In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 27



Alex terpaksa keluar dari rumah Julian karena saudaranya itu telah mengusirnya. Perasaannya sangat bimbang, dirinya juga tak tahu apa harus dilakukannya. Alex tak menduga jika dirinya dan Julian akan mencintai gadis yang sama.


Alex berteriak sebelum memutuskan kembali ke mobilnya. Alex masuk ke mobilnya duduk di hadapan kemudi. Ia menyalakan mobil dan ingin pergi. Namun pikirannya yang kacau membuat Alex tak bisa berkonsentrasi. Apapun yang akan dilakukan pada saat itu semuanya salah. Alex pun memukul gagang setir sembari berteriak.


Setelah amarahnya terlampiaskan Alex berdiam diri lalu menarik kuat rambutnya, napasnya juga menggebu-gebu, wajahnya menunjukkan jika dirinya frustrasi.


Di sisi lain Alex tidak rela jika ada pria lain yang menginginkan Stefani, dan di sisi lainnya juga Alex senang setelah sekian lama akhirnya Julian mau membuka hatinya untuk wanita lain. Alex menduga Julian masih teringat akan masalalunya, persaingan bisnis membuat kekasihnya terseret dan harus meregang nyawa di tangan musuhnya. Mungkin alasan itulah yang membuat Julian mengalah.


Alex kembali memukul gagang setir untuk melampiaskan kemarahannya. "Sial"


Lambat laun amarah yang menguasai Alex mereda. Alex menarik napasnya dalam-dalam untuk meredam sisa kekacauan dalam yang mengusai dirinya. Setelah merenung sejenak Alex meninggalkan tempat itu. Ia akan menemui Stefani detik itu juga.


Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah angin malam. Ia ingin segera sampai di rumah Stefani, Alex juga ingin mengetahui kebenarannya dari Stefani sendiri.


Mobil yang Alex kendarai berhenti di kediaman Stefani. Ia mengambil ponselnya. Ditatapnya layar ponsel itu dengan ragu. Namun Alex sudah tak tahan lagi. Ia mencari nomor ponsel Stefani lalu menekan tombol panggil.


Kening Alex mengerut saat Stefani langusng menerima panggilannya. Padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.


"Halo, Alex."


Suara Stefani terdengar merdu dari seberang panggilan.


"Ya, kau belum tidur?"


"Belum. Kau sendiri ada apa? Kenapa tiba-tiba menelponku tengah malam?"


"Sebernarnya … ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan." Alex menjawab dengan gugup.


"Bicaralah!" suruh Stefani.


"Ini penting. Aku tidak bisa mengatakannya melalui telepon. Jika kau tak keberatan keluarlah. Aku ada di depan rumahmu," ucap Alex.


"Kau di depan rumah?" Stefani beranjak dari tempat tidur. Ia membuka gorden. Benar saja dirinya melihat mobil Alex ada di depan rumahnya. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan turun."


"Baiklah." Alex mengakhiri sambungan telepon.


Jantung Alex tiba-tiba berdetak sangat kuat. Perasaannya menjadi sangat gelisah. Alex tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Stefani nantinya saat masa lalunya kembali diungkit.


"Ya Tuhan." Alex menarik napas berat lalu menyadarkan kepalanya pada punggung kursi dengan mata yang terpejam.


Beberapa saat menunggu Alex melihat Stefani keluar. Ia segera menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa Stefani.


"Maafkan aku sudah mengganggumu malam-malam," ucap Alex.


"Tak apa. Kebetulan aku juga belum tidur," ucap Stefani.


"Masuklah." Alex membukakan pintu mobil dari dalam.


Stefani pun masuk lalu duduk di sebelah Alex lalu mereka pun pergi. Tak berselang lama Alex menghentikan mobilnya. Ia juga mengajak Stefani untuk turun.


Stefani merasa ada yang aneh dari sikap Alex. Raut wajah pria itu menunjukkan ketegangan. Merasa penasaran Stefani pun turun mengikuti Alex.


Turun dari mobil Stefani mengedarkan pandangannya mencari sosok Alex. Ternyata pria itu berdiri di pagar pembatas mengadap ke sungai.


"Kenapa kita ke sini?" Stefani berdiri di samping Alex.


"Karena mungkin ini tempat yang cocok untuk kita bicara," jawab Alex.


"Aku ingin bertanya. Tapi … jawablah dengan jujur," ucap Alex tanpa melihat ke arah Stefani.


"Ada apa, Alex. Kau berbeda malam ini?" tanya Stefani.


