In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 20



Stefani masuk ke kamar mandi untuk menghindar dari Julian. Tidak lupa Ia juga mengunci pintunya untuk menghindari hal yang tidak ia inginkan. Stefani tidak tahu kemungkinan yang akan terjadi karena pria itu bisa cepat berubah.


Ia ingin mandi dengan cepat agar dirinya bisa segera pergi dari tempat itu. Akan tetapi niatnya berubah saat melihat bak mandi yang begitu besar. Stefani berjalan ke arah bathup kemudian mengisinya dengan air.


Ia duduk di tepi bak mandi menunggu sampai bak mandi terisi penuh. Stefani melihat sekeliling ada botol sabun di dekatnya berwarna putih yang menarik perhatian Stefani. Stefani mengambilnya lalu mencium wanginya.


"Sabun ini sangat harum."


Stefani menuang begitu banyak sabun ke bak mandi agar menciptakan busa yang begitu banyak.


"Aku habiskan saja sabun ini. Aku ingin melihat reasinya nanti." Stefani benar-benar menghabiskan sabuk itu tanpa sisa. Setelah itu membuang botol sabun ke tempat sampah tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Setelah bak dipenuhi oleh busa, Stefani menanggalkan pakaiannya lalu menceburkan diri ke bak mandi. Seketika busa itu menutupi tubuh Stefani sampai batas leher. Air hangat dan wangi dari sabun itu menenangkan tubuh dan pikirannya.


Sudah satu jam Stefani masih betah berendam di bak besar milik Julian. Ia tidak ingin mengakhiri ketenangan itu walapun tubuhnya sudah mulai kedinginan. Namun, suara ketukan pintu yang begitu keras berhasil mengganggunya.


"Baby, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau begitu lama di dalam sana? Kau tidak berniat untuk bunuh diri di rumahku, 'kan?"


Stefani mendengkus kesal karena Julian menganggu kesenangannya apalagi dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.


"Aku tidak akan melenyapkan hidupku sebelum aku membalas dendamku padamu," gumam Stefani.


Merasa kesenangannya sudah terganggu Stefani mengakhiri berendamnya. Stefani keluar dari bathup dan berjalan ke arah tempat mandi. Ia menyalahkan keran air untuk menghilangkan busa dari seluruh tubuhnya


Selesai dengan itu Stefani memakaikan handuk kimono ke tubuhnya kemudian keluar dari kamar mandi. Pandangannya langsung bertemu dengan Julian.


"Akhirnya kau keluar juga," ucap Julian.


"Kau mengganggu saja," ucap Stefani.


Stefani menggerutu tidak jelas karena masih tidak rela Julian sudah mengganggu kesenangannya.


Melihat penampilan Stefani saat itu membuat celananya mendadak sesak. Ada sesuatu yang mengeras di balik celananya membuat Julian merasakan sakit.


"Sial," umpat Julian dalam hati.


Segera Julian berbalik dan menjauh dari Stefani atau rasa sakitnya yang ia rasakan di antara kakinya akan bertambah.


"Pakaianmu sudah aku siapkan di atas tempat tidur. Cepat pakai bajumu! Jangan terlalu lama atau akan aku akan meninggalkankanmu,'' ucap Julian seraya melingkarkan jam tangan ke pergelangan tangannya.


"Iya, iya. Kenapa kau cerewet sekali," gerutu Stefani.


"Apa kau sengaja ingin berlama-lama di rumahku, ingin menginap lagi di rumahku, atau kau masih menginginkan yang lain?"


Stefani langsung melirik tajam ke arah Julian yang sedang menahan tawanya.


"Diam! Dasar mesum!"


Julian tertawa renyah merasa menang karena berhasil menggoda Stefani.


"Kau kenapa masih di sini, aku mau berganti baju. Cepat keluar dari kamar ini," usir Stefani.


"Memang kenapa? Kau tinggal ganti saja!" ucap Julian.


"Kau gila!"


"Ya memang aku gila karena dirimu, Stefi!"


"Apa?"


"Berhentilah berteriak, Baby. Apa lehermu tidak sakit terus berteriak seperti itu?"


