
Hari yang ditunggu Alex akhinya tiba di mana hari kebebasannya dari kampus. Saat wisuda ternyata Alex mendapat nilai terbaik di kampusnya. Stefani begitu gembira ternyata kekasih yang nampak seperti berandalan memiliki otak secerdas itu. Selain itu ada kejutan lain setelah malam itu dirinya kembali dipertemukan dengan Julian yang ternyata pria itu adalah donatur terbesar di Universitas itu.
Setelah acara selesai Stefani menghampiri Alex untuk mengucapkan selamat.
"Alex, selamat." Stefani memeluk Alex.
"Terima kasih. Sayang." Alex mengucapakan kata sayang dengan cara berbisik. Hal itu membuat Stefani salah tingkah.
Saat keduannya sedang berbincang Antoni datang bersama Alice. Mereka pun mengobrol bersama. Tiba-tiba Stefani teringat sesuatu. Ia pun meminta izin untuk pergi sebentar.
Stefani berjalan di koridor kampus. Ia mencari seseorang yaitu Julian. Cukup lama Stefani berkeliling pada akhirnya ia menemukan Julian di parkiran mobil. Stefani berlari secepat mungkin untuk mencegah Julian pergi.
"Tunggu!" Stefani mencegah Julian masuk ke dalam mobil.
Julian dan Chris menoleh ke arah Stefani. Mereka terkejut dengan kedatangan Stefani secara tiba-tiba.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Stefani.
Julian tidak langsung merespon. Ia masih tak percaya Stefani mengajaknya bicara.
"Kau mendengarku?" tanya Stefani.
"Ya, aku mendengarmu. Silahkan bicara," ucap Julian.
"Berdua." Stefani melirik ke arah Chris.
Mengerti arti tatapan Stefani, Julian menyuruh Chris untuk menyingkir sejenak.
"Ada apa? Apa kau memiliki keluhan lagi padaku?" tanya Julian tanpa basa basi.
"Tidak ada. Aku hanya ingin .... " Stefani menjeda ucapannya kemudian menatap Julian sembari menarik napas dalam-dalam. "Bisa kita berdamai?"
"Apa? Apa aku tidak salah mendengar? Kau mengajakku berdamai?" tanya Julian.
"Tidak, kau tidak salah mendengarnya," jawab Stefani.
"Apa alasanmu memutus untuk berdamai denganku?" Julian bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Stefani.
"Aku hanya sudah lelah. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri dan memutuskan untuk melupakan semuanya," jawab Stefani. "Selain itu … aku merasa saat aku ingin jauh darimu ada saja hal yang membuat aku semakin dekat denganmu."
"Benarkah begitu?" tanya lagi Julian.
"Ya." Stefani mengangguk. "Contohnya saat ini, aku memiliki hubungan dengan Alex, adikmu. Aku merasa tidak pantas jika kita bermusuhan."
"Jadi … ayo kita berdamai." Stefani mengulurkan tangannya ke arah bukan.
Julian memandang sejenak uluran tangan Stefani kemudian tersenyum sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Stefani.
"Baiklah, ayo berdamai," ucap Julian. "Oh iya selamat untuk hubunganmu dengan Alex."
"Thank you, Kakak ipar." Stefani menarik tangannya lebih dulu.
"Kau memanggilku apa tadi?" Kening Julian mengernyit.
"Apa pendengaranmu bermasalah?" ejek Stefani disambut tatapan tajam oleh Julian. "Jangan menatapku seperti itu. Kau menakutkan."
"Heh, telingaku terasa gatal saat kau memanggilku kakak ipar." Julian tersenyum tipis. "Aku lebih suka kau memanggilku dengan sebutan … babe." Julian berbisik di dekat telinga Stefani.
Stefani membulatkan matanya ketika mendengar perkataan Julian.
"Huh, dasar menyebalkan! Kita baru saja berdamai dan kau sudah mulai mengajakku berperang." Stefani menghentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Julian.
Julian sendiri masih berdiri di tempat yang sama memandang Stefani dengan senyuman penuh arti. Saat bayangan Stefani lenyap dari pandangannya, Julian masuk ke mobil dan pergi dari tempat itu.
Stefani sendiri duduk sambil memakan daging yang Alex hidangkan. Tak sengaja pandangannya bertemu dengan Julian. Keduannya saling berbalas senyuman.
