
Stefani pulang ke rumah di antar oleh Bobi juga Alex. Tubuhnya masih sedikit gemetar. Meskipun keadaannya baik-baik saja, tetapi ia masih belum bisa melupakan kejadian itu. Gedung itu meledak, jika Marco dan anak buahnya masih ada di dalam sana itu artinya mereka semua mati.
Stefani memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia berdiri di depan wastafel lalu membasuh wajahnya. Tiba-tiba napasnya menjadi tidak beraturan, ia menatap cermin melihat pantulan wajahnya sendiri.
Stefani menarik napasnya dalam-dalam menetralkan rasa sesak di dalam dadanya. Ia merasa mengambil keputusan untuk belajar bela diri itu tepat. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat itu. Mungkin saja ia akan menjadi santapan Marco dan teman-temannya.
Mengingat apa yang dilakukan oleh Marco pada dirinya membuat Stefani merasa puas jika Marco tewas di tempat itu.
"Sepertinya aku harus berterima kasih pada orang yang sudah menghancurkan gedung itu," batin Stefani.
Setelah perasaannya tenang Stefani keluar dari kamar mandi. Ia menjatuhkan diri di tempat tidur lalu tertidur begitu saja.
Keesokan harinya Stefani datang ke kantor Antoni. Di sana sudah ada Bobi dan Alex. Mereka bertemu di lobi.
"Kau juga datang?" tanya Alex.
"Kakakmu yang memanggilku," jawab Stefani.
"Ini artinya dia sudah tahu apa yang terjadi," ucap Alex.
"Dia tahu secepat ini?" tanya Stefani.
"Akan aku jelaskan sambil jalan. Ayo kita pergi ke ruangan kakakku. Jangan sampai dia mengamuk karena kita terlalu lama," ucap Alex.
"Kenapa kau mengejek kakakmu sendiri?" tanya Stefani tanpa menghentikan langkah mereka.
"Kau belum melihat saat dia marah. Itu sangat menyeramkan," jawab Alex diikuti tawanya. "Kalau kau tidak percaya tanya pada Bobi."
"Ya, yang dikatakan oleh Alex sangat benar," imbuh Bobi.
Obrolan mereka terus berlanjut. Sampai pada penjelasan tentang hubungan Antoni dengan gedung itu. Gedung itu masih menjadi sengketa antara Antoni dan orang yang mengaku sebagai pemiliknya. Antoni berniat membangun sebuah proyek di sana, tetapi masih terhalang oleh sengketa itu. Akan tetapi gedung itu sudah hancur, membuat Antoni dengan mudah memulai proyeknya.
"Hanya tinggal melakukan sedikit biaya ganti rugi dan semuanya beres," jelas Antoni.
"Semudah itu?" tanya Stefani.
"Gedung itu sudah hancur, Stefi. Orang itu tidak akan mungkin keras kepala dengan mempertahankan sesuatu yang sudah hancur," jawab Alex.
"Tapi bagaimana jika orang itu mengira jika Antoni sengaja melakukan menghancurkan itu?" Langkah Stefani terhenti membuat Alex dan Bobi juga ikut berhenti.
"Kenapa harus takut? Antoni tidak melakukan apapun," jawab Alex.
"Sudahlah, Stefi. Jangan merasa cemas dengan sesuatu yang belum terjadi." Alex mengusap susi wajah Stefani. "Ayo Masuk."
Ketiganya masuk ke ruangan kerja Antoni. Susana menjadi tegang saat Antoni menatap mereka dengan tajam. Sorot mata laki-laki itu mampu membuat ketiganya membeku. Ketiganya pun hanya bisa dia seraya menundukkan wajah mereka.
"Apa ini? Kalian datang ke gedung itu kemarin malam, 'kan? Kenapa kalian sampai melakukan tindakan besar seperti itu. Kalian tahu, ada korban jiwa di sana. Bukan satu, mereka mengatakan ada korban lebih dari sutu dan mereka hancur berkeping-keping," jelas Antoni.
Jadi mereka semua mati.
Jiwa jahat pada diri Stefani meronta. Kabar kematian Marco dan anak buahnya seolah menjadi kabar gembira bagi Stefani.
"Kalian lihat ini! Pasti akan ada masalah lain yang muncul nanti." Antoni melempar surat kabar ke meja kerjanya tepat di hadapan mereka.
"Kakak ataupun kami tidak melakukan apapun. Lalu kenapa harus takut," ucap Alex. "Ayolah, Kak. Bungkam saja orang menyebalkan itu dengan uang. Mereka pasti akan langsung diam."
"Bagaimana jika mereka menuntut atas kematian anaknya yaitu Marco?" tanya Antoni.
Semua orang menatap Stefani.
"Heh, bukankah kita sudah mencari tahu tentang keluarga licik itu, Kak. Lagipula Marco tidak lebih penting dari pada uang bagi mereka," jelas Alex diikuti senyum sinisnya.
