
Stefani menodongkan senjata api ke arah Alex. Tangannya nampak gemetar memegang benda berbahaya itu.
Bagaimana dirinya melukai Alex dan bagaimana bisa Alex berkorban sebesar itu untuk Julian?
Stefani menurunkan tangannya perlahan.Tubuhnya pun ikut merosot membuat Stefani terduduk di tanah. Stefani berteriak dan terisak membuat Alex terkejut.
Alex membuka mata dan segera menghampiri Stefani.
"Stefi." Alex duduk di hadapan Stefani dengan memengang kedua pundak wanita itu. "Kau baik-baik saja?"
"Apa kau melihat aku baik-baik saja sekarang?" Stefani menatap Alex dengan matanya yang basah.
Alex terdiam tak mampu merespon perkataan Stefani. Hanya kata maaf yang mampu Alex ucapkan.
"Kau membuat keadaanku semakin sulit dengan memintaku melenyapkan dirimu," ucap Stefani.
"Aku memang pantas mendapatkannya karena aku sudah mengingkari janjiku. Andai itu bukan Julian aku akan melakukan itu," ucap Alex.
"Aku tak habis pikir, kau begitu menyayangi saudaramu itu. Dia pria jahat!" Stefani memeluk kedua lututnya.
"Bukan aku membenarkan perbuatan Julian. Tapi … aku sangat mengenalnya. Dia tak mungkin melaku
Lagi-lagi Stefani tersenyum getir, ia kecewa karena Alex mengingkari janjinya, tetapi dirinya juga penasaran dan ingin tahu alasan mengapa Alex begitu membela Stefani.
"Berikan aku alasan kenapa kau begitu membelanya?" tanya Stefani.
Alex tak langsung menjawabnya. Ia membantu Stefani berdiri dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang ada di dekat mereka. Alex kembali berjalan ke arah pagar pembatas kemudian berbalik.
Semua itu tak bisa aku ungkapan dengan kata-kata. Tapi satu hal yang bisa aku katakan padamu, dia mampu mengorbankan apapun untukku dan begitu juga dengan Antoni. Bahkan mungkin bukan hanya untuk kami berdua. Untukmu juga," jelas Alex.
Alex kembali mendekat ke Stefani. Ia menekuk kedua lututnya mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Stefani. Digenggamnya kedua tangan Stefani yang terasa begitu dingin.
"Maafkan aku dan Julian." Alex mendongak mempertemukan pandangannya dengan Stefani.
"Jangan memaksaku untuk memaafkan pria itu," ucap Stefani. "Tapi aku akan mencobanya."
"Terima kasih." Alex mencium punggung tangan Stefani.
Hening mengambil alih suasana di antara keduanya. Alex berdiri dan duduk di samping Stefani. Tangannya kembali menggenggam tangan Stefani.
"Kau kedinginan. Ayo aku akak mengantarmu pulang," ajak Alex.
"Aku tidak mau. Aku masih ingin di sini," tolak Stefani.
"Baiklah. Sesuai keinginanmu," ucap Alex.
Keduanya duduk mengadap sungai menikmati pemandangan malam. Cahaya dari lampu berwarna-warni memanjakan mata mereka.
Tak ada satupun yang bicara. Mereka berkutat dengan pikirkan mereka sendiri. Akan tetapi diam-diam Alex memerhatikan Stefani. Wanita itu nampak duduk dengan tatapan kosong.
Alex terus memerhatikan Stefani. Dirinya ingin sekali mengungkapkan isi hatinya. Akan tetapi Alex merasa ragu, apakah waktunya tepat?
"Makin cepat itu semakin baik. Aku sudah tak bisa menundanya," batin Alex.
Alex menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia mencoba memberi dukungan kepada dirinya sendiri.
"Stefi," panggil Alex seraya mengenggam tangan Stefani. Sontak hal itu membuat Stefani terkejut.
"Hmmm, ada apa?" tanya Stefani.
"Aa …." Alex mengumpat di dalam hatinya saat lidahnya mendadak menjadi kaku.
"Kalau kau ingin bicara tentang Julian … lupakan saja!" Stefani menoleh ke arah lain.
"Bukan, ini tentang kau dan aku," ucap Alex cepat.
"Kau dan aku?" Stefani menoleh dengan kening yang mengerut. "Aku tak mengerti apa maksudmu."
Alex mengumpat memaki dirinya sendiri karena tak mampu bicara. Mengatakan kata aku mencintaimu kepada Stefani rasanya begitu berat. Padahal sebelumnya dua kata itu sering Alex umbar ke semua wanita yang mendekatinya.