"Cepat keluar!"


"Ayolah, Baby, untuk apa kau malu. Aku juga sudah melihat bahkan menikmati tubuhmu," ucap Julian tanpa rasa berdosa.


"Keluarlah, aku mohon!"


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Kau …." Stefani menggeram karena kesal kemudian mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sambil menundukkan wajahnya.


Melihat itu Julian menghampiri Stefani. Julian meraih dagu Stefani lalu mengangkat wajahnya, membuat pandangannya bertemu.


Stefani langsung mengalihkan pandangannya, tetapi Julian mencegahnya.


"Gantilah pakaianmu! Aku akan menunggumu di bawah." Julian tersenyum lembut, diusapnya sisi wajah Stefani sebelum keluar dari kamar itu.


Setelah Julian pergi Stefani buru-buru memakai pakaiannya. Sebuah dress berwarna broken white dan panjangnya sampai lututnya. Stefani merasa heran bagaimana Julian bisa tahu ukuran bajunya. Selesai dengan itu Stefani tidak langsung keluar dari kamar. Ada sesuatu yang menarik di ruangan itu bagi Stefani.


Stefani memandang lekat foto Julian yang terpajang di dinding. Sangat tampan, senyumnya bahkan begitu membuat Stefani merasa tenang. Sangat berbeda waktu pertama kali mereka berjumpa. Apa mungkin karena rasa takut membuat Stefani tidak menyadari betapa tampannya seorang Julian.


Stefani menoleh, ia tidak ingin berlama-lama menatap wajah Julian di dalam foto itu.


"Ya Tuhan kenapa Kau pertemukan aku lagi dengan dia?"


Stefani memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Saat keluar kamar ia bingung harus pergi ke arah mana. Beruntung ada seorang wanita berpakaian pelayanan datang menghampirinya.


"Selamat pagi, Nona," ucapnya.


"Selamat pagi," balas Stefani. "Di mana pria sialan itu?" tanya Stefani.


"Pria sialan?" Pelayan itu nampak kebingungan tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Stefani.


"Oh, tuan. Tuan Julian sudah menunggu Anda untuk sarapan bersama. Mari, saya akan mengantar Anda," ucap pelayan itu.


Di sisi lain rumah itu Julian sedang berada di gazebo yang ada di samping rumahnya menikmati segelas wine dengan harga fantastis.


Pandangannya menatap Air terjun buatan di dekatnya. Meskipun Julian terlihat tenang, tetapi pikirannya dipenuhi oleh banyak hal terutama Stefani.


Semenjak Stefani menghilang dulu Julian merasa frustrasi. Ia mencari wanita itu di manapun, tetapi tidak menemukannya. Sampai Tuhan berbaik hati padanya salah satu anak buahnya tidak sengaja melihat keberadaan Stefani di rumah Antoni. Pantas saja Stefani tidak bisa ia temukan dengan mudah, Antoni jelas sangat melindungi Stefani.


Semenjak saat itu diam-diam Julian menyuruh salah satu anak buahnya mengawasi Stefani, tepatnya melindungi perempuan itu tanpa ada siapapun yang tahu termasuk Alex dan Antoni.


Saat ia tahu Marco berniat buruk pada Stefani membuat Julian tidak bisa menahan diri. Julian murka, tanpa berpikir panjang Julian menyingkirkan Marco dan anak buahnya dari muka bumi untuk selamanya. Ledakan hebat yang terjadi pada gedung tua milik keluarga Marco adalah ulahnya.


Julian merasa senang bertemu kembali dengan Stefani, tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bagaimana reaksi saudaranya saat tahu apa yang sudah ia lakukan kepada Stefani.


"Maaf, Tuan saya menganggu Anda. Nona Stefani sudah di sini."


Ucapan pelayan rumahnya yang membuyarkan lamunan Julian.


"Baiklah, kau bisa pergi!" perintah Julian pada pelayan itu.


"Baik, Tuan."


Julian berbalik, ia membeku ketika melihat Stefani begitu anggun dengan dress yang ia pilihkan untuknya.