Antoni memijit keningnya, memang tidak mungkin kalau Alex dan Boby yang melakukan itu. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Alex ada benarnya. Antoni menyuruh ketiganya untuk keluar dari ruangannya dan menganggap masalah itu sudah selesai.
"Menurut kalian, siapa yang meledakan gedung tua itu?" tanya Bobi. "Apa mungkin ada hubungannya dengan tiga mobil yang kita lihat di sana?"
"Mungkin saja," ujar Alex.
"Atau dia sengaja melakukan itu untuk membantu Antoni memulai proyeknya?" batin Alex.
"Alex, kau tidak apa? Kenapa melamun?" tanya Stefani yang langsung membuyarkan lamunan Alex.
"Tidak, aku hanya sedang berharap Antoni tidak lagi memperpanjang masalah ini," ucap Alex. "Sudahlah ayo pergi."
******
Waktu berlalu dengan begitu cepat hari pernikahan Antoni dan Alice tiba. Pernikahan itu dibuat dengan sangat mewah. Banyak pengusaha luar dan dalam negeri, juga selebriti hadir di sana.
Semua prosesi pernikahan telah dilakukan dari siang sampai malam. Tiba saatnya prosesi yang ditunggu-tunggu oleh para lajang yaitu pelemparan bunga.
Suara tepuk tangan mengiringi prosesi pernikahan Antoni dan Alice. Keduanya terlihat begitu bahagia. Tak sia-sia perjuangan mereka selama enam tahun yang akhirnya berbuah manis.
Setelah melewati prosesi pernikahan yang panjang, kini saatnya acara pelemparan bunga.
Seluruh pria dan wanita lajang berkumpul di belakang Mempelai. Mereka bersiap-siap untuk menangkap bunga yang dilemparkan oleh pasangan pengantin itu. Semua mata memandang ke arah bunga yang dilemparkan oleh Alice dan Antoni. Sampai pada akhirnya, bunga itu mendarat di tangan seseorang.
Suara tepuk tangan dan sorakan terdengar saat seseorang menangkap buket bunga itu. Laki-laki bertubuh kekar, dan memakai setelan jas berwarna hitam, serta topeng terpasang di wajah yang hanya menutupi kedua matanya.
Semua mata tertuju pada sosok pria itu. Mereka saling berbisik dan penasaran dengan wajah pria itu. Pria itu tidak menggubris orang-orang itu meskipun ia mendengarnya. Dengan santainya melewati semua orang dan berhenti di harapan Stefani.
"Maukah kau berkencan dengan ku, Nona manis?" tanya Pria itu kepada Stefani.
Stefani sendiri dibuat bingung, Kenapa pria itu mengajaknya berkencan secara tiba-tiba? Padahal ada banyak wanita cantik dan seksi di tempat itu?
Semua orang yang melihat itu bersorak dan ada juga yang mencibir. Mereka menebak pria bertopeng itu berwajah dan penglihatan buruk sehingga memilih wanita biasa seperti Stefani.
Stefani masih bingung menatap bunga dan pria bertopeng itu bergantian. Setelah diperhatikan dengan seksama, Stefani merasa mengenai dia bola mata itu, tetapi ia tidak mengingat dimana pernah melihatnya.
"Stefani Angeline, kenapa diam saja. Ayo terima bunganya." Olive meraih tangan Stefani memaksanya untuk menerima buket bunga dari genggaman tangan pria tinggi di hadapannya.
"Olive, apa yang kau lakukan?" bisik Stefani.
"Jangan menolak kesempatan emas ini," ucap Olive.
"Kalau begitu kau saja yang berkencan dengannya." Stefani memberikan bunga itu kepada Olive.
"Jika dia mengajakku aku tidak akan pernah menolaknya. Tapi dia memilihmu." Olive kembali memberikan bunga itu kepda Stefani.
Stefani mendengkus merasa kesal atas tindakan Olive.
"Baiklah Nona manis. Itu artinya kau sudah setuju untuk berkencan denganku?" tanya pria itu dengan suaranya yang lembut.
"A-pa, aku —" Stefani belum selesai bicara dan Olive sudah memotongnya.
"Tentu saja dia mau berkencan denganmu," sela Olive.
Stefani membulatkan matanya tak percaya dengan perkataan sahabatnya, tak biasanya sahabatnya itu membiarkan dirinya bersama laki-laki yang belum dia kenal.
"Hai, apa kau tidak ingin menunjukkan wajahmu pada semua orang, terutama Stefani. Aku yakin sahabatku ini juga merasa penasaran dengan rupamu," ucap Olive.
"Tentu saja."
Perlahan topeng itu mulai lepas dari wajah si pria hingga mengejutkan semua orang di sana terutama Stefani.
"Halo, Baby."
"Kau?"
Seperti ada banyak petir menyambar di sekeliling dirinya. Stefani merasa terkejut saat melihat wajah pria yang berdiri di hadapannya.
Stefani mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya. Perasaan marah sedang menyelimuti dirinya. Belum hilang rasa terkejutnya, Stefani kembali dibuat terkejut oleh suara Alex.
"Kak Julian!"