In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 31



Setelah menjalani hubungan selama satu tahun keputusan untuk menikah pun diambil oleh Stefani dan Alex. Apalagi kedua keluarga sudah menyetujui hubungan mereka. Tanggal pernikahannya pun sudah ditentukan. Dalam waktu dekat keduanya akan melangsungkan acara pertunangan.


Stefani merasa gugup saat hari pertunangan semakin dekat. Ternyata bukan hanya Stefani yang merasa gugup Alex pun merasakan hal yang sama. Alex mengalihkan rasa gugupnya dengan bekerja.


Waktu sudah semakin gelap Alex masih berada di kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Rasa lelah sudah dirasa oleh Alex. Namun dirinya harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Apalagi keseriusan kepada Stefani membuat Alex harus bekerja keras, ia tak ingin Stefani hidup kelurahan nantinya.


Alex berhenti sejenak untuk memijit pundaknya serta mengambil napas. Setelah rasa lelah berkurang Alex kembali melanjutkan pekerjaannya. Saat tengah fokus bekerja suara ponsel mengganggunya. Awalnya Alex berdecak kesal, tetapi ketika melihat nama Stefani muncul di layar ponselnya Alex pun tersenyum. Rasa lelah seolah hilang seketika saat sang kekasih menghubunginya.


Alex duduk bersandar dan langsung menerima panggilan itu.


"Halo, Sayang," sapa Alex.


"Hai, apa kau masih berada di kantor?" tanya Stefani dari seberang panggilan.


"Kenapa? Apa kau merindukanku?" goda Alex.


"Ya, ada apa kau merindukanmu? Aku sangat ingin memukulmu," balas Stefani.


"Kau kejam sekali," desah Alex.


"Tidak, aku benar-benar merindukanmu," ucap Stefani yang membuat Alex bersenang.


"Benarkah?" tanya Alex dengan semangat.


"Iya, kau puas sekarang," ucap Stefani.


"Baiklah, ada apa? Aku masih di kantor," tanya Alex.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu sesuatu," jawab Stefani.


"Tentang apa?" tanya Alex.


"Bekerjalah dengan rajin supaya kau punya banyak uang untuk menghidupiku setelah kita menikah. Aku tak mau mati konyol gara-gara tak bisa belanja sepuasku," ucap Stefani membuat Alex tertawa.


"Baiklah, Sayangku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia," ucap Alex.


"Kau manis sekali. Aku mencintaimu," ucap Stefani.


"Aku juga," balas Alex.


"Baiklah, akhiri ini dulu. Sebenernya aku ingin memberitahukanmu orang tuaku akan datang besok. Mereka ingin bertemu denganmu. Apa kau bisa menemui mereka?" tanya Stefani.


Alex berpikir sejenak. Pekerjaannya sangat banyak. Apalagi Antoni sedang keluar kota, tetapi jika dirinya tak menemui kedua orang tua Stefani, itu terasa tak pantas.


"Akan aku usahakan, Sayang," ucap Alex.


"Terima kasih, Alex," seru Stefani.


"Sama-sama," balas Alex.


"Baiklah, sampai jumpa esok," ucap Stefani.


"Sampai jumpa," balas Alex.


"Oh, iya, satu hal lagi. Jangan terlalu berkerja keras. Istirahatlah dengan cukup. Aku tak mau kau sakit," ucap Stefani.


"Baiklah, setelah ini aku akan langsung pulang," ucap Alex.


Setelah itu sambungan telepon pun berakhir. Alex kembali menatap layar laptop di hadapannya.


*****


Keesokan harinya Alex berkunjung ke rumah Stefani. Rencananya Alex akan makan malam bersama dengan Stefani dan keluarganya. Stefani menyambut sendiri kedatangan Alex. Ia langsung melingkarkan tangannya ke lengan Alex. Dengan semangat Stefani memanggil kedua orang tuanya.


"Mama, Papa, lihatlah Alex sudah datang," ucap Stefani.


Kedua orang tua Stefani menghampiri Stefani untuk menyambut calon menantu mereka.


"Selamat datang, Alex," sapa Thomas, Ayah Stefani.


"Selamat datang, Alex," sapa Yurika, ibu tiri Stefani.


"Maaf, saya datang terlambat," ucap Alex.


"Tak masalah," ucap Thomas.


"Wah, kau berbeda sekarang!" Thomas melihat penampilan Alex dari atas hingga bawah. "Kau nampak sangat tampan dengan setelah jas ini."


