In the Name of Love

In the Name of Love
Chapter 25



"Stefani aku mencintaimu," aku Julian.


Stefani diam seribu bahasa saat dan juga berhenti memberantas setelah mendengar pengakuan Julian. Sesaat dirinya terpengaruh namun dengan cepat ia menepisnya.


"Heh, kau hanya mencintai tubuhku, 'kan? Aku ingat kau mengatakannya. Jadi sekarang lepaskan aku!"


Dengan sekuat tenaga Stefani mendorong Julian ia berhasil lolos dari Julian. Ia segera mengambil kunci dan berlari ke arah pintu. Saat ia memasukkan kunci Julian memeluknya dari belakang membuat Stefani menjentikan gerakannya.


"Bagaimana caranya agar kau percaya jika aku mencintaimu? Ya, aku memang mencintai tubuhmu. Tapi … bukan hanya tubuhmu saja. Semua yang ada padamu juga. Aku juga tak tahu waktu pertama aku melihatmu kau sudah mencuri hatiku. Aku tak ingin melepaskanmu membuatku melakukan itu agar kau menjadi mulikku," ungkap Julian. "Tak ada niatan aku untuk menyakitiku. Aku hanya tak ingin kehilanganmu."


Tak ada respon apapun dari Stefani, ia juga tak tahu harus mengatakan apa. Sampai beberapa saat keduanya masih ada di posisi yang sama. Julian seperti tak ingin melepaskan. Stefani mulai merasa nyaman, tak pernah ia dapatkan kenyamaan seperti itu saat bersama Marco dulu.


Makin lama Stefani merasakan kakinya mulai pegal. Dirinya juga tak mungkin terus bersama dengan Julian di tempat itu. Saat Stefani ingin membuka mulutnya untuk bicara sesuatu ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


"Stefi? Apa kau masih di dalam?" tanya Olive dari balik pintu.


Stefani dan Julian melihat ke arah pintu bersamanya sebelum mempertemukan pandangan mereka. Julian berdecak karena Olive mengganggu kebersamaannya dengan Stefani.


"Stefi, apa kau mendengarku?" Olive kembali mengetuk pintu.


Stefani kembali melihat ke arah Julian dan memohon untuk melepaskannya.


"Hari ini kau selamat, Baby." Julian mengendurkan pelukannya. Ia mencium pundak polos Stefani sebelum bersembunyi di balik pintu.


Stefani memutar kunci lalu membuka pintu dengan cepat. Stefani tak langsung keluar karena Julian menahan tangannya.


Stefani menoleh ke arah Julian sambil membulatkan matanya. Ia ingin memaki Julian, tetapi hanya bisa di dalam hatinya. Ekspresi Stefani membuat Julian melipat bibirnya untuk menahan tawanya.


"Kenapa pintunya dikunci?" tanya Olive.


"Tidak apa? Aku hanya takut ada orang yang akan masuk," jawab Stefani gugup.


Stefani langsung menoleh ke balik pintu melihat Julian sedang menahan tawanya, juga sedang menggoda Stefani dengan ekpresi nakalnya.


"Baiklah, kau sudah selesai? Ini sudah malam. Ayo pulang," ajak Olive.


"Ayo." Stefani menoleh ke arah Julian dan memohon untuk melepaskan tangannya. Namun bukannya melepaskan Julian justru mencium punggung tangannya.


"Stefani, ada apa?" tanya Olive.


"Tidak ada," jawab Stefani gugup.


Kening Olive mengerut, ia berpikir ada orang lain di kamar itu. Ia segera membuka pintu secara paksa.


"Olive." Stefani mencegah Olive untuk masuk, tetapi gagal.


"Ada siapa di dalam?" Olive melihat sekeliling tetapi tak ada siapapun.


"Sudah aku katakan tidak ada siapapun." Stefani mengela napas panjang saat Olive tak menemukan Julian. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu cepat?" lanjut Stefani dalam hati.


"Sebaiknya kita pulang." Stefani menarik tangan Olive membawanya keluar dari ruangan itu.


Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Alasannya bukan hanya muak, melainkan ia takut perasaannya berubah kepada Julian.


Stefani sampai di ruang tengah. Ia tercengang ketika melihat Julian sudah berada di tempat itu. Bagimana bisa?


"Ini sudah malam. Kami harus pulang," pamit Olive.


"Baiklah, aku akan meminta Chris untuk mengantar kalian," ucap Julian.


"Tak perlu. Aku dan Bobi yang akan mengantar mereka," ucap Alex.


"Sesuai keinginanmu, Alex," ucap Julian.


"Maaf, Tuan. Ada telepon untuk Anda." Chris datang dan memberikannya ponselnya kepada Julian.


"Aku pergi dulu. Kalian Berhati-hati." Julian menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya lalu pergi dari tempat itu diikuti oleh Chris.


Stefani memerhatikan punggung Julian bahkan sampai pria itu menghilang dari pandangannya.