"Alex, ada apa? Kenapa kau diam saja? Kau mau bicara apa tadi?" Stefani menepuk pundak Alex membuat pria itu terkejut.
"Apa? Kau bicara apa?" Stefani berdecak lalu berdiri membelakangi Alex. "Jangan bercanda seperti ini."
"Itu benar, Stefi. Aku benar-benar mencintaimu, sangat mencintaimu," ungkap Alex
Stefani berbalik memandang Alex dengan rasa tidak percaya.
"Aku tahu sekarang waktunya kurang tepat bagiku untuk mengatakan hal ini. Tapi aku sudah tak bisa menahan ini lagi," aku Alex.
"Apa kau sedang mabuk, Alex?" tanya StefaniStefani disambut gelengan oleh Alex.
"Aku sadar, aku sadar mengatakan ini. Sudah lama aku ingin mengatakannya. Tapi aku takut itu akan merusak persahabatan kita," jawab Alex.
"Dan kau sudah merusaknya, Alex." Stefani kembali membelakangi Alex.
"Stefi, kumohon. Aku mencintaimu jadilah wanitaku," pinta Alex.
"Alex …." Stefani berbalik, tetapi ucapannya terhenti saat Alex mensrih jari telunjuknya di depan bibirnya.
Keduanya berdiri berhadapan mempertemukan pandangan mereka pada satu titik yang sama.
"Kau tak perlu terburu-buru untuk menjawabnya. Pikirkanlah dulu," ucap Alex.
"Alex, kau tak mengerti. Aku —" Ucapan Stefani dipotong oleh Alex.
"Aku tak ingin mendengar apapun, Stefi. Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah hampir pagi." Alex melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ayo." Alex mengulurkan tangannya ke arah Stefani yang langsung disambut oleh wanita itu.
*****
Satu minggu telah berlalu. Stefani masih terus memikirkan Alex, memikirkan permintaan sahabatnya itu.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" batin Stefani.
"Stefi, kau baik-baik saja?" tanya Olive.
Tak ada respon dari Stefani membuat Olive merasa bingung juga kesal. Olive yang sudah kesal karena Stefani tak membalas pertanyaannya menggoyangkan tubuh Stefani membuat sahabatnya itu terkejut.
"Olive, jangan menggangguku. Kumohon?" ucap Stefani.
"Aku tak akan mengganggumu jika kau tak melamun. Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Olive.
Stefani menatap Olive sejenak. Ada keraguan untuk mencerahkan segalanya kepada Olive.
"Stefani Angelina." Olive menggenggam tangan Stefani. "Apa kau sudah tak lagi menganggapku ini sebagai sahabat? Apa kau sekarang melupakan aku setelah bertemu dengan Alice?"
"Olive, bukan seperti itu. Kau tetap sahabat terbaikku," ucap Stefani.
Setelah memikirkannya matang-matang Stefani pun menceritakan segalanya kepada Olive, tentang apa yang sudah menimpanya dulu. Jujur saja bercerita mengenai masa lalunya seperti mengorek luka lama. Stefani bahkan sampai menangis sesegukan.
"Cukup, Stefi. Jangan lanjutkan ceritamu lagi." Olive memeluk Stefani.
"Tak kusangka pria itu …." Olive berhenti bicara. Ia seakan sidah kehabisan kata-kata.
Olive merogoh tasnya lalu memberikan sapu tangannya kepada Stefani. "Tapi aku juga harus berterima kasih kepada Julian sudah mengirimkan Marco ke neraka."
"Kau tahu saat aku tahu Julian dan Alex bersaudara? Duniaku seakan berakhir," ucap Stefani sembari menangis.
"Tapi, Stefi. Bagaimana jika benar Julian sangat mencintaimu?" tanya Olive.
"Aku sangat membencinya, Olive," ucap Stefani.
"Baiklah, begini saja. Kau mengatakan jika Alex juga mencintaimu, kan? Terima saja cintanya. Jika benar Julian sangat mencintaimu dia pasti akan terluka," usul Olive.
"Kau ingin aku memanfaatkan Alex?" Stefani menggeleng, menolak usul Olive.
"Tidak sepenuhnya seperti itu, Stefi. Alex itu pria yang baik. Cobalah buka hatimu juga untuknya," bujuk Olive.
Stefani terdiam mencoba untuk mencernanya perkataan Olive. Mungkin benar perkataan Olive, sudah saatnya untuk melupakan masa lalu.