In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 29



Sepulang dari kampus Stefani datang ke kediaman Alex. Setelah memikirkan semuanya dan atas saran dari Olive Stefani memutuskan untuk menerima cinta Alex.


Stefani melangkah sembari menarik lalu menghembuskan napasnya berulang-ulang. Ia mencoba memberikan keyakinan untuk dirinya sendiri. Sampai di dalam rumah Stefani bertanya kepada pelayan di sana tentang keberadaan Alex. Setelah mengetahuinya Stefani pun pergi. Ia berjalan ke samping rumah itu, ada tempat gym pribadi di sana.


Stefani berhenti sejenak saat melihat tempat gym juga ketika melihat Alex sedang berolahraga di tempat itu. Setelah merasa yakin, Stefani kembali berjalan.


"Hai, maaf jika aku mengganggu kalian," ucap Stefani.


Alex dan Bobi menoleh ke asal suara. Alex sedikit terkejut melihat keberadaan Stefani. Entahlah, tapi Alex merasa canggung setelah malam itu.


"Tak apa?" ucap Bobi. "Kau ada perlu apa!" tanya Bobi.


"Aku ingin bertemu dengan Alex." Stefani melihat ke arah Alex. "Alex, bisa kita bicara sebentar?" tanya Stefani.


Alex tersentak, lagi-lagi perasaan canggung itu datang.


"Baiklah, sepertinya ini hal yang serius. Sebaiknya aku tinggalkan kalian berdua.


"Aku pergi dulu. Bicaralah dengannya." Bobi menepuk pundak Alex seakan memberinya semangat.


Stefani terus melihat Bobi sampai bayangan Bobi lenyap dari pandangannya. Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi Stefani melihat ke arah Alex. Pandangan keduanya bertemu, tetapi tidak seperti biasanya ada rasa canggung di antara keduanya.


"Hai," sapa Alex.


"Hai juga," balas Stefani.


"Oh iya, apa yang membawamu ke sini?" tanya Alex.


"Aku tidak melihatmu beberapa hari ini di kampus? Aku memutuskan ke sini untuk melihat kondisimu, apa kau baik-baik saja atau tidak," jawab Stefani.


"Aku baik-baik, hanya sedang malas. Tapi bukan hanya itu, aku ada pekerjaan yang harus aku urus," ucap Alex. "Terima kasih sudah mencemaskan aku."


Keduanya kembali diam dan masih berdiri di tempat yang sama. Mereka tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukan.


"Ayo duduk sini." Alex mempersilahkan Stefani duduk di salah satu alat gym yang ada di dekat mereka, lalu memberikan Stefani minuman kaleng dingin.


"Alex," panggil Stefani.


"Ada apa?" tanya Alex seraya membuka minuman kalengnya.


"Sebenarnya ... aku ... datang ke sini ada yang mau aku bicarakan. Ini tentang hal yang kemarin kau katakan padaku," ucap Stefani.


Alex melihat Stefani sekilas ia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Stefani. Alex pun mengela napas lalu meletakkan minuman kaleng miliknya di lantai.


"Aku tidak akan memaksamu, Stefi. Dan ... maafkan aku sudah merusak pertemanan kita," ucap Alex dengan wajah yang tertunduk.


"Alex." Stefani meletakkan minuman kaleng, ia meraih tangan Alex lalu menggenggamnya. "Aku sudah memikirkannya dan menerimanya."


Alex mendongak mempertemukan pandangannya dengan Stefani. Matanya berkedip beberapa kali, mulutnya menganga seakan tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


"Kau bilang apa? Ulangi sekali lagi," pinta Alex.


"Aku menerimanya, Alex. Aku mau menjadi kekasihmu," ucap Stefani.


Alex tersenyum bahagia, reflek ia mengangkat Stefani dan memutar-mutar tubuhnya.


"Alex hentikan! Kau bisa membuatku jatuh," pinta Stefani.


"Tenang saja, aku tidak akan membuatmu jatuh," ucap Alex.


"Iya, tapi hentikan sekarang juga atau aku akan mematahkan kakimu," ancam Stefani.


"Ya Tuhan, kau mengerikan sekali." Alex menurunkan Stefani lalu menangkup kedua sisi wajah Stefani. "Kau tahu betapa bahagianya aku saat ini?"