"Stefi, ayo." Olive menarik Stefani membawanya pergi dari tempat itu.


Dalam perjalanan pulang Stefani diam. Tidak jarang pula ia selalu mengela napas berat. Alex yang sedang mengemudi di sampingnya juga sering memerhatikan Stefani. Terlihat sekali jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu.


"Stefani, apa kau baik-baik saja?" tanya Alex.


Kening Alex mengerut saat Stefani tidak merespon pertanyaannya. Alex pun kembali bertanya.


"Stefani." Alex bertanya seraya mengenggam tangan Stefani.


Apa yang dilakukan oleh Alex rupanya membuat Stefani terkejut. Semua lamunannya pun menjadi buyar.


"Ada apa?" tanya balik Stefani.


"Benarkah? Maaf aku tak mendengarnya," ucap Stefani.


Alex menghentikan laju mobilnya tepat di depan kediaman Stefani. Stefani yang sadar akan hal itu langsung melepas seatbelt yang melilit tubuhnya. Namun baru saja akan membuka pintu Alex mencegahnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku perhatikan kau seharian ini tingkahmu sangat aneh," tanya Alex.


"Tak ada apapun," jawab Stefani.


"Ayolah Stefani …! Jika kau memiliki masalah ceritakan padaku," bujuk Alex.


"Sungguh, Alex," ucap Stefani.


Stefani bisa saja menceritakan segalanya mengenai Julian. Namun entah mengapa sesuatu seperti menahannya. Saat dirinya akan bicara tiba-tiba lidahnya menjadi kaku. Dirinya juga tak tahu harus dari mana ia muali dari mana.


"Sudahlah Alex. Ini bukan hal yang serius. Aku masih bisa menanganinya sendiri," ucap Stefani.


"Kau yakin?" tanya Alex.


"Ya." Stefani menjawab seraya mengangguk.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau membutuhkan bantuan dariku, katakan dengan segera," pesan Alex.


"Tentu saja," ucap Stefani. "Apa sekarang aku boleh pergi?"


"Tentu saja. Selamat malam." Alex mencium pipi Stefani berlanjut mengusap sisi wajah wanita itu.


Meskipun sering bersama bahkan tidur satu ranjang bersama Alex, Stefani tak pernah merasakan apapun. Namun kali ini Stefani merasa canggung atas apa yang dilakukan oleh Alex beberapa detik yang lalu. Itu bukan seperti Alex.


"Baiklah, aku keluar dulu. Kau hati-hati di jalan." Stefani keluarga lalu melambaikan tangannya saat Alex meninggalkan tempat itu bersama mobilnya.


******


Julian bersandar di balkon rumahnya ditemani satu gelas wine di tangannya. Pikirannya melayang mengingat saat pertama kali bertemu dengan Stefani.


"Sial, membayangkannya saja sudah membuatku gila." Jukian menggusar rambutnya ke belakang.


"Julian."


Julian menoleh ke sumber suara dan melihat Alex berjalan menghampirinya.


"Kau sudah kembali rupanya," ucap Julian.


Alex menghampiri Julian dan merangkul pundaknya.


"Apa yang kau lakukan di sini sendiri. Ini sudah malam kau tak istirahat?" tanya Alex.


Julian menunjukkan gelas cristal di tangannya. "Kau mau?" tawar Julian.


"Boleh," ucap Alex.


Julian pergi ke mini bar mengabilkan minuman untuk Alex.


"Apa boleh aku bertanya?" Alex menghampiri Julian dan duduk bersama di lini bar.


"Apa yang mau kau tanyakan?" tanya balik Julian.


"Apa kau tertarik pada Stefy?" tanya Alex.


Julian menatap kilas Alex lalu kembali meminum wine di tangannya.


"Kenapa berpikir seperti itu?"


"Sekedar bertanya." Alex menghabiskan wine miliknya.


"Kau sendiri? Aku memiliki perasaan kepada Stefy. Tidak mungkin kau tak punya perasaan terhadapnya dengan perlakuanmu kepadanya selama ini."


Alex menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Memang dulu dia belum mempunyai perasaan kepada Stefani, namun perasaan itu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Ingin sekali dia mengatakan kepada Stefani, hanya saja dirinya belum siap dan takut akan menghancurkan persahabatan mereka.


"Kau memang selalu tahu apa yang aku pikirkan." Alex menepuk pelan pundak Julian.


"Tapi sepertinya dia belum bisa melupakan laki-laki dari masa lalunya," lanjut Alex. "Aku ingin tahu siapa pria brengsek itu. Pria yang sudah merenggut kesuciannya."


Jantung Julian serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Alex. Ia berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Apa selama ini dia belum memberi tahu siapa pria itu?" Julian mengalihkan pandangannya ke arah Alex.


"Belum." Alex menggelengkan kepalanya.


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan pria itu?" Julian terdiam menunggu apa yang akan dikatakan Alex selanjutnya.


"Aku akan melenyapkannya."