In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 24



Stefani baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian barunya. Dress berwarna hitam yang menampakkan lekuk tubuhnya, bagian tas terbukanya menampakkan salah satu pundaknya, panjangnya di atas lutut, ada belahan pendek di sebelah kirinya.


"Olive, bagaimana menurutmu?" tanya Stefani. "Olive?" Keningnya mengerut saat tak melihat keberadaan Olive.


"Mungkin dia sudah keluar," ucapnya dalam hati.


Awalnya Stefani juga berniat untuk keluar dari ruangan itu, tetapi rasa penasaran akan tempat itu membuatnya mengurungkan niatnya. Stefani berjalan di kamar itu sambil melihat sekelilingnya. Di sudut ruangan ada pintu pintu kaca yang cukup besar. Stefani mengira itu adalah pintu sebuah lemari. Pintu itu dibuka oleh Stefani dengan cara menggesernya. Ternyata itu bukan lemari.


"Wow!" Stefani terpukau saat tahu pintu itu penghubung kamar dengan ruangan seperti sebuah ruangan ganti. Ada berbagai model sepatu dan juga alat make up. Bukan hanya itu saja masih ada banyak baju di ruangan itu.


"Siapa pemilik dari semua barang ini?" Stefani bertanya di dalam hatinya.


Stefani berbalik dan ingin segera pergi dari ruangan itu, tetapi ternyata masalahnya lebih dulu datang. Saat ia berbalik Julian sudah ada di hadapannya. Stefani terkejut dan berteriak, namun mulutnya langsung dibungkam oleh Julian dengan cara menciumnya.


"Apa yang kau lakukan?" Stefani mendorong Julian menjauh darinya lalu mengusap bibirnya secara kasar.


Tak berpikir lagi Stefani langsung pergi, tetapi terhenti saat Julian menunjukan kunci kamar itu ada padanya.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini sebelum aku menginginkannya," ujar Julian.


"Kau!" Stefani berlari ke arah Julian untuk merebut kunci itu tetapi tidak berhasil.


Gerakan Stefani langsung terhenti saat Julian menarik pinggang Stefani. Kini tak ada jarak lagi di antara keduanya hanya terpisah oleh kain yang menempel di tubuh Stefani.


"Lepaskan aku atau aku akan berteriak!" ancam Stefani.


"Berteriaklah sekencang-kencangnya! Tetapi kau harus tahu tempat ini kedap suara," ungkap Julian.


"Apa?" Stefani membulatkan matanya.


Tidak ada cara lain kecuali merebut kunci itu. Akan tetapi seberapa keras usahanya tetap saja tidak berhasil. Julian justru mengangkat Stefani membawanya ke atas tempat tidur lalu melempar Stefani ke atas ranjang.


"Jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!" ancam Stefani.


Julian tak memperdulikan ancaman Stefani. Ia melepas ikat pinggangnya dan naik ke atas tempat tidur. Ia mengunci pergerakan Stefani dengan menempatkan dirinya di atas Stefani.


Stefani memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Julian dari dekat. Jantungnya juga berdegup kencang bukan karena merasa takut seperti dulu. Perasaan yang ia rasakan saat itu lebih ke rasa canggung.


"Kenapa kau merasakan malu? Bukankah sedari tadi kau selalu mencuri-curi kesempatan untuk melihatku?" goda Julian.


"Bagaimana dia tahu?" batin Stefani.


"Sekarang aku memberimu kesempatan untuk bisa secara langsung melihatku. Sekarang lihatlah aku sepuasmu." Julian memalingkan walau Stefani memaksanya untuk melihat ke arahnya.


Seberapapun keras Stefani menolaknya tetap saja ia kalah. Pandangannya kembali dipertemukan dengan bola mata hazel juga wajah tampan yang Julian miliki.


Hening mengambil alih susana di antara keduanya. Tak ada yang bicara satu kata pun, tak ada juga yang berniat untuk memutus pertemuan pandangan itu.


"Kau tahu seberapa aku sangat merindukan dirimu, Baby?"


"Heh, omong kosong!"


"Ini bukan sekedar omong kosong. Aku sangat merindukan dirimu. Kau membuatku gila saat kau pergi malam itu."


