
Julian keluar dari mobil, ia berjalan masuk ke rumah megah itu diikuti oleh Chris. Rencananya mereka akan mengantar pengantin baru Antoni dan Alice ke bandara. Keduanya disambut oleh para pelayan yang berdiri di depan pintu utama. Para pelayan itu menundukkan kepala mereka.
"Selamat datang, Tuan," sambut kepala pelayan di sana.
Sudah lama Julian tak berkunjung ke tempat itu. Julian sangat sibuk melakukan perjalanan bisnis dan jarang sekali pulang ke mansion pribadinya. Terakhir kali ia pulang di saat awal pertemuannya dengan Stefani.
Dari pertama Julian masuk ia bisa mendengar obrolan juga tawa banyak orang. Sampai di ruang tengah ternyata semuanya sudah berkumpul.
"Selamat pagi. Maafkan aku karena datang terlambat," ucap Julian.
"Tidak masalah penerbangan kami masih beberapa jam lagi," ucap Antoni seraya melihat waktu pada jam yang nekingkar di pergelangan tangannya.
"Kau sudah sarapan?" tanya Alice. "Kalau belum aku akan menyuruh pelayanan mempersiapkannya."
"Itu tidak perlu. Aku sudah saran." Julian duduk di sofa single di sebelah sofa yang Stefani dudukki.
Semuanya berkumpul di ruangan itu mengobrol dan juga bercanda. Akan tetapi tidak dengan Julian, ia hanya menjawab dengan singkat pertanyaan yang diajukan untuk dirinya. Julian lebih tertarik melihat Stefani.
Julian terus memerhatikan Stefani. Entah mengapa dari saat pertama kali mereka bertemu gadis itu sudah mencuri perhatiannya dan itu terjadi sampai detik itu.
Tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Keduanya saling memandang. Namun Stefani segera memutuskan pandangan itu saat Alex dan Olive bertanya padanya.
"Oh iya, Stefy apa kau sudah resmi berkencan dengan kakaku?" tanya Alex.
"Tentu saja. Lihat saja mereka pergi dan datang bersama," imbuh Olive.
"Jangan bergurau! Siapa yang berkencan? Apa kalian tidak tahu pria ini sudah menculiku?" Stefani melihat ke arah Julian. Tatapannya menunjukkan kebencian.
Pandangan Alex beralih Julian. Ia berpura terkejut kemudian tersenyum. "Kau menculiknya? Ck, kau pasti kerepotan membawa kucing liar ini."
"Alex. Tutup mulutmu!" Stefani melempar bantal sofa ke arah Alex membuat Alex tertawa.
"Ayolah, Stefy? Kakakku sangat tampan apa kau tidak tertarik sedikitpun padanya?" tanya Alex.
"Tidak sama sekali," jawab cepat Stefani.
"Ayolah, Alex, kau tahu kakakmu yang tampan ini selalu dikelilingi oleh wanita cantik dan seksi. Dia sama sekali bukan tipeku." Julian mengangkat satu kaki ke pangkuannya serta melipat kedua tangan di dada.
Ucapan Julian membuat Stefani makin kesal. Stefani menatap tajam ke arah Julian dibalas kedipan oleh Julian.
"Alex, kau begitu dekat dengan Stefy. Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya balik Julian kepada Alex.
"Aku masih sayang nyawaku. Banyak gadis yang selalu mengejarku. Dia bisa saja meremukkan tulang- tulangku atau bisa saja melenyapkanku jika dia melihat aku menghabiskan waktu bersama gadis lain." Alex bergidik ngeri membayangkan betapa liarnya Stefani saat perempuan itu sedang marah.
Mendengar pengakuan Alex, semua orang di dalam ruangan itu tertawa lepas. Stefani sangat kesal lalu memukul Alex dengan bantalan sofa.
"Jangan bergurau kau, Alex. Wanita yang mana? Aku tidak pernah melihatmu bersama seorang wanita. Setiap hari kau selalu bersama Boby," balas Stefani.
Boby yang sedang asik bermain game di ponselnya mendongak mendengar namanya disebut.
"Hei, kenapa kalian membawaku di dalam pertengkaran kalian?"
Alex meraih pundak Stefani lalu menariknya ke dadanya. "Enak saja, aku masih normal."
