In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 15



Di tempat lain dan di waktu yang sama, Stefani sedang melakukan hal yang sama seperti Alex mengingat masa lalu kelamnya. Duduk dengan menekuk dan memeluk kedua lututnya, Stefani menangis lirih di balkon kamarnya, ketika mengingat kesuciannya direnggut paksa oleh pria asing.


Stefani ingin melupakan bayangan itu, tetapi semakin ingin melupakan semakin ia terus mengingatnya. Stefani menghapus air matanya lalu mengepalkan tangannya sambil mengumpat. Diirinya diliputi kemarahan yang besar terhadap Marco. Gara-gara mantan kekasihnya dirinya harus kehilangan mahkotanya.


"Tunggu saatnya, Marco! Kau pasti akan mendapat pembalasan dariku," guman Stefani.


Waktu sudah mulai gelap dan Stefani masih betah duduk di balkon sambil melihat pemandangan komplek rumah. Merasa bosan Stefani menghubungi Olive, mengajaknya untuk berjalan-jalan.


Stefani sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat bersama olive. Kaos berwarna putih ketat dan celana jean berwarna biru dengan panjang jauh di atas lutut menjadi pilihannya, rambut hitam panjangnya sengaja dibiarkan terurai. Stefani juga memoleskan sedikit make-up di wajahnya.


Selesai bersiap Stefani berpamitan kepada Maria. Ia pergi dengan menggunakan mobil. Tidak lama Stefani sampai salah satu tempat wisata, London eye. Ia ingin menikmati indahnya pemandangan malam dari tempat itu.


Ia keluar dari mobil sambil menunggu olive. Pandangannya menatap luas tempat itu, terasa sepi meskipun tempat itu sangat ramai. Stefani tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Awalnya ia mengira itu adalah Olive, tetapi ia melihat sepasang tangan kekar, itu tangan seorang pria.


"Apa kabar, Sayang. Aku pikir ini bukan kau. Aku sangat merindukan dirimu. Kau sangat berbeda sekarang."


Suara itu sangat familiar di telinga Stefani. Ternyata mantan kekasihnya yang sedang memeluknya. Stefani mengenggam telapak tangannya untuk menahan amarah. Ia merasa jijik disentuh oleh pria itu. Bisa saja dirinya mematahkan tangan Marco derik itu juga, tetapi Stefani tidak ingin membuat keributan di tempat itu.


"Lepaskan aku! Menjauhlah dariku!" ucap Stefani dengan lirih, tetapi penuh penekan.


"Aku tidak mau. Aku masih sangat merindukan dirimu. Tentunya kamu mengingat ada banyak kenangan kita di tempat ini," ucap Marco.


"Aku sudah mengubur semua kenangan itu, Marco. Sekarang lepaskan atau aku akan berteriak!" Stefani masih menahan amarahnya.


"Berteriaklah, aku jadi memiliki alasan untuk membungkam mulutmu. Aku sangat merindukan bibirmu ini. Rasanya sangat manis."


"Jauhkan tangan kotormu dariku!" Stefani menjauhkan tangan Marco yang ingin menyentuh wajahnya.


"Marco! Lepaskan Stefi!"


Marco dan Stefani menoleh ke asal suara. Olive menghampiri mereka dan langsung menjauhkan Marco dari Stefani.


"Menjauh dari Stefi!" Olive berdiri di antara Stefani dan Marco.


Sejenak Olive menatap Marco dengan tajam kemudian berbalik mengadap Stefani.


"Stefi, kenapa kau membiarkan laki-laki ini menyentuh dirimu? Jangan mengatakan jika kau masih memiliki perasaan terhadapnya?" Olive nampak sangat kesal.


"Kau pikir aku sudi. Ini di tempat umum, aku tidak ingin membuat keributan di tempat umum," ucapan Stefani.


"Diam kau, Olive! Jangan ikut campur urusanku dan mantan kekasihku ini," ucap Marco. "Jika kau masih ingin ikut campur, maka aku akan ...."


Marco menunjukkan pistol yang ia arahkan ke pinggang Olive. Melihat itu Stefani sangat terkejut, ia meminta Marco untuk melepaskan Olive.


"Kau!"


"Stttt, jangan berteriak atau temanmu ini akan kehilangan nyawanya," ancam Marco.


"Jangan dengarkan ancamannya, Stefi. Dia tidak akan mungkin membunuhku di tempat ramai seperti ini," ucapan Olive.


"Kau pikir aku belum berpengalaman, Olive?"


Melihat ekspresi Marco. Stefani sudah bisa menebak jika Marco sangat berpengalaman dalam hal itu.


"Lepaskan dia!" suruh Stefani.


"Dengan satu syarat," ucap Marco.


"Apa syaratnya?" Stefani menatap Marco dengan tajam.


"Ikut denganku. Kau akan bisa menghasilakan uang lagi untukku. Tentunya kau masih ingat yang aku lakukan sebelumnya padamu, bukan?" Marco tersenyum penuh kemenangan.


Stefani tahu maksud dari ucapan Marco. Mantan kekasihnya itu pasti berniat menjualnya lagi.


"Baiklah. Tapi lepaskan Olive. Biarkan dia pergi," ucap Stefani.


"Pergi kau sekarang! Jangan ikut campur urusanku dengan Stefi." Marco mendorong Olive ke samping dan menyimpan kembali pistol ke balik bajunya. "Kau, ayo ikut aku."


Marco menarik Stefani dan ingin membawanya pergi, tetapi Olive mencegahnya.


"Mau kau bawa ke mana Stefi?" Olive menghadang langkah Marco.