Suasana menjadi gening. Taka ada yang bersuara termasuk Stefani.


"Kenapa diam?" tanya Alex.


"Sudah aku katakan sebelumnya, aku tak ingin membahas ini." Stefani menolak untuk menjawab.


"Tapi aku ingin —" Alex belum selesai bicara dan Stefani sudah memotongnya.


"Jangan paksa aku!" Stefani menjauh dari Alex. Namun baru beberapa langkah Stefani kembali berhenti manakala Alex bicara.


"Apa pria itu saudaraku? Julian? Apakah itu benar, Stefi?" ucap Alex.


Stefani pun berbalik menatap Alex dengan raut terkejut.


"Alex … kau …?" Stefani tak tahu lagi apa yang harus ia katakan.


"Diammu sudah menjadi jawab untukku, Stefi," ucap Alex.


Stefani berbalik berdiri membelakangi Alex seraya mengusap cairan bening yang menetes dari matanya.


"Kau tidak ingin tahu bagaimana aku mengetahui ini? Baiklah aku katakan." Alex menjeda ucapannya, ia berjalan menghampiri Stefani dan berdiri tepat di hadapan wanita itu. "Julian sendiri yang mengakuinya."


"Apa?" Stefani terkejut lalu melihat ke arah Alex. Penilaiannya terhadap Julian berubah, ternyata pria itu cukup berani mengakui perbuatan jahatnya.


"Dia mengatakan segalanya padaku, Stefi. Termasuk perasaannya terhadapmu," ucap Alex. "Dia mencintaimu."


"Omong kosong!" ucap Stefani. "Pria jahat seperti dia bagaimana bisa merasakan rasa cinta."


"Kau salah, Stefi. Julian pria yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Dan sekali dia jatuh cinta dia akan sangat mencintai wanita itu," ucap Alex.


"Berhentilah untuk terus membanggakan pria itu, Alex. Darahku mendidih setiap kali kau memujinya." Stefani berbalik, ia kembali ke pagar pembatas berdiri membelakangi Alex sembari mencengkram kuat pagar pembatas itu.


"Tapi, Stef —" Lagi-lagi ucapan Alex dipotong oleh Stefani.


"Apa kau datang ke sini hanya untuk membicarakannya!" Stefani menaikan volume bicaranya. "Kau akan membelanya karena dia itu saudaramu, hah?"


"Maafkan aku, Stefi. Bukan maksudku untuk membelanya. Aku hanya ingin kau memaafkan dia," ucap Alex lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Stefani.


"Memaafkannya, Alex?" Stefani tertawa getir mendengar ucapan Alex. "Kau tahu seberapa aku berjuang untuk melupakan masa lalu itu. Di saat aku mulai bisa menerima apa yang terjadi padaku, pria itu kembali datang dan yang lebih menyakitkan pria itu ternyata saudaramu."


Alex terdiam mendengar perkataan Stefani. Dirinya sangat sadar meminta maaf dari Stefani untuk Julian adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Stefani. Akan tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Alex, bukankah kau berjanji akan melenyapkan pria yang sudah melecehkan aku?" Stefani menatap Alex dengan kemarahannya. "Sekarang kau sudah mengetahuinya identitasnya."


Alex yang awalnya tengah menunduk langsung mendongak, menatap Stefani dengan rasa tak percaya.


"Kenapa? Kau ragu sekarang? Kau berniat mengingkari janjimu?" teriak Stefani.


Alex menggeleng dengan wajah yang tertunduk. Alex lalu mengeluarkan senjata api yang selalu ia simpan di balik pakaiannya.


"Aku tak bisa melakukannya meskipun Julian sudah menyuruhku." Alex menatap Stefani dalam-dalam. "Sebagai gantinya kau bisa melenyapkan aku."


Mata Stefani melebar manakala melihat senjata api yang Alex sodorkan.


Bagaimana bisa Alex melakukan hal itu. Stefani tak mengerti begitu besar rasa sayang Alex kepada Julian.


"Lakukan, Stefani!" Alex menarik tangan Stefani dan memberikan senjata api itu.


Stefani yang berada dalam kondisi marah mengarahkan senjata api itu ke arah Alex. Stefani mulai menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya, sedangkan Alex berjalan mundur dan berhenti beberapa meter di depan Stefani. Alex mengangkat kedua tangannya kemudian memejamkan kedua matanya. Ia pasrah jika dirinya mari di tangan wanita yang ia cintai.