Semua orang tertawa termasuk juga dengan Julian. Pria itu mengukir senyum melihat kedekatan Alex dan Stefani. Namun tidak dipungkiri Julian juga merasa iri dengan kedekatan mereka.
"Ya Tuhan, maafkan kami. Ayo kita berangkat," ucapan Alex.
Semua orang masuk ke kendaraan masing-masing. Stefani yang awalnya ingin satu mobil dengan Alex ditarik oleh Olive dan membawanya ke mobil Julian. Stefani dengan keras menolak itu. Namun, Olive terus saja memaksa. Tidak ingin berdebat Stefani pun kembali satu mobil dengan Julian, tetapi bersama dengan Olive.
Stefani duduk di kursi belakang bersama dengan Julian, sedangkan Olive memilih untuk duduk di sebelah Chris. Olive sengaja melakukan itu agar Stefani bisa lebih dekat dengan Julian.
Perjalanannya menuju bandara cukup jauh. Stefani duduk di samping Julian. Ia memilih untuk diam sembari melihat ke luar. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang sedang mengobrol di sekitarnya.
Akan tetapi, diam-diam Stefani melihat Julian dari spion yang ada di dalam mobil. Ingatannya pun kembali ke masa lalu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Julian merenggut kesucian. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak, air matanya pun mulai memenuhi matanya. Pada saat itu juga Stefani rasanya ingin berteriak dan pergi menjauh dari Julian.
"Stefi, ada apa? Kenapa dari tadi kau hanya diam?" tanya Olive.
Perkataan Olive membuat lamunan Stefani menjadi buyar. Ia segera mengusap cairan bening yang ada di sudut matanya.
"Stefi, apa kau mendengarku?" Olive menoleh ke belakangan melihat Stefani.
"Aku mendengarmu. Aku tidak tuli," jawab Stefani.
"Lalu kenapa kau diam saja!" tanya Olive.
"Kau sudah merusak hariku. Aku marah padamu," jawab Stefani, tetapi justru membuat Olive, Julian, dan Chris tertawa.
"Tertawa saja sepuas kalian! Dasar menyebalkan!" Stefani memberengut dan kembali diam.
"Makanlah ini. Kau pasti akan merasa lebih baik." Julian memberikan coklat kepada Stefani.
"Wah, bukankah itu cokelat termahal? Aku mau." Olive mengambil cokelat itu dari tangan Julian. Dengan antusias Olive memakan cokelat itu.
Stefani membulatkan matanya melihat tingkah Olive. Ia menahan kesal melihat Olive yang tidak malu ataupun merasa canggung.
"Makanlah ini." Julian kembali menyodorkan cokelat ke Stefani.
Stefani melihat cokelat dan Julian secara bergantian. Ia merasa ragu untuk menerima apapun dari pria yang sangat ia benci.
"Aku tidak menaruh racun di cokelat ini," ucap Julian.
"Cokelat ini sangat enak. Jika kau tidak mau untuk aku saja," ucap Olive.
Stefani mengambil cokelat dari tangan Julian lebih dulu dari Olive. Ia pun memakannya tanpa melihat ke arah Julian. Stefani memakan cokelat itu dengan lahap. Ia percaya memakan cokelat bisa mengubah suasana hatinya yang buruk menjadi lebih baik.
Hampir dua jam mereka melakukan perjalanan. Akhirnya mereka sampai di bandara. Semua orang berkumpul di dekat privat jet. Rencananya Antoni dan Alice akan pergi ke negeri sakura untuk berbulan madu.
Setelah Antoni dan Alice masuk ke pesawat, Stefani dan yang lainnya keluar dari bandara. Stefani yang sudah tidak tahan berada dekat dengan Julian meminta Alex untuk mengantarnya pulang. Namun, ternyata Alex sudah memiliki rencana lain. Tanpa mengatakan kepada siapapun Alex dan Julian sudah mengatur acara makan malam.
Bisa saja Stefani menolaknya, tetapi Alex memohon membuat Stefani tidak enak untuk menolaknya.
Stefani melihat ke arah Julian. Tatapan mereka pun bertemu. Stefani bisa menebak dari tatapan Julian, pria itulah yang merencanakan semuanya.
Stefani menatap Julian penuh kebencian, ia juga mengepalkan telapak tangannya menahan amarah yang siap meledak.
"Jadi kau ingin bermain-main denganku? Baiklah aku akan meladenimu. Kita lihat seberapa kau berani," batin Stefani.