"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Stefani.


"Kau sangat cantik, Stefi," puji Julian.


"Terimakasih banyak untuk dres ini," ucap Stefani.


Keduanya masih berdiri di tempat yang sama. Julian masih memandangi Stefani membuat Stefani merasa canggung.


Julian juga langsung mengalihkan pandangannya. Jika terus menatap Stefani itu tidak baik untuk keselamatan jantungnya.


"Makanlah! Jangan sampai kau mati karena kelaparan di sini." Julian menarik kursi yang ada di dekatnya. Ia duduk tanpa memperdulikan keberadaan Stefani.


Stefani mendengkus karena kesal. Kenapa sikap pria di hadapannya cepat sekali berubah.


"Apa kau tidak merasa pegal berdiri terus?" ucap Julian dengan suaranya yang dingin. "Atau kau ingin duduk di atas pangkuanku?"


"Terima kasih untuk tawarannya."


Stefani menyeret kursi yang ada tepat di samping Julian. Jika saja dirinya tidak merasa lapar Stefani tidak sudi untuk duduk bersamanya. Stefani langsung menenggak satu gelas susu hingga habis setengah. Ia kembali meminum susu itu tanpa melihat tatapan Julian.


"Apa kau tidak takut aku meracunimu?"


Mendengar ucapan Julian membuat Stefani tersedak. Stefani buru-buru meletakkan susu ke atas meja lalu mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.


"Apa kau serius menaruh racun di susu ini?"


Tanpa menjawab, Julian meraih gelas yang ada di hadapan Stefani lalu menenggak susu yang masih tersisa.


"Kalau aku meracunimu maka kita akan mati bersama," jawab Julian dengan entengnya.


"Lihat, kita masih hidup. Itu artinya aku tidak menaruh racun di susu ini," ucap Julian.


"Lalu kenapa kau tadi mengatakan—"


"Aku hanya bertanya. Bukan berarti aku benar-benar menaruh racun, 'kan?"


"Kau?" Stefani menggeram, ia merasa percuma berdebat dengan Julian.


''Sial tingkahnya benar-benar menyebalkan," guman Stefani dalam hatinya.


"Maaf, aku hanya bercanda. Makanlah roti isi ini." Julian mendekatkan piring berisi roti isi ke hadapan Stefani.


Stefani mengambil roti isi dan melahap roti itu dengan cepat.


Dengan bertumpu pada kedua tangannya, Julian terus memperhatikan Stefani yang sedang menguyah makanannya dengan begitu cepat. Melihat itu bibir Julian melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Hai, pelan-pelan. Aku tidak akan merebutnya darimu," ucap Julian.


Stefani tidak memperdulikan ucapan Julian. Ia masih asik memakan semua makanan yang ada di hadapannya.


Julian mengukir senyum di bibirnya melihat tingkah Stefani. Gadis itu makan dengan tidak canggung. Tidak seperti wanita-wanita yang selama ini bersamanya, mereka selalu bersifat penuh dengan kepura-puraan.


Stefani melirik ke arah Julian. Ia kembali tersendak saat menyadari Julian sedang menatapnya. Julian ikut dibuat terkejut, dengan cepat Julian memberikan air putih kepada Stefani.


"Apa kau ini bayi yang baru belajar makan? Kenapa selalu tersedak?" Julian terus menepuk pelan pundak Stefani.


Stefani menarik napas panjang untuk menetralkan rasa sesak di dadanya. Ia kembali meminum air putih untuk meredakan rasa perih di tenggorokannya.


Setelah merasa lebih baik Stefani melihat ke arah Julian.


"Kenapa kau menatapku seperti tadi?" tanya Stefani.


"Kenapa? Aku hanya ingin menatapmu. Apa wajahku begitu manis sehingga membuatmu tersedak?" Julian mengerlingkan satu matanya untuk menggoda Stefani.


"Menyebalkan." Stefani berdiri, ia beranjak dari tempat duduknya, tetapi dengan cepat Julian menariknya membuat Stefani jatuh tepat di atas pangkuan Julian.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkanmu pergi, Baby."