
Terus bersama orang yang dibenci pasti sangat menyakitkan. Seperti yang Stefani alami. Dirinya sudah merasa muak berada dekat dengan Julian. Namun sayang tubuhnya selalu mengkhianatinya.
Sampai di kediaman Julian Stefani bersikap tanpa reaksi apapun. Sekali lagi ia kembali ke rumah itu. Meskipun merasa muak tetap saja tidak menghilangkan kekaguman akan tempat itu. Semuanya tertata begitu rapi.
"Malam masih cukup lama. Silahkan kalian lakukan apapun di sini," ucap Julian.
"Kau mau ke mana?" tanya Alex saat melihat Julian pergi.
"Aku ada pekerjaan," jawab Julian. "Ayo Chris." Julian menjauh dan masuk ke sebuah ruangan dikuti oleh Chris.
Saat bayangan Julian menghilang dibalik pintu semua orang diam. Mereka tak tahu akan melakukan apapun di tempat itu.
"Ayo, aku perlihatkan bagian lain rumah ini." Alex melingkarkan tangannya di sepanjang pundak Stefani.
Mereka berkeliling di luar rumah. Stefani terkagum saat melihat taman belakang rumah itu. Meskipun sebelumnya dirinya pernah datang tetapi ia tidak melihat ada padang golf di tempat itu.
Ketika para sahabatnya tengah fokus melihat apapun di sekeliling mereka, Stefani masuk kembali ke dalam rumah. Keningnya mengerut melihat ada beberapa foto bayi yang sangat menggemaskan. Senyumnya mengembangkan melihat salah satu foto bayi berukuran besar. Bayi itu nampak begitu gemuk tersenyum menunjukkan gigi kelincinya.
Stefani pun berjalan mendekat ke foto itu. Matanya bersinar melihat foto malaikat kecil itu.
"Itu foto Kakakku. Katanya kepala pelayanan di sini foto itu diambil saat Julian masih berumur satu tahun," ucap Alex.
Stefani menoleh ia melihat Alex berjalan menghampirinya.
"Maksudmu ini foto Antoni?" tanya Stefani.
"Jelas bukan. Sangat tak mirip dengannya. Ini foto Julian. Sangat menggemaskan, bukan?" puji Alex.
Senyum yang awalnya mengembang di bibir Stefani meredup. Ia menggerutu dalam hatinya.
"Sial! Kenapa aku selalu mengagumi pria menyebalkan itu?" batin Stefani.
"Ayo, aku tunjukkan foto yang lain." Alex menarik Stefani ke sisi yang lain.
"Lihat foto kami bertiga saat kami masih usia remaja." Alex menunjuk sebuah foto besar di mana terpampang jelas foto dirinya bersama Antoni dan Julian. "Di sisi samping aku dan Antoni."
Stefani memerhatikan ketiganya, tetapi kenapa matanya justru terfokus pada Julian?
Stefani dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Kau tahu? Julian lebih muda dari Antoni. Tapi dia lebih bisa menjadi pemimpin. Dia juga memiliki daya tarik yang sangat kuat," puji Alex. "Jika kau tidak percaya terus pandang dia. Kau pasti akan—"
Alex belum menyelesaikan ucapanya, tetapi sudah dipotong oleh Stefani.
"Kenapa kau terus saja memuji pria itu? Kau memujinya seperti dia itu seorang malaikat." Stefani pergi dari tempat itu dengan rasa kesalnya.
"Kenapa reaksinya seperti itu? Apa salahku? Aku hanya memuji Julian?" Alex menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Stefi, ayolah! Ada apa denganmu." Alex menghadang langkah Stefani membuat Stefani berhenti. "Kenapa kau tiba-tiba marah?"
"Aku merasa muak kau terus memujinya. Jika pria itu begitu menarik, kenapa dia belum menikah?" tanya Stefani.
"Aku tak bisa memberi tahukan alasan. Tapi kau harus tahu, Julian tak akan menyentuh wanita sembarangan," ucap Alex.
"Apa kau pikir aku percaya?" tanya Stefani.
"Ya! Karena aku sangat mengenalnya!" jawab Alex.
"Apa kau tahu —" Stefani belum menyelesaikannya perkataannya dan sudah dipotong oleh Bobi.
"Ada apa? Aku melihat kalian berdebat?" tanya Bobi.
"Tak ada apa-apa." Stefani memilih pergi. Awalnya ia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Alex. Namun semua kata-katanya hilang saat Bobi datang.
"Ada apa?" tanya Bobi.
"Aku juga tak tahu. Aku hanya menuju Julian, tetapi …." Alex menjeda ucapannya. "Ah, lupakan saja. Ayo sebaiknya kita mulai menyiapkan untuk barbeque nanti."
Hari mulai gelap. Stefani yang awalnya merasa muak berada di tempat itu justru lebih antusias menyiapkan acara barbeque. Ia nampak sibuk menyiapkan semuanya.
