
Stefani keluar dari mobil menatap gedung di hadapannya dengan ragu. Sambil berjalan masuk Stefani menoleh ke sekelilingnya, dirinya merasa bingung kenapa Alex belum juga muncul.
Stefani terkejut saat Marco menariknya dan membawanya masuk ke dalam gedung.
"Semuanya, aku bawakan makanan lezat," ucap Marco.
Keterkejutan Stefani makin menjadi saat tahu Marco tidak sendiri di tempat itu. Ada sekitar lima pria lainnya di sana.
"Apa maksdunya ini, Marco?" Stefani merasakan adanya bahaya yang lebih besar.
"Aku selalu berbagi semuanya dengan mereka. Jadi ... menurutku tidak ada salahnya aku berbagi dirimu dengan mereka," ujar Marco.
Stefani melebarkan matanya dan juga kehabisan kesabarannya. Mengingat semua rasa bencinya terhadap Marco membuat keberanian yang tidak terduga dalam diri Stefani muncul.
Perempuan itu dengan gerakan cepat menarik pistol yang ada di balik baju Marco lalu mengarahkannya ke kepala Marco.
"Jangan mencoba untuk bermain-main denganku, Marco!" Stefani menatap Marco penuh kebencian.
"Kau sangat cantik saat sedang marah. Sekarang berikan itu. Jangan bermain-main dengan benda itu. Itu sangat berbahaya. Lebih baik kau bermain-main saja dengan kami." Tawa Marco dan teman-temannya menggema di seluruh ruangan.
Tawa itu tiba-tiba terhenti saat suara tembakan terdengar. Stefani yang merasa sudah kehabisan kesabaran, menembak salah satu kaki Marco.
"Arrrggghhh!" Marco berteriak merasakan rasa sakit di kakinya.
"Baiklah, ayo kita bermain-main." Stefani menunjukkan senyumnya.
Marco melihat senyuman Stefani, tetapi di balik senyuman itu terlihat seperti akan datangnya bahaya besar, sangat menakutkan. Akan tetapi Marco menunjukkan senyuman licik, ia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menunjukkan sebuah rekaman video. Di dalam video itu Stefani yang tengah mandi dan bertelanjang bulat terlihat.
"Bagaimana jika aku menunjukkan ini kepada dunia?" Marco tersenyum licik dan merasa menang.
"Bagaimana bisa kau memiliki video itu?" Stefani sangat terkejut melihat video itu.
"Aku mengambilnya secara diam-diam, Sayangku. Aku berpikir saat itu bisa aku gunakan untuk keuntunganku sendiri dan sekarang itu terbukti. Jika kau tidak menuruti maka aku akan menujukkan ini kepada dunia dalam waktu seke —"
Marco belum menyelesaikan ucapannya, tetapi ia lebih dulu dikejutkan dengan suara tembakan lagi. Ternyata Stefani menggunakan pistol di tangannya untuk menghancurkan ponsel yang ada di tangan Marco.
"Opps! Maaf." Stefani terlihat sangat puas. " Wow, kali ini aku bisa menembak tepat sasaran. Biasanya aku selalu meleset."
Marco terkejut melihat wajah menakutkan mantan kekasihnya, dia tidak menyangka Stefani yang dia anggap lemah dan bodoh olehnya, bisa memiliki keberanian seperti itu. Marco mencoba melangkah dengan satu kaki yang terluka, ia mencoba merebut kembali pistolnya, tetapi justru Stefani menembak kaki Marco yang lainnya membuat Marco tersungkur ke lantai, tepat di bawah kaki Stefani.
Melihat Marco terjatuh teman-temannya berniat maju, tetapi Stefani mengarahkan pistolnya ke arah mereka.
"Tetap di sana atau aku akan melakukan hal yang sama kepada kalian!" ancam Stefani yang membuat teman-temannya Marco membeku.
Stefani berjongkok tepat di hadapan Marco lalu mengarahkan pistolnya ke kepala Marco.
''Itu baru kaki, Marco. Aku bisa saja meledakan kepalamu sekarang juga. Tapi ... aku ingin menyiksamu terlebih dahulu," ucap Stefani diikuti senyum sinisnya.
Marco terlihat geram, ia menatap tajam ke arah Stefani lalu menyuruh teman-temannya untuk menyerang Stefani.
"Apa kalian takut dengan satu wanita saja?" teriak Marco.
