In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 7



Antonio berdiri di depan kaca besar memandangi Stefani yang masih terbaring dan belum sadarkan diri. Sudah berhari-hari keadaan Stefani masih belum ada perubahan. Sebelumnya Stefani dirawat di rumah sakit. Namun Antonio memutuskan untuk melanjutkan perawatan Stefani di rumahnya. Apalagi setelah tahu apa yang baru di alami oleh perempuan itu, Antonio merasa harus menyembunyikan perempuan itu untuk sementara waktu dan menurutnya rumahnya adalah tempat yang paling aman.


Pandangan Antonio masih tertuju pada Stefani. Demi membalas budi perempuan itu, Antonio sampai menyiapkan perawatan terbaik untuknya. Tidak tanggung-tanggung alat medis canggih ia siapkan untuk menunjang perawatan Stefani.


"Kapan wanita itu akan bangun?" Antonio bergumam dalam hati.


Cemas? Mungkin iya


Menurut Antonio, dirinya yang membuat Stefani dalam keadaan seperti itu.


"Sepertinya kau sangat mencemaskan wanita itu. Apa kau tertarik padanya?" tanya Calvin, Dokter pribadi keluarganya. "Kau tidak berniat untuk bermain apa, bukan?"


Antonio memicik tajam di balik kaca matanya. "Tutup mulutmu!"


Calvin hanya tertawa melihat raut wajah garang Antoni. "Aku hanya bercanda. Jangan menunjukkan wajah seolah kau ingin memakanku."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku mencemaskannya karena aku yang membuat keadaannya seperti itu. Apalagi aku sudah berhutang nyawa Alex padanya," jelas Antonio.


"Jadi perempuan itu yang sudah menolong Alex?" tanya Calvin.


"Ya." Antonio menganggukkan kepalanya.


"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, apa yang harus aku katakan pada keluarganya," jelas Antonio.


"Kau sudah dapat alamat rumahnya dan sudah mengatakan pada mereka tentang keadaan gadis ini?" tanya Calvin.


"Aku sudah menyuruh Nicholas pergi ke sana untuk memberikan alasan gadis ini tidak pulang," jawab Antonio.


Antonio berjalan bersama Calvin menjauh dari ruangan tempat Stefani dirawat. Mereka mengarah menuju ruang keluarga.


"Silahkan duduk! Kopi atau teh?" tawar Antoni.


"Kopi saja," jawab Calvin.


Antoni meminta kepada pelayan di rumahnya untuk membuatkan dua kopi. Sambil menunggui keduanya kembali mengobrol tentang Stefani.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Antoni.


"Sebenarnya keadaannya sudah mulai stabil. Tapi aku masih merasa bingung kenapa dia belum sadar," jelas Calvin.


"Kau yakin tidak salah memeriksanya?" tanya Antoni lagi.


"Aku sudah berkali-kali mengeceknya. Semuanya sudah normal. Mungkin dia sendiri yang tidak ingin bangun mengingat apa yang sudah dia alami."


"Apa bisa seperti itu?" tanya Antoni disambut anggukkan oleh Calvin. "Sampai kapan keadaan dia akan seperti ini?"


"Sampai dia bosan tidur dan memutuskan untuk bangun dengan sendirinya," jawab Calvin.


"Ya mungkin itu benar. Tapi jika dia tidak sadar juga aku seperti menyimpan mayat hidup di rumahku dan apa yang harus aku katakan pada keluarganya."


Memang sulit situasinya jika Stefani tidak ingin membuka matanya dan tidak ingin kembali ke dunia yang fana itu.


Obrolan mereka terhenti ketika pelayan datang membawa kopi. Dua cangkir kopi dengan krim sudah dihidangkan di atas meja.


"Ayo minumlah!" ucap Antoni.


"Baiklah," sahut Calvin.


Keduanya duduk santai dan kembali mengobrol, tetapi mengubah topik pembicaraan. Calvin melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hari sudah siang dan ia harus segera kembali ke rumah sakit.


"Hei, kau tolong jaga kamar wanita itu. Jangan tinggalkan wanita itu sendiri. Aku memiliki firasat buruk jika dia bangun nanti." Setelah berpamitan kepada Antonio, Calvin bergegas pergi dari tempat itu.


"Aku juga harus segera pergi ke kantor," gumam Antoni.


"Paman Ron." Antoni menanggil kepala pelayan di rumahnya. "Saya harus pergi ke kantor. Tetap awasi perempuan itu. Jika sesuatu terjadi segera hubungi aku!" perintah Antonio kepada para pekerja di rumahnya.


"Baik, Tuan."


*****


Tiga hari berlalu dan Stefani masih belum sadar membuat Antonio hampir frustrasi. Antoni sangat cemas, jika wanita itu mati ia akan merasa sangat bersalah. Namun sepertinya Tuhan mendengar doa-doanya, seorang pekerja di rumahnya berjalan dengan tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.


