
TAANGG!!
TAANGG!!
" Edna!! Cepat pergi dari sini! "
" Baik!! "
Saat ini aku berada di Victoricity, tapi tak kusangka Victoricity terbagi menjadi 2 kubu. Kubu Federasi dan Aliansi. Dimana kubu Federasi adalah kubu dari Lord Ematus III dan kubu Aliansi adalah kubu pemberontak yang dipimpin oleh pangeran Villes II. Konflik terjadi karena pihak Lord EMATUS III telah menciptakan undang-undang yang kurang baik dan sering melakukan tindakan kejam, sampai-sampai melakukan perjanjian pada iblis.
Saat ini kubu Lord Emastus III sudah hancur dan hanya tersisa 1 Iblis yang aku dan Edna lawan.
" Golden Tree!! "
"Rage Slash!! "
Kami berdua pun berhasil mengalahkan iblis terakhir, namun kami lengah.
" Edna awas!! "
Iblis itu membuat jebakan, aku mendorong Edna keluar dari jalur jebakan dan jebakan itu mengenaiku. Sebuah bayangan yang tiba-tiba melahapku.
EDNA POV
" Yanagi!! "
Aku melihat Yanagi dilahap oleh bayangan itu dan tidak lama dia keluar dari bayangan itu.
" Yanagi! Yanagi? Yanagi? "
Saat mendekatinya aku melihat mata Yanagi terbuka, nafasnya teratur, dan suhu tubuhnya masih sedikit hangat tapi dia tidak bergerak sama sekali.
" Yanagi, apa kau bisa mendengarku? Yanagi! "
Yanagi tetap kosong dan tidak menjawabku, Aku pun membawa Yanagi menuju ke Desa. Tapi, aku lupa akan kesalahanku.
" Mau apa kau kembali kesini, Pengkhianatan!! "
" Sudah cukup meninggalkan kewajibanmu, kau malah berpihak pada musuh. Pergilah dari disini!! "
" Edna, pergilah. Kau tidak diterima di Desa ini lagi "
Ya, kesalahanku amat besar. Melanggar aturan dan berpihak pada musuh. Aku tidak terkejut para warga dan ayahku menolak aku kembali ke Desa.
" Cepat menyingkirlah!!"
Para warga mulai melempari batu, aku hanya berjalan mundur sambil melindungi Yanagi dari batu-batu itu.
" Aww... "
Beberapa batu mengenai kepala dan bagian atas mataku. Sambil membersihkan darah dari mataku, aku juga membasuh wajah dan tangan Yanagi yang kotor akibat pertarungan tadi.
Kami masuk kedalam hutan dan menemukan sebuah rumah kecil yang sudah lama tidak terpakai.
" Kotor sekali, Yanagi tunggulah disini. Aku akan membersihkannya sebentar "
Aku mendudukkan Yanagi di pohon dekat rumah itu. Cukup lama membersihkan rumah itu sendiri. Dari yang aku lihat, beberapa alat masak masih bisa dipakai. Lalu kasur dan selimut hanya perlu dibersihkan sendiri.
" Huup... Hah, Yanagi tidurlah disini. Hem... Aku rasa aku harus mencari sesuatu untuk dimakan.
Yanagi, aku akan pergi sebentar. Aku tidak akan lama "
Aku mencari sejumlah beri liar lalu memancing ikan. Setelah itu, aku membakar ikan itu dan membuat jus dari beri itu.
" Yanagi, maaf kalau aku lama-- Hei! Wind Slash! "
Aku langsung menggunakan skill-ku karena kaget melihat laba-laba besar hinggap di wajah Yanagi.
" Aduh.... Sekarang jendelanya jadi rusak. Pasti akan membuat ruangan dingin karena angin malam dapat masuk. Besok harus aku perbaiki "
Aku pun menyuapi Yanagi, lumayan sulit untuk menyuapi Yanagi. Dia bahkan tidak bisa mengunyah atau menelan, dia seperti boneka tanpa penggeraknya.
....
....
....
" Pagi Yanagi, apa tidurmu nyenyak? "
"......."
"......."
" Kita akan sarapan nanti "
Waktu terasa begitu cepat. Sudah 1 tahun lamanya aku tinggal bersama Yanagi. Aku juga sudah terbiasa memandikannya, memggantikan baju untuknya, memasak lalu menyuapinya, menyapu rumah, dan saat siang sampai sore hari aku sering membawa Yanagi berjalan-jalan di sekitar dan Kota kecil di sebelah selatan rumah kecil itu yang bernama Yazine.
" Yanagi, hari ini kita sarapan dengan bubur. Maaf, aku lupa memancing kemarin. Kita akan membeli ikan dan sayuran lagi di kota nanti "
Aku sering mengirimkan tanaman obat-obatan pada apotek di kota itu karena disekitar sini lumayan dipenuhi oleh tumbuhan obat-obatan. Pemilik Apotek itu pun juga memberiku uang yang cukup untuk kami berdua.
" Yanagi, apa hari ini dingin? "
"......."
" Kurasa kita harus membeli beberapa baju baru dan syal nanti "
" Yanagi, kau tahu? Aku ingat kalau kau satu-satunya orang yang memiliki tinggi badan yang sama denganku yang pernah aku temui. Benar-benar sangat tidak nyaman memiliki tubuh setinggi ini, rata-rata penduduk disekitar sini hanya setinggi dadaku "
" ........... "
" Ahh... Dan juga aku mau bilang, maaf kalau kau tidak suka rambutmu diwarnai. Disini memiliki kepercayaan kalau rambut merah adalah keturunan iblis, jadi rambutmu sementara aku warnai hitam dulu "
" ........ "
" Ahh... Kita sudah sampai "
Yazine, jika orang melihat akan berpikir itu adalah benteng pengungsian. Yazine dan desaku memiliki luas yang hampir sama.
AUTHOR POV
" Paman, hari ini ada apa saja? "
" Ahh... Nona rupanya, hari ini ada cukup banyak ikan yang ditangkap. Apa Nona ingin membeli ikan Sourfest? "
" Ikan yang terkenal dengan rasa gurih dan manisnya itu!? Tapi pasti mahal bukan? "
" Tenang saja, untuk Nona akan aku beri potong harga "
" Benarkah? "
" Tentu! "
" Baiklah, kami beli "
" Oke, ini "
" Terima kasih paman. Yanagi, sepertinya malam ini kita akan makan enak "
Edna dan Yanagi pun menuju ke toko baju.
" Hah.... Wanita yang kasihan ya? "
" Benar, dia malah tampak seperti orang gila yang selalu mengajak bicara kekasihnya yang lumpuh "
" Tapi, pasti suatu saat cinta pasti kembali "
" Kau ini, sudah tua masih saja bisa bilang begitu "
" Ahahahaha! "
Edna dan Yanagi pun membeli beberapa baju lalu berjalan-jalan di sekitar daerah tengah kota. Lalu saat berjalan-jalan Edna melihat ada sebuah kuil kecil untuk Dewa para Ksatria perempuan Theness dan Dewa para Ksatria Yanagi.
" Dewi Theness, Dewa Yanagi... Tolong dengarkan doaku. Kumohon agar Yanagi bisa kembali seperti semua "
Setelah memberi persembahan berupa anggur, lalu kembali ke rumah. Setelah makan, Edna membawa Yanagi kekasur dan menidurkannya.
" Yanagi, ingin mendengar lagu mengantar tidur? "
" ........ "
" Baiklah "
Edna pun menyanyikan lagu pengantar tidur sambil memeluk Yanagi.