In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 21



Stefani masih bertemu pandang dengan Julian. Tatapan mata, senyumnya, dan wajah tampan Julian membuat Stefani terpesona. Sesaat ia tidak sadar dirinya sedang dikendalikan oleh Julian. Stefani bahkan membiarkan Julian mengusap bibirnya. Ketika Julian ingin mencium bibirnya, Stefani menghindarinya. Ia langsung beranjak dari pangkuan Julian.


"Aku sudah kenyang. Aku ingin pulang," ucap Stefani.


Stefani nampak sangat canggung, hatinya menjadi resah. Stefani merasa harus segera menjauh pria itu.


Dia sangat berbahagia!


"Aku ingin pulang. Jika kau tidak mau mengantarku, aku bisa pulang sendiri," ucap Stefani resah.


Julian mengabaikan ucapan Stefani. Ia justru memanggil seorang pelayan dan meminta sebuah kotak makanan. Beberapa menit kemudian seorang pelayan wanita kembali ke tempat itu untuk memberikan kotak makanan.


"Silahkan, Tuan."


"Terima kasih."


"Apa? Pria ini tahu artinya berterima kasih?" Stefani merasa terkejut dengan sikap Julian.


Stefani bertanya di dalam hatinya seraya memerhatikan Julian yang sedang memasukan sandwich ke dalam kotak makan. Wajahnya terlihat tenang membuat Stefani merasa terkesima.


"Sampai kapan kau akan terus memandangku?" tanya Julian.


Ucapan Julian membuat Stefani tersadar dari lamunanannya. Ia segera berpaling. "Kau tadi bicara apa?"


Julian berdiri dan beranjak dari meja makan. "Ayo berangkat kita bisa terlambat."


Stefy mengikuti Julian, ia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki Julian.


"Kita mau ke mana? Bukankah kau mau mengantarku pulang?" tanya Stefani.


"Ayolah, Baby. Kenapa kau terburu-buru? Aku belum puas bermain-main denganmu," goda Julian.


Stefani terlonjak lalu dengan cepat menarik tangan Julian dan mendorong tubuh kekar itu ke badan mobil.


"Jangan macam-macam denganku! Aku bisa saja melenyapkanmu sekarang juga," ancam Stefani.


Stefani memberikan tatapan mematikan kepada Julian, tetapi itu justru membuat Julian terkekeh.


"Kau sangat manis ketika marah, Baby?" Julian meraih pinggang Stefani untuk mengikis jarak di antara mereka.


Stefani yang terkejut langsung melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja Julian dan mencoba melepaskan kedua tangan Julian yang melingkar di pinggangnya.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu sekarang, Baby!" Julian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Stefani.


Stefani langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dan terus meronta di dekapan Julian. "Lepas, lepaskan aku!"


"Bagaimana jika aku tidak mau?" tolak Julian.


"Aku bilang, lepaskan!" teriak Stefani.


"Oke...oke!"


Julian perlahan mengendurkan tangannya yang melingkar di pinggang Stefani, lalu berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya.


Dari dalam mobil Julian melihat Stefani berdiri di luar. wajah gadis itu terlihat marah. Julian menghela napas sebelum membuka kaca mobilnya.


"Baby, kau masih ingin tetap di sini? Kau masih belum puas bermain bersamaku?" goda Julian. Julian menatap Stefani dengan tatapan nakalnya.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Itu sangat menjijikan," ujar Stefani.


"Karana aku menyukai tubuhmu," goda Julian lagi.


Stefani membelalakkan matanya mendengar perkataan Julian. Ia tidak punya pilihan lain selain ikut bersama laki-laki menyebalkan itu.


"Aku benar-benar akan melenyapkanmu. Dasar pria menyebalkan!"


Stefani masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya menghentakkan kakinya beberapa kali. Stefani membuka pintu dan duduk di kursi penumpang di sebelah Julian.


Julian tersenyum penuh kemenangan dan segera meminta Chris, asisten pribadinya untuk pergi.


Sepanjang perjalanan Stefani memandang ke luar mobil, melihat pemandangan di luar sana. Hatinya bergerumuh saat merasakan keberadaan Julian di sampingnya. Namun, ada sisi lain yang membuat Stefani merasa nyaman berada di dekat pria itu.