"Tuan! Saya tadi melihat jari wanita itu bergerak."


"Tidak, Tuan. Saya yakin sekali."


Tidak menunggu waktu lagi Antonio bergegas ke kamar Stefani. Sambil berlari Antonio meminta kepada asisten pribadinya untuk menghubungi Calvin. Antonio sampai di tempat Stefani, ia merasa sangat lega melihat mata Stefani sudah terbuka meskipun tatapannya masih kosong.


"Hei, bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa lebih baik?" tanya Antonio.


Padahal Antonio merasa dirinya bertanya dengan sopan dan dengan suara yang lembut, tetapi reaksi Stefani membuatnya terkejut sekaligus bingung. Tiba-tiba saja Stefani berteriak histeris dan berteriak menyuruh semua orang untuk pergi.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Antoni.


"Pergi kau!" Stefani mulai histeris dan melempari Antoni dengan barang-barang di sekitarnya.


Antoni berusaha menghindar saat Stefani melempari dirinya. "Ada apa denganmu? Apa salahku?"


Tanpa Antoni duga Stefani mencabut jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya lalu beranjak dari tempat tidur.


"Tidak! Jangan mendekat! Tolong jangan menyentuhku dan biarkan aku pergi!"


"Tapi ...."


Antonio ingin mendekati Stefani, tetapi justru membuat Stefani makin histeris.


"Kau, tolong usir pria itu dari sini!" Stefani menarik pelayanan wanita yang ada di dekatnya dan juga bersembunyi di balik tubuh pelayanan itu. "Cepat usir dia!"


Tubuh Stefani menggigil, terlihat dia sangat ketakutan.


Pelayanan itu nampak terdiam bingung. Bagaimana ia bisa mengusir tuannya sendiri.


Bertepatan dengan itu Calvin datang. Hal itu membuat Stefani makin histeris. Stefani mencengangkram kuat kedua lengan pelayan wanita itu berharap bisa melindungi dirinya dari Antoni dan Calvin.


"Apa yang kau lakukan sampai membuat dia seperti itu?" tanya Calvin.


"Aku tidak berbuat apapun. Aku hanya menyapanya," jawab Antonio.


Stefani merasa Antoni dan Calvin akan berbuat buruk, ia melihat ke sekitar mencari sesuatu untuk bisa melindungi dirinya. Matanya melihat sesuatu di atas meja, ia mendorong pelayanan itu lalu mengambil benda tajam di dekatnya dan mengarahkan ke Antonio juga Calvin.


"Cepat pergi! Kalau tidak aku akan mengakhiri hidupku!" ancam Stefani.


"Jangan berbuat hal gila!" Antonio melangkah maju mencoba merebut benda tajam dari tangan Stefani. Namun langkahnya diketahui oleh Stefani. Wanita itu langsung mengarahkan benda tajam itu ke perutnya. Beruntung Antonio bergerak cepat, ia berhasil mencegah Stefani dan merebut benda tajam itu dari tangan Stefani meskipun lengannya tergores.


"Lepaskan!"


"Kalian cepat pegang gadis ini! Aku akan memberikan dia suntikan penenang," suruh Calvin.


Dengan susah payah Antonio menahan Stefani. Akhirnya Stefani tenang setelah Calvin menyuntikan obat penenang. Setelah itu mereka membawa Stefani kembali ke tempat tidur.


"Untuk berjaga-jaga sebaiknya ikat dia," saran Calvin.


"Kau yakin!" Antonio merasa ragu.


"Dia sepertinya mengalami trouma berat. Jangan sampai dia kembali berniat untuk menyakiti dirinya sendiri," jelas Calvin.


Suasana di ruangan itu kembali tenang setelah Stefani tertidur pulas. Antonio meminta kepada para pelayan untuk membereskan kekacauan yang diciptakan oleh Stefani. Setelah itu Antonio keluar bersama Nicholas dan Calvin.


"Antoni sebaiknya kau mintalah bantuan kepada Alice Dia seorang psikiater, 'kan?" ususl Calvin.


"Ya itu sepertinya ide yang bagus," ucap Antonio.


"Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Calvin.


"Tidak ingin minum kopi untuk menghilangkan keteganganmu?" tawar Antoni.


"Lain kali saja," tolak Calvin. "Baiklah, aku harus pergi."


"Terima kasih sebelumnya. Nicholas antar Calvin ke mobilnya," perintah Antonio.


"Baik, Tuan Antonio. Mari Tuan Calvin saya akan mengantar Anda ke luar," ucap Nicholas disambut anggukkan kepala oleh Calvin.


Antonio masuk ke kamarnya. Ia mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Marry yang tidak lain adalah kekasihnya. Setelah menemukan nomor Alice, Antoni menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.