Stefani merespon ucapan Alex dengan senyumnya.


””Terima kasih juga kau mau menerimaku yang sudah tak utuh lagi," ucap Stefani.


Tiba-tiba Stefani merasa ragu, ia menduga Alex menebus kesalahan Julian bukan karena mencintaimu.


"Alex, tapi ini bukan karena Julian, 'kan? Kau mencintaiku atau kau hanya ingin menebus kejahatan Julian?" tanya Stefani.


"Tidak, Stefi. Sebelum aku mengetahui semuanya aku sudah menyukaimu. Hanya saja aku merasa ragu untuk mengatakannya. Dan saat aku tahu segalanya itu tidak merubah apapun. Aku tetap menyukaimu," ungkap Alex. "Percayalah padaku, Stefani."


"Aku percaya padamu."


Tanpa Stefani duga Alex mencium bibirnya. Stefani terkejut dan ingin menjauh, tetapi Alex menahan tengkuk Stefani membuat Stefani tidak bisa berkutik.


"Alex, bagaimana jika ada yang melihat?" Stefani menoleh ke kanan kirinya berharap tidak ada yang melihat kejadian itu.


"I don't care," ucap Alex


Alex menarik pinggang Stefani mengikis jarak di antara mereka. Alex kembali menyatukan bibirnya dengan Stefani. Awalnya Stefani diam, ia masih canggung berciuman dengan Alex. Namun rasa nyaman mulai dirasakn oleh Stefani. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Alex kemudian membalas kecupan. Apa yang dilakukan oleh Stefani Alex membuat Alex merasa senang.


Stefani merasa sudah waktunya untuk memberikan sedikit kebahagiaan dirinya sendiri. Saat ada pria baik yang mau menerimanya kenapa harus ia sia-siakan.


****


Kabar perihal hubungan Alex dan Stefani sudah sampai ke telinga Antoni bahkan Julian. Semua bergembira mendengar kabar baik ini, inilah yang mereka tunggu-tunggu, tetapi tidak dengan Julian. Ia merasa kehilangan separuh nyawanya lagi.


Malam yang indah dengan taburan bintang tidak membuat Julian bahagia. Ia memilih untuk sendiri. Julian berdiri bersandar di pagar balkon dengan ditemani oleh wine kesukaannya.


Di belakangnya datang Chris yang merasa iba dengan keadaan bos-nya.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Chris.


"Berikan aku minuman lagi!" perintah Julian.


"Tapi ...." Ucapan Chris terhenti oleh sorot mata tajam Julian.


"Temani aku minum," ucap Chris.


Chris tertegun sesaat sebelum akhirnya ia mengiyakan akan Julian yang sama seperti perintah.


"Baiklah." Chris pergi ke mini bar untuk mengambil wine kesukaan Julian. Setelah itu ia kembali membawa wine dan gelas untuknya.


Chris lebih dulu menuang wine di gelas milik Julian kemudian untuk dirinya sendiri.


"Bagaimana menurutmu, apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan mereka?" tanya Julian tiba-tiba.


"Maksud Anda bertemu dengan tuan muda Alex dan nona Stefani?" tanya Balik Chris disambut anggukkan Julian.


"Haruskah aku melenyapkan Alex?" tanya Julian.


Chris terdiam terpaku dengan perkataan Julian. ia tidak tahu harus mengatakan apa. Chris takut jika dirinya salah bicara makan itu berakibat fatal untuk dirinya. Akan tetapi satu hal yang ia yakini Julian tak akan pernah menyakiti adik kesayangannya.


"Lupakan itu!" Julian mengela napas, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Chris.


Julian menghabiskan wine yang masih tersisa. Saat akan pergi ia melihat Alex sudah ada di depannya. Chris memilih untuk pergi tak ingin mengganggu kakak beradik itu.


"Kau tidak ingin menyambut saudaramu ini?" tanya Alex.


"Untuk apa menyambutmu? Kau bukan tamu di sini," jawab Julian sembari tersenyum masam. "Kemarilah!"


Alex menghampiri Julian dan memeluknya seperti biasa.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alex.


"Apa kau lihat aku sedang sakit?" tanya balik Alex. "Jangan banyak bicara! Ayo minum, kita rayakan untuk kebahagianmu dan Stefani."


"Baiklah," ucap Alex.