papi, dan papi harap kamu juga memenuhi janji yang tadi" kata papiku


"iya pah" kataku tanpa gairah


Minggu depan


apakah dia sudah tua?,apakah dia hanya mengincar hartaku?,apakah dia cantik?,apakah dia pintar?,apakah diaa.....


banyak sekali pikiranku yang berkecamuk tentang gadis yang akan papi nikahkan padaku...