"Kenapa tidak memanggilku untuk membantu kalian?"
Semua orang di tempat itu menoleh ke asal suara. Rupanya Julian sudah keluar dari persembunyiannya.
"Kami pikir kau sangat sibuk," ucap Alex.
"Stefi, kenapa kau begitu membencinya? Awas saja jika nanti kau jatuh hati padanya," ledek Olive.
"Tak akan!" balas Stefani.
"Berani bertaruh?" Olive mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Stefani penuh keyakinan. "Baiklah, jika aku menang kau harus menuruti apapun yang aku mau tanpa berpikir walaupun hanya satu detik," tantang Olive.
"Baik," balas Stefani.
Julian tersenyum melihat perdebatan Stefani dan Olive. Ia juga mengatakan secara terang-terangan mendukung Olive.
"Baiklah, ada yang bisa aku bantu di sini?" tanya Julian.
"Angkat pemanggang itu!" suruh Stefani.
"Stefani, kau keterlaluan. Bagaimana kau bisa melakukan itu?" Olive berbisik di dekat telinga Stefani.
"I don't care," ujar Stefani.
Bibir Julian melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Ia menggulung lengan kemejanya sampai batas siku. Kemudian mengangkat sendiri alat pemanggang itu dan meketakannya di hadapan Stefani.
Langit sudah berubah menjadi warna gelap dihiasi begitu banyak bintang. Acara barbeque pun terasa hangat. Banyak canda dan tawa. Stefani kembali terpaku dengan Julian. Pria itu nampak sangat berbeda dari waktu pertama kali mereka bertemu. Terkadang Stefani berpikir jika mereka dua pria yang berbeda. Akan tetap pria di dekatnya itu mengetahui semuanya.
Stefani menunduk membuang napas dalam-dalam mencoba menghilangkan keresahan dalam hatinya. Stefani berjalan di tepi kolam berenang. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Julian. Sialnya, pandangannya secara tidak sengaja bertemu dengan pria itu.
Stefani berdecak kesal saat Julian menggodanya. Ia menggerutu sambil berjalan mundur. Namun Stefani tak memerhatikan langkahnya. Ia pun tercebur ke kolam.
"Stefi!" teriak semua orang.
Bisa saja Stefani langsung menepi. Namun mendadak kakinya mengalami kram. Ia berusaha meminta tolong.
Sadar Stefani dalam masalah Alex berniat menceburkan diri untuk membantu Stefani. Namun ada orang lain yang mendahuluinya dan orang itu adalah Julian.
Julian membawanya ke tepi. Mereka keluar dari dalam air dibantu oleh semua orang.
"Stefani, kau tak apa?" tanya Olive.
Stefani yang masih terguncang hanya bisa merespon dengan gelengan kepala.
"Are you okay ?" Julian bertanya sembari menyampirkan handuk ke pundak Stefani.
Stefani terdiam mendengar suara Julian. Tatapannya langsung mengarah ke Julian menatap mata berwarna hazel membuat jantungnya berdegup cepat lebih cepat dari biasanya.
"Sebaiknya kalian berganti pakaian," ucap Alex.
Ucapan Alex membuat Stefani sadar. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ya itu benar," imbuh Julian. "Nona Olive bawalah nona Stefani untuk mengganti pakaiannya. Dia yang akan mengantar kalian." Julian menunjuk pelayan di dekatnya dengan dagunya.
"Baiklah. Ayo Stefi," ajak Olive.
Stefani berdiri dibantu oleh Julian. Ia berjalan sedikit tertatih meninggalkan tempat itu.
"Silahkan nona, ini kamarnya. Di lemari ini juga ada beberapa pakaian wanita yang masih baru. Anda bisa memilihnya," ucap pelayanan itu.
"Terimakasih banyak," ucap Stefani.
"Baiklah saya permisi dulu. Panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu," ucap pelayanan itu sebelum pergi.
Setelah pelayanan itu pergi Olive membuka lemari berukuran besar itu. Ia terperangkap melihat begitu banyak pakaian wanita dan semua itu masih baru.
"Apa kau tak merasa aneh? Ada begitu banyak pakaian wanita sini?" Stefani berjalan menghampiri Olive.
"Ya aneh sih? Aku penasaran siapa pemilik dari semua pakaian ini," ucap Olive. "Untuk apa peduli. Yang terpenting sekarang kau harus segera mengganti pakaianmu. Ini masih baru dan juga dari merek ternama."
"Ya, kau benar. Aku bisa mati kedinginan dengan pakaian basah ini," ucap Stefani.
Setelah memilah pakaian-pakaian itu, Stefani memilih dres pendek berwarna hitam.
"Aku akan memakai ini saja," ucap Stefani.
"Ya ini sangat bagus dan sepertinya pas di tubuhmu," imbuh Olive.