In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 32



Hari pertunangan semakin dekat, Stefani pergi ke pusat pembelanjaan untuk membeli beberapa barang. Ia memutuskan hanya pergi sendiri. Stefani mengira dirinya hanya membeli beberapa barang nyata banyak sekali godaan di tempat itu membuat beberapa barang menjadi begitu banyak barang. Kedua tangannya lbih dengan paperbag.


"Jika aku tahu akan seperti ini, tadi aku akan mengajak mama," gerutu Stefani. "Sekarang siapa yang akan membantuku?"


Sibuk dengan barang belanjaannya Stefani tak mengetahui ada dua orang pria sedang memperhatikan. Mereka adalah Julian dan Chris.


Julian dan Chris, berada di tempat yang sama. Mereka baru saja bertemu dengan clien. Saat akan pergi Julian melihat Stefani sedang membawa begitu banyak belanjaan. Julian tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya. Julian menghampiri Stefani dan meminta Chris untuk kembali ke kantor terlebih dahulu.


Julian berjalan sambil terus melihat ke arah Stefani yang sedang kesulitan membawa belanjaan.


"Apa kau pikir kau punya begitu banyak tangan? Kenapa membawa begitu banyak barang?" Julian mengambil alih sebagian paper bag di tangan Stefani.


Stefani terkejut, tetapi ia senang ada yang membantunya.


"Ah, terimakasih banyak. Akhirnya tanganku bisa beristirahat." Stefani napas panjang.


"Apa saja yang kau beli? Kenapa begitu banyak membeli barang? Kau bisa membuat adikku bangkrut, kalau kau setiap hari belanja sebanyak ini," ledek Julian.


"Tidak masalah, aku punya dua kakak ipar yang sangat kaya raya," jawab Stefani santai. "Antoni dan tentunya kau juga."


Julian menaikan satu alisnya memandu Stefani yang sedang menaik turunkan kedua alisnya.


"Jangan pernah bermimpi aku akan mengeluarkan uang untuk kau habiskan," ucap Julian.


"Ayolah, aku hanya tidak ingin tampil biasa saja di hari pertunanganku lusa. Lagi pula kau jangan terlalu pelit. Alex pernah mengatakan hartamu tak akan habis sampai tujuh turunan," ucap Stefani.


Julian berhenti sejenak, berbalik memandang Stefani dengan senyuman liciknya.


"Kalau begitu, menikahlah denganku. Maka akan aku berikan apapun yang kamu mau, termasuk seluruh hartaku," ucap Julian.


"Huh, dasar pria menyebalkan! Jangan menggodaku! Aku ini calon adik iparmu," gerutu Stefani membuat Julian tertawa kecil.


"Baiklah sekarang katakan, di mana mobilmu. Aku akan mengantarmu pulang?" tanya Julian.


"Tidak ada mobil. Aku datang ke sini naik taksi," jawab Stefani.


"Apa Alex tidak menjemputmu?" tanya Julian.


Stefani mendesah kecewa sembari berkata, "Dia sedang berkencan dengan Bobi."


Julian melebarkan matanya mendengar jawaban Stefani. "Kau bergurau, Stefy.''


Stefani tertawa, ie merasa geli sendiri setiap kali menggoda Alex dengan Bobi.


"Tadi Alex menghubungiku katanya di harus pergi bertemu klien penting. Jadi … Alex tidak bisa menjemputku," ucap Stefani.


"Baiklah. Aku yang akan mengantarmu pulang. Tunggu sebentar aku akan menghubungi Chris untuk membawakan mobil," ucap Julian.


"Ah tidak. Aku tidak mau merepotkanmu," tolak Stefani


"Tidak merepotkan. Bukankah kau calon adik iparku," ucap Julian.


"Baiklah, jika kau memaksa," ucap Stefani dengan tawanya. "Sekalian aku ingin memperkenalkanmu kepada kedua orang tuaku. Mereka belum pernah bertemu denganmu."


Keduanya berjalan ke lobi. Mereka menunggu sejenak. Tidak lama seseorang datang menghampiri Julian dan memeberikan kunci mobil.


"Ayo Stefani," ajak Julian.


Stefani mengangguk lalu mengikuti Julian masuk ke mobil berwarna hitam. Sepanjang perjalanan yifak ada yang bersuara. Suasana begitu hening padahal di luar suasana begitu ramai. Lama tak bertemu membuat mereka merasa canggung mengingat apa yang pernah terjadi di antara mereka.


Stefani menarik napasnya dan berinisiatif untuk bicara. Ia ingin mereka kecanggungan yang sedang menyelimuti dirinya.


"Bisa kau ceritakan tentang Alex sedikit saja?" Stefani membuka obrolan.


Julian menoleh sekilas ke arah Stefani.


"Apa kau belum tahu apapun tentang Alex? Bukankah kwu dan Alex sifah lebih dari setahun berhubungan?"


"Baiklah." Julian mengemudi sambil bercerita tentang Alex.