Laki-laki itu menggeram dan ingin kembali mengambil pistol, tetapi Stefani mencegahnya sebelum Marco melakuan itu.


"Olive, pulanglah. Aku akan baik-baik saja," ucap Stefani.


"Olive, dengarkan aku! Saat aku pulang nanti, aku akan menghubungimu, oke. Aku berjanji akan baik-baik saja," ucap Stefani.


Meskipun hati terasa berat Olive pun mengangguk dan menyingkir dari hadapan Marco.


"Aku akan mengajarimu saat aku pulang nanti," ucap Stefani.


"Jangan banyak bicara! Ayo cepat!"


"Aku bisa jalan sendiri. Jangan kau berani menyentuhku dengan tangan kotormu!" ucap Stefani.


"Jangan macan-macam atau aku akan melenyapkan dirimu," ancam Marco.


"Aku tidak akan macam-macam, kau tidak perlu mengancamku. Aku akan jalan di depanmu agar kau bisa mengawasiku. Sekarang tunjukkan di mana mobilmu!"


"Di sana."


Stefani berjalan menuju mobil Marco yang terparkir tidak jauh dari mobilnya. Setelah itu ia masuk dan pergi dari tempat itu bersama Marco.


Stefani tidak tahu akan dibawa ke mana dirinya, tetapi ia yakin Marco akan kembali menjualnya. Sepanjang perjalanan Stefani sangat santai sambil bermain dengan ponselnya. Ada perasaan takut, tetapi tidak ia tunjukkan. Stefani menutupi rasa takutnya dengan bermain dengan pobselnya. Sebenanya Stefani sedang berbalas pesan dengan Alex, ia memberi kabar kepada Alex bahwa Marco kembali berniat untuk menjualnya.


Stefani melihat waktu pada jam yang ada di ponselnya, waktu sudah berlalu sekitar satu jam. Ia merasa penasaran akan dibawa ke mana dirinya oleh Marco.


"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Stefani.


"Sudah terlewat," jawab Marco.


"Lalu kau akan membawaku ke mana?" Stefani melihat mobil itu melaju jauh dari pusat keramaian.


"Kau sangat tidak sabaran ya?" Marco menghentikan laju mobilnya.


"Kenapa berhenti?" Stefani melihat sekeliling. Tempat itu terasa sangat asing.


"Aku berniat untuk menjualmu. Tapi sebelum itu aku ingin menikmati tubuhmu lebih dulu. Dari dulu aku sangat menginginkan dirimu, tapi kau tidak pernah mau memberikannya. Sekarang aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," ucap Marco dengan menunjukkan wajah mesumnya.


"Kau!" Stefani ingin kabur dari Marco, tetapi Marco lebih dulu mengunci mobilnya.


"Aku bisa saja melakukan ini di mobil ini sekarang juga, tetapi tempat ini terlihat tidak nyaman. Jadi aku akan membawamu ke suatu tempat yang aku yakin kau akan menyukainya." Marco berniat mencium Stefani, tetapi justru ia mendapat sebuah tamparan.


Marco tidak marah, tetapi ia justru merasa puas.


"Kau galak sekali. Lihat saja kau akan luluh saat aku membuatmu serasa melayang sampai langit ke tujuh," ucap Marco diikuti tawanya.


Marco kembali melajukan mobilnya masih dengan tawanya. Ia merasa sangat bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


Stefani sendiri hanya bisa mengikuti MarcoMarco karena tidak mungkin baginya untuk kembali. Stefani juga tidak bisa mengatakan dengan jelas kepada Alex, tetapi gps di ponselnya terus menyala agar Alex bisa tahu keberadaannya.


Stefani maupun Marco tidak mengetahui jika ada mobil lain yang mengikuti mereka. Semenjak dari London eye mobil itu terus mengawasi mereka. Orang yang ada di dalam mobil itu terus mengawasi setiap pergerakan keduanyakeduanya, tetapi keduanya tidak menyadarinya.


Lama melakukan perjalanan di jalanan yang sunyi Mobil Marco berbelok masuk ke dalam gedung besar, seperti bekas pabrik yang sudah tidak terpakai.


"Ayo turun!" ajak Marco.


"Tempat apa ini?" tanya Stefani sambil melihat sekeliling sangat sepi dan terlihat menyeramkan.


"Di sini tempat yang tepat untuk kita menghabiskan malam bersama," jawab Marco.


"Heh, ini penghinaan. Apa kau tidak bisa menyewa tempat yang lebih baik dari ini?" Stefani tersenyum seolah sedang mengejek Marco.


"Dengar, Sayang. Di sini kau akan bebas untuk berteriak nanti." Marco kembali memperlihatkan wajah mesumnya.


Jika boleh jujur Stefani mulai merasa takut. Ia sengaja mengajak Marco berbincang di dalam mobil untuk mengulur waktu. Stefani belum merasa tenang sebelum melihat Alex datang.


Saat sedang bicara dengan Marco, pandangannya tidak sengaja melihat ada mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh tempat itu. Mobil itu bersembunyi di balik pohon besar. Stefani akhirnya bisa bernapas lega.


"Apa yang sedang kau lihat?" Marco mengikuti arah pandang Stefani.


Stefani terkejut, beruntung Marco tidak melihat keberadaan mobil itu. Warna mobil yang sama dengan gelapnya malam membuat keberadaan mobil itu tidak terlalu jelas.


"Ayo turun. Aku sudah tidak sabar ingin membuatmu berteriak." Marco menyuruh Stefani keluar dari mobil.


"Akan aku pastikan kau yang akan berteriak memohon ampun padaku, Marco," batin Stefani.