"Makanlah!" Julian menyodorkan kotak makan yang ia bawa dari rumah tadi.


Julian mengubah posisi duduknya, ia melingkarkan tangannya ke pundak Stefani, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. Suasana mendadak hening saat pandangan keduanya bertemu pada satu titik yang sama.


"Atau kau ingin aku menyuapimu dengan cara lain?" tanya Julian.


"Cara apa?" tanya Stefani dengan polos.


"Ini." Julian mengusap bibir Stefani dengan ibu jarinya.


Stefani membelalakan matanya. Senyuman Julian membuat Stefani bisa menebak pria itu akan berbuat yang tidak-tidak lagi. Stefani langsung merebut kotak makanan di tangan Julian dan langsung memakan isinya.


"Aku bisa makan sendiri!" ucap Stefani.


Stefani merasa ada di dalam bahaya jika menolak makanan itu. Tanpa berpikir lagi Stefani memakan habis roti isi yang di bawa Julian kemudian menyerahkan kotak makanan yang sudah kosong ke tangan Julian.


"Kau puas, sekarang?" Stefani menyambar tisu di depannya untuk membersihkan sisa makanan di bibirnya.


"Kau sangat lapar rupanya!" Julian memberikan botol minum kepada Stefani.


"Kau yang memaksaku," sungut Stefani.


Stefani meminum air mineral yang Julian berikan padanya dan menenggaknya hingga setengah.


"Anak baik," goda Julian.


Stefani mendengus kesal, kelakuan Julian benar-benar membuat ia jengkel.


"Kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Stefy.


"Apa kau lupa jika kita harus mengantar Antoni dan Alice untuk berbulan madu?" tanya Julian.


"Iya, aku lupa. Ini gara-gara kau membawaku secara paksa dari pesta mereka. Sekarang bagaimana aku menjelaskan kepada mereka nanti," dengus Stefy.


"Secara paksa?" Julian memiringkan tubuhnya, "Siapa yang memaksamu? Kau menangis dan tertidur di pelukanku. Apa aku harus meninggalkanmu di bangku taman itu?"


"Itu lebih baik dari pada aku harus ikut bersamamu!"


"Sekarang aku merasa menyesal telah membawamu ke rumahku."


"Aku tidak memintanya."


Stefani dan Julian berdebat sampai mereka tidak sadar jika mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kediaman Antoni.


Chris menoleh ke belakang, menatap dua manusia berdebat seperti anak kecil. Chris bahkan hampir putus asa, ia tidak tahu bagaimana caranya menghentikan perdebatan itu. Setiap kali oa membuka mulutnya dan ingin bicara selalu datang terhenti karena perdebatan sengit itu.


"Tuan —" Ucapan Chris dipotong oleh Julian dan juga Stefani.


"Diamlah!" ucap Julian dan Stefani bersamaan.


Merasa putus asa Chris memberanikan diri untuk menyela perdebatan itu lagi.


"Tuan, Nona, apa kalian masih ingin berdebat di sini. Kita sudah sampai di rumah Tuan Antoni?"


Ucapan Chris langsung menghentikan perdebatan keduanya. Julian maupun Stefani melihat sekelilingnya, benar saja mereka sudah berada di halaman depan rumah Antoni.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" tanya Julian.


Chris mengela napasnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Untung dia bos ku," gumam Chris dalam hatinya.


"Ini semua salahmu! Dasar menyebalkan?" gerutu Stefani dan ia keluar lebih dulu dari mobil itu.


"Kenapa gadis itu menyebalkan sekali," gerutu Julian.


"Tapi dia sangat manis dan lucu," puji Chris.


Chris berhenti memuji Stefani saat melihat ke arah kaca spion di depannya. Kaca spion itu memperlihatkan tatapan tajam Julian. Chris pun hanya bisa tersenyum ngeri.


"Jangan berani memujinya kecuali aku! Ingat itu baik-baik," ucap Julian.


"Maaf, Tuan. Saya tidak akan melakukan itu lagi," ucap Chris seraya menahan napasnya.