Julian menceritakan soal Alex kecil. Alex begitu manja padanya ketimbang kepada Antoni. Setiap kali Antoni memarahinya, Alex akan berlari padanya dan meminta coklat. Alhasil uang di tabungannya selalu berkurang untuk membelikan Alex coklat. Bukan hanya itu saja, sampai saat ini ketika Alex menginginkan sesuatu dan apapun yang ia butuhkan Alex akan meminta padanya.


Keduanya tidak bisa menahan tawa mereka mengenai Alex kecil. Julian tidak menyangka kalau Alex kecilnya sudah dewasa. Julian berduga Stefani lah yang mengubahnya, tetapi menurut Stefani sebaliknya, Alex yang telah merubah hidupnya.


Dari obrolan itu, Stefani mulai menyadari sesuatu. Pantas saja Alex begitu membanggakan pria di hadapannya saat ini.


Saat keduanya sedang larut dalam obrolan mereka, tiba-tiba ada suara keras dari belakang mobilnya. Julian dan Stefani terkhir. Keduanya menoleh kebelakang, alangkah terkejutnya ada mobil hitam yang sengaja menabrak bagian belakang mobilnya. Bukan sekali, tetapi berulang kali.


"Siapa mereka? Apa mereka sudah gila?" maki Stefani.


Julian memerhatikan mobil di belakangnya. Matanya melebar ketika melihat ada lambang naga merah di kaca spion mobil itu.


"Oh, ****!"


Julian menambah laku kecepatan mobilnya membuat Stefani terkejut. .


"Julian, ada apa? Dan … siapa mereka?" tanya Stefani.


"Yang jelas bukan orang baik," jawab Julian.


"Apa yang sebenarnya mereka mau?" tanya Stefani dengan gemetar.


"Nyawaku!" jawab Julian.


Bukan cuma satu, kini ada dua mobil yang yang mengejarnya. Susana semakin menegangkan ketika kedua mobil itu menghimpit dari dua sisi. Satu persatu mobil itu bergantian menabrak mobil Julian dari samping.


Stefani menjerit, ia menutup telinga dan juga matanya tak berani melihat maupun mendengar apapun.


"Jangan takut dan tetap tenang." Julian meraih tangan Stefani lalu menggenggamnya.


Stefani membuka matanya lalu mengangguk. Ia percaya kepada Julian meskipun tak yakin seratus persen kepada Julian.


Julian membuka dashboard mobilnya ada dua senjata api di sana. Hal itu membuat Stefani melebarkan matanya.


Julian membuka kaca mobil di sebelahnya lalu mengarahkan senjata api itu ke salah mobil di sampingnya. Dengan dua kali tembakan, Julian berhasil menembak ban belakang mobil disampingnya. Ban mobil pecah membuat mobil itu kehilangan kendali dan memutar menabrak mobil lainya.


Stefan tersenyum miring dia tak mau kalah. Diambilnya satu senjata api di dashboard yang ada di hadapannya.


"Apa yang mau kau lakukan dengan benda itu?" tanya Julian.


"Bermain-main sepertimu," jawab Stefani.


Stefani menurunkan kaca di sebelahnya dan dengan sekali tembak, Stefani berhasil meledakan ban mobil di sampingnya. Mobil berlambang naga merah di sebelahnya berputar-putar menabrak beberapa kendaraan lalu keluar jalur dan mobil itu meledak.


"Wow! Aku terkesan, Stefani. Alex yang mengajarimu?" tanya Julian.


"Tentu, dia guru yang terbaik," jawab Stefani.


Julian dan Stefani bernafas lega, tidak ada mobil yang mengikutinya. Namun, ketenangan mereka hanya sementara, sekarang bukan hanya mobil tetapi beberapa motor juga mengejar mereka. Tembakan di arahkan ke mobilnya. Beruntung Julian masih bisa menghindarinya.


Julian mengarahkan mobilnya memasuki jalan sepi keluar dari perkotaan untuk menghindari keramaian. Sepanjang perjalanan, para pengendara motor dan mobil terus saja melesatkan tembakan ke arah mobil Julian. Dan sialnya ban mobil yang dikendarai Julian terkena tembakan. Dengan sedikit memaksa, Julian tetap melajukan mobilnya, sampai akhirnya mereka sampai di jalan yang tidak bisa dilalui oleh mobil.


Julian dan Stefani keluar dari mobil. Pria itu menggengam tangan Stefani membawanya berlari ke dalam hutan. Orang-orang yang mengikuti mereka mengejar sampai ke dalam hutan. Tembakan selalu saja di arahkan kepada Julian dan Stefani, bersyukur mereka masih bisa menghindarinya.


"Julian! Cukup, aku lelah. Aku tak kuat untuk berlari lagi." Nafas Stefani tersengal-sengal.


"Tidak bisa Stefani. Jika mereka menemukan kita, tamatlah riwayat kita berdua," bujuk Julian.


"Cari mereka sampai dapat! Kalau tidak kita yang akan dihabisi oleh bos."


Suara menggelegar itu membuat Stefani dan Julian terkejut. Itu artinya orang-orang yang mengejar mereka sudah semakin dekat.


Tubuh Stefani bergetar dan itu di rasakan oleh Julian. Pria itu menoleh ke sekeliling ada baru besar tak jauh dari tempat mereka. Julian langsung membawa Stefani bersembunyi di tempat itu.