Kelima pria itu maju untuk menyerang Stefani. Namun mereka dikejutkan dengan kedatangan Alex dan Bobi secara tiba-tiba di hadapan mereka.
"Hai, jangan jadi pecundang. Apa kalian tidak merasa malu akan menyerang satu wanita?" ucap Bobi dengan senyuman seolah sedang mengejek ke lima pria itu.
Tampa berpikir panjang Alex dan Bobi langsung menghajar kelima pria itu sampai babak belur. Melihat lima temannya terkapar Marco, memberi kode untuk memanggil anak buahnya. Lima pria datang menghadang Bobi dan Alex, tetapi tidak membuat Alex dan Bobi gentar. Mereka justru terlihat senang.
"Stefi, kau tidak ingin menunjukkan pada Bobi apa yang kau pelajari sewaktu kita berlibur?" tanya Alex.
Stefani, Alex, dan Bobi bersama-sama melumpuhkan anak buah Marco. Mereka tidak tahu, jika ada beberapa pasang mata sedang memperhatikan aksi mereka.
Setelah semua anak buah Marco terkapar, Stefani, Alex, dan Bobi menghampiri Marco.
Melihat itu Marco mencoba menghindar, ia mundur dengan menyeret kakinya.
"Marco, apa kau pikir aku masih Stefani yang dulu? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu begitu saja," ucap Stefy.
Stefani duduk menekuk satu lututnya di depan Marco dan mengarahkan pistolnya kembali ke wajah Marco.
"Aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak akan melenyapkanmu. Jangan pernah muncul dan menggangguku lagi. Jika kau masih mencoba melakukan itu tidak ada kata ampun lagi untukmu, Marco!" Stefani berdiri lalu mengajak Alex dan Bobi pergi.
"Kau melepaskannya begitu saja, Stefani?" Bobi merasa tidak percaya.
"Seharusnya kau ledakkan saja kepalanya," imbuh Alex.
"Tidak sekarang. Aku memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri," ucap Stefani. "Ayo pergi."
Ketiganya keluar dari gedung tua itu. Mereka berjalan menuju mobil Alex. Sampai di sana Stefani dibuat heran.
"Ada apa, Stefi? Kenapa kau tidak masuk?" tanya Alex.
"Apa ini mobilmu?" tanya Stefani.
"Ya, bukankah kau sering menaiki ini," jawab Alex. "Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung."
"Alex, sebelumnya aku melihat mobil berwarna hitam. Aku kira itu kau. Mobil itu ada di balik pohon ...." Stefani berhenti bicara saat mobil yang ia lihat sudah tidak ada di balik pohon besar tidak jauh dari mereka.
"Di mana mobilnya?" tanya Alex.
"Entahlah, aku sebelumnya melihat mobil itu ada di balik pohon itu. Tapi sekarang tidak ada," jawab Stefani.
"Hei, Stefi kau jangan bergurau. Saat kami datang tidak ada mobil lain di sini. Benar kan Alex?" ujar Bobi.
"Ya." Alex menganggukkan kepalanya.
"Kau jangan mencoba untuk menakuti kami," ucap Bobi diikuti tawanya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ayo kita pergi. Bukankan kita harus ikut mempersiapkan acara pernikahan Antoni dan Alice," ajak Alex.
"Baiklah, mungkin aku yang salah melihat." Stefani masuk ke mobil sambil melihat ke arah pohon itu. Ia merasa yakin mobil itu benar-benar ada.
Bobi melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Setelah cukup jauh mereka bertiga tiba-tiba dikejutkan oleh suara ledakan yang sangat keras. Bobi seketika menghentikan laju mobilnya. Ketiganya langsung keluar dari mobil. Dari tempat itu bisa melihat kobaran api yang sangat besar. Mereka terkejut melihat asal ledakan itu, gedung tua tempat mereka Marco dan anak buahnya.
"Bagaimana gedung itu bisa meledak tiba-tiba?" tanya Bobi. "Siapa yang melakukan itu?"
Alex dan Stefani menggelengkan kepala mereka bersamaan.
Dalam kebingungan, ada tiga mobil berwarna hitam melaju cepat di hadapan mereka. Stefani terus memerhatikan mobil-mobil itu begitu juga dengan Alex dan Bobi.
"Alex, itu sepertinya mobil yang aku lihat," ucap Stefani.
Alex sendiri masih memerhatikan mobil-mobil itu. Ia menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Alex merasa mengenali mobil-mobil itu.
Kira-kira siapa ya?