"Apa? Paman? Kau masih memanggilku paman. Apa kau tak serius menjalin hubungan dengan putriku ini," goda Thomas.


Alex tersenyum malu seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Mulai sekarang kau panggilah kami seperti Stefani memangil kami," ucap Yurika.


Alex melihat ke arah Stefani meminta pendapat dari sang kekasih dengan bahasa isyarat. Stefani pun membalasnya dengan menggunakan bahasa isyarat.


"Baiklah, Papa dan … Mama," ucap Alex.


"Itu terdengar lebih manis," ucap Yurika.


Yurika mencium kening Alex. Yurika sendiri merupaka ibu tiri dari Stefani. Akan tetapi kasih sayangnya tak perlu diragukan lagi. Kasih sayang Yurika terhadap Stefani melebihi kasih sayang Sofia, ibu kandung Stefani. Melihat kedekatan mereka banyak yang tak percaya jika Stefani dan Yurika tak memiliki hubungan darah.


"Baiklah, kita hentikan obrolan ini. Ayo kita makan malam bersama," ajak Yurika disambut anggukan semua orang.


Sampai di meja makan Alex menarik kursi untuk Stefani kemudian untuk dirinya sendiri. Yurika dan Thomas yang melihat kedekatan mereka sangat senang. Akhirnya Stefani menemukan pendampingan yang sangat menyanyanginya.


Acara makan malam berlangsung hangat. Sambil makan mereka mengobrol, tak jarang pula mereka tertawa di sela obrolan. Yurika dengan semangat menggoda Stefani. Ia menceritakan bagaimana Stefani bekerja keras untuk menyiapkan makan malam itu bahkan hampir membuat dapur mereka terbakar. Bukan hanya itu saja banyak bahan makanan terbuang sia-sia karena beberapa kali Stefani gagal memasak.


"Berhentilah menggodaku," ucap Stefani.


Mendengar hal itu Stefani merasa malu bahkan wajahnya sudah merah bak kepiting rebus. Namun Stefani merasa bangga dengan dirinya sendiri, setelah bekerja keras Stefani bisa menyelesaikan semuanya.


Malam semakin larut, Alex pun meminta izin untuk pulang. Stefani meminta izin untuk mengantar Alex sampai ke mobilnya.


Stefani berjalan sembari melingkarkan tangannya di lengan Alex. Keduannya berjalan sembari mengobrol. Sampai di samping mobil Alex, Stefani menarik tangannya. Keduanya berdiri saling berhadapan.


"Alex, terima kasih sudah mau datang," ucap Stefani.


"Terima kasih juga untuk makanannya yang sangat enak," ucap Alex.


"Apa benar rasanya enak?" Stefani menatap Alex dengan curiga.


"Ya … sebenarnya rasanya sedikit asin," ucap Alex diikuti tawanya.


"Maafkan aku. Aku tak pandai dalam hal memasak," ucap Stefani.


"Itu bukan masalah besar, Sayang. Di rumahku tak pernah kekurangan koki handal," ucap Alex.


Keduannya diam, hanya saling memandang penuh rasa cinta. Stefani meraih kedua tangan Alex.


"Kau tahu Alex, aku ingin bicara jujur," ucap Stefani.


"Tentang apa?" tanya Alex.


"Aku … aku … aku merasa gugup hari pertuangangan kita semakin dekat," aku Stefani.


"Apa kau pikir aku tidak?" Alex menyelipkan rambut Stefani ke belakang telinganya. "Aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Kau dan aku akan menikah."


"Ya, kau benar. Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Kau menakutiku dengan wajahmu yang tertutup oleh darah," ucap Stefani diikuti tawanya.


"Maaf," ucap Alex diikuti tawanya.


Keduanya tertawa bersama sebelum menyatukan kening mereka. Jarak keduannya sangat dekat hanya tinggal beberapa centi saja untuk berciuman.


"Aku sangat berharap tak ada halangan sampai hari pertunangan juga sampai hari pernikahan kita nanti," harap Alex disambut anggukkan oleh Stefani.


"Stefani Angelina," panggil Alex.


"Yes, Alexander," sahut Stefani.


"Bersediakah kau menjadi istriku, menemaniku di saat suka maupun duka?" tanya Alex.


"Ya, aku bersedia," jawab Alex.


"Aku sangat mencintaimu, Stefani," ucap Alex.


"Aku juga," balas Stefani.


Keduannya tak bisa menahan diri lagi untuk menyatukan bibir.


Semoga tak ada halangan