Cukup lama mereka saling pandang dan saling bicara dengan bahasa isyarat. Perhatian mereka pun terhenti saat Alex menyalakan kembang api. Pandangan semua orang tertuju kepada kembang api tersebut. Dengan cepat kembang api itu muncur ke atas dan meledak di udara menjadi serpihan bercahaya yang nampak indah.
"Bersulang untuk keberhasilan Alex," ucap Antoni.
Semua mengangkat minuman mereka lalu kembali memberikan ucapan selamat kepada Alex.
*****
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa hubungan Alex dan Stefani sudah berjalan satu tahun. Mereka pun sudah merencanakan sebuah pernikahan. Kabar itu sampai di telinga Julian. Perasaannya hanya bisa digambarkannya dengan senyuman. Jika boleh jujur, Julian masih memiliki perasaan yang sama terhadap Stefani. Namun apa bisa ia perbuat, rasa sayangnya untuk Alex lebih mendominasi. Terlebih Stefani lebih memilih Alex.
Tepat pukul 8 malam Julian kembali ke mansionnya setelah melakukan perjalanan bisnis. Kedatangannya disambut oleh kepala pelayanan.
"Selamat datang, Tuan muda. Ada Tuan muda Alex sedang menunggu Anda di dalam," ucap kepala pelayanan.
Julian mengangkat satu alisnya mendengar Alex berkunjung.
"Ada apa dia kemari." gumannya dalam hati.
Julian melangkah masuk ke dalam rumah. Tujuannya langsung ke belakang rumahnya. Di sana Julian melihat Alex duduk di dalam gasebo.
"Apa yang membawamu kemari, Alex?" tanya Julian.
"Tidak ada, hanya merindukanmu," jawab Alex dengan santai. "Kau punya cokelat?"
"Jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Sekarang kau sudah dewasa dan kau punya tanggung jawab lain," ucap Julian.
"Apa setelah aku menikah nanti aku ini sudah bukan adikmu lagi?" tanya Alex.
Julian merespon perkataan Alex dengan tawa kecil.
Julian tahu Alex memang begitu manja padanya daripada ke Antoni. Dari umur lima tahun, Julian menjaga Alex layaknya adiknya sendiri. Ibunya meninggal saat melahirkan Alex, mereka dititipkan oleh ayahnya ke panti asuhan karena tak bisa mengasuh mereka. Julian sendiri terlahir dari keluarga kaya, ia adalah anak tunggal. Kehidupannya berubah ketika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang ternyata disabotase oleh paman dan bibinya sendiri. Umur sepuluh tahun dia di titipkan di panti asuhan oleh paman dan bibinya. Di tempat itulahah Julian bertemu dengan Alex dan juga Antoni. Ketiga tumbuh dewasa bersama di sana.
Saat dewasa Julian baru mengetahui harta peninggalan orang tuanya sudah di alihkan atas nama paman dan bibinya. Berkat bantuan seseorang Julian merebut kembali apa yang menjadi haknya. Dari harta itu Julian memulai bisnis bersama Antoni dan membuat mereka sukses.
"Kau mau minum?" tanya Julian.
"Tentu saja. Sudah lama kita tidak minum bersama," ucap Alex.
Julian beranjak dari gazebo untuk mengambil minuman. Setelah itu ia kembali dengan satu botol wine mahal dan juga dua gelas kristal berkaki. Julian menuang wine dan memberikan kepada Alex kemudian Julian menuang untuk dirinya sendiri.
Keduanya berbincang sembari menikmati wine mahal itu. Tidak jarang keduanya tertawa di sela obrolan.
"Boleh aku katakan sesuatu?" Alex berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari langit berwarna gelap.
"Katakan!" suruh Julian.
"Antoni sudah menikah dan sebentar lagi aku. Apa kau belum memiliki rencana untuk menikah?" tanya Alex.
Julian hanya merespon pertanyaan Lex dwngan mengangkat kedua bahunya.
"Jangan terlalu terjebak di masa lalu. Mungkin saja takdir Lucia memang seperti itu. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Carilah wanita untuk mendampingimu," ucap Alex.
Julian tersenyum tipis, lalu merangkul pundak Alex. "Kau sudah dewasa, Alex. Jangan lagi meminta coklat kepadaku."
"Enak saja. Seumur hidupku aku akan mengganggumu dengan cokelat," balas Alex.
Julian dan Alex tertawa bersama. Mesti tak ada hubungan darah, tetapi mereka tumbuh bersama, kasih sayang mereka tak bisa lagi di ragukan.