"Jika aku tak pergi malam itu mungkin aku yang akan menjadi gila."


Stefani mencoba mendorong Julian agar menjauh, tetapi justru Julian menyatukan tangannya dengan Stefani membuat Stefani makin tak bisa bergerak.


"Heh, kau pikir aku tak tahu saat keadaanmu setelah itu? Kau menjadi gila, bukan?"


"Kau!"


"Sttt, jangan bergerak Baby atau kau ingin aku kehilangan kendali tubuhku!"


Stefani diam seribu bahasa. Tak ada yang bisa ia lakukan saat itu kecuali diam.


"Bagus jadilah anak baik, Baby."


"Sampai kapan kita akan seperti ini?"


Mendengar kata puas membuat Stefani kembali merasakan takut. Ia takut Julian kembali memaksanya.


"Aku mohon jangan lakukan apapun lagi padaku. Kau sudah cukup menghancurkan hidupku malam itu?" mohon Stefani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Jika kau menurut padaku aku tak akan memaksamu seperti dulu," ucap Stefani.


Stefani mengangguk seperti seorang anak yang penurut.


"Bagus."


Stefani membulatkan matanya saat Julian makin mendekat ia ingin memberontak tetapi tak bisa pergerakannya benar-benar sudah dilumpuhkan oleh pria itu.


"Kau janji padaku tak akan berbuat macam-macam padaku," ucap Stefani.


"Aku ingat aku hanya ingin melihat wajamu dari dekat." Julian tersenyum seraya mengusap bibir Stefani juga mengusap sisi wajahnya. Julian juga mencium kening Stefani dengan jeda waktu yang lebih lama.


"Apa Kau tahu Baby ... aku benar-benar putus asa saat kau menghilang. Aku pikir tak akan bisa lagi melihatmu. Tapi … ternyata takdir berkata lain. Saat aku benar-benar putus asa kabar jika kau ada di rumah Antoni datang padaku. Pantas saja aku tak bisa mencarimu dengan mudah."


Stefani diam tak tahu bagaimana harus merespon perkataan Julian.


"Baby bukankah aneh? Kenapa kau harus bertemu dengan kedua saudaraku? Mungkin itu pertanda kita ditakdirkan untuk bersama."


"Jangan bermimpi!"


"Mungkin awalnya aku bermimpi! Tapi aku akan segera mewujudkan mimpi itu. Dulu salahku kenapa aku tak meninggalkan benihku dalam perutmu ini." Julian mengusap perut rata Stefani.


"Bersyukurlah itu tak terjadi atau aku akan melenyapkannya!"


"Ck, ck, ck, kau begitu menggemakan saat marah. Tapi apa kau yakin bisa melakukan itu? Bukankah kau mengagumi aku saat masih bayi."


"Kau … mengawasiku?" tanya Stefani.


"Ini rumahku. Di manapun kau berada aku akan bisa menemukanmu dengan mudah."


"Lepaskan aku! Kau tak tahu seberapa kejam aku sekarang."


"Aku tahu, Baby. Aku pernah melihat bagimana kau mematahkan tulang mantan kekasihmu juga para anak buahnya."


"Apa? Dari mana kau tahu?" tanya Stefani.


"Coba kau pikir?" suruh Julian.


Stefani berpikir keras untuk mencari tahu sendiri jawaban atas pertanyaannya. Ia mengingat kembali malam itu ada mobil yang ia kira milik Alex.


"Itu artinya kau berada di sana? Mobil di balik pohon itu?" tebak Stefani.


"Ya. Di saat aku menemukanmu bagaimana aku bisa melepaskanmu lagi," ucap Julian.


"Jangan katakan kau ada hubungannya dengan ledakan yang terjadi di sana?"


"Tebakanmu sangat tepat, Baby."


Keringat dingin muncul di kening Stefani. Ia baru tahu jika pria di hadapannya sangatlah kejam bahkan dengan tega melenyapkan nyawa orang.


"Kau sangat kejam!"


"Salahkan para pria bodoh itu. Berani sekali pria itu ingin menyentuh wanita milikku," ucap Julian.


"Aku bukan milikmu."


"Kau sudah menjadi milikku dari sejak malam itu."


"Aku tak mau! Lepaskan aku!"


"Tak akan! Sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau!"