
"Apa yang kau kau lakukan jika bertemu dengannya?" tanya Julian.
"Melenyapkannya," jawab Alex.
Julian tersenyum tipis. Terlihat begitu tenang, tetapi tak dipungkiri jantungnya berdegup kencang, ada kekhawatiran di dalam diri Julian.
"Kalau begitu lakukan sekarang juga!" Julian mengambil senjata api dari balik pakaiannya.
Alex terkejut saat Julian memberikan senjata api itu kepadanya. Ia masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Julian. Sampai beberapa saat Alex masih diam sembari melihat Julian dan senjata api itu bergantian.
"Kenapa kau diam? Bukankah kau ingin melenyapkan pria yang sudah menodai Stefani?" Julina menenggak wine dengan santainya.
"Apa maksudmu? Aku sungguh tak mengerti," tanya Alex.
Julian meletakan gelas cristal berkaki ke atas meja bar. Ia tersenyum miring sebelum melihat ke arah Alex.
"Aku pria itu," jawab Julian dengan santainya.
"Apa?" Alex menahan napasnya mendengar pengakuan Julian. Namun Alex masih belum mempercayai akan hal itu.
"Kau tidak percaya?" Julian berbalik bersandar ke meja bar. "Kau bisa tanyakan hal ini pada Chris."
"Jangan bergurau?" ujar Alex.
"Bukankah kau sangat mengenalku jika itu menyangkut wanita," ucap Julian. "Sekarang kau panggil Chris! Tanyakan padanya mengenaiku dan juga Stefani."
"Chris!" Tanpa berpikir panjang Alex berteriak memanggil asisten pribadi Julian.
Julian masih berdiri di tempat yang sama. Ia kembali menuang wine lalu meminumnya. Tak ada ketegangan ataupun kecemasan melihat kemarahan Alex.
"Chris!" panggil Alex sekali lagi.
"Saya, Tuan muda." Chris datang memberi salam dengan membungkukkan badannya. "Ada apa, Tuan muda?"
"Chris, katakan padanya jika aku pernah bertemu dengan Stefani bahkan menghabiskan malam dengan wanita itu," suruh Julian.
Chris terdiam sejenak sembari menatap Julian. Ia melihat isyarat dari Julian untuk mengatakan kebenarannya itu kepada Alex.
"Chris!" Alex berteriak sekali lagi. "Katakan jika yang dikatakan oleh Julian semua itu bohong!"
"Ya, Tuan muda. Semua yang dikatakan oleh Tuan Muda Julian adalah benar," jawab Chris gugup.
Alex diam seketika, dunianya juga seolah hancur pada detik itu juga. Kini Alex mengerti kenapa Stefani begitu kesal saat dirinya begitu membanggakan Julian.
"Kau ingin melenyapkan aku, bukan?" Julian tertawa tipis. "Lakukan sekarang, bodoh!"
Alex mengarahkan senjata api itu ke wajah Julian dengan tangan yang gemetar. Seharusnya Julian yang merasa takut karena nyawanya bisa melayang kapanpun, tetapi justru Alex yang merasakan rasa takut itu. Keringat mulai bercucuran, pandangannya pun seolah ingin memangsa Julian. Perasaan Alex pada saat itu sangat kacau. Kekacauan Alex bertambah ketika Julian terus memprovokasi Alex untuk menembakkannya.
"Lakukan, Alex!" teriak Julian.
Julian menatap moncong senjata api itu. Ia merasakan seperti ada angin melewati sisi kepalanya dan setelah itu terdengar suara kaca hancur. Seketika suasana di tempat itu muslim tegang.
Chris melihat ke arah jam dinding kuno yang hancur berkeping-keping. Banyak orang yang merupakan anak buah Julian masuk ke rumah itu dan menodongkan senjata api ke arah Alex.
Julian langsung memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk pergi. Setelah memastikan anak buahnya pergi Julian menarik tangan Alex mengarahkan senjata api itu ke keningnya.
Alex masih tidak bergeming. Ia masih memegang senjata api dengan tangan yang gemetar.
"Kau, masih saja pengecut, Alex," ucap Julian.
"Aku tak bisa melakukan ini." Alex menurunkan senjata api lalu mundur dan menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa kau tega melakukan itu padanya. Bukankah Kau …?" Alex menghentikan ucapannya saat menyadari sesuai.
"Ya, akun tertarik padanya. Pada saat aku melihatnya untuk pertama kali," aku Julian.
Julian mengatakan isi hatinya kepada Alex. Rasa ingin memiliki muncul saat pertama kali melihat Stefani. Hal itu membuat Julian gelap mata dengan memaksakan kehendaknya kepada Stefani. Namun sayang, Stefani melarikan diri darinya. Ketika Julian akan mencarinya ada masalah terjadi di perusahaannya dan mengharuskan Julian untuk turun tangan. Julian menyuruh anak buahnya untuk mencari Stefani, namun tak membuahkan hasil. Hingga masih baik berpihak padanya, anak buahnya yang saat itu berada di kediaman Antoni melihat Stefani.
Julian sangat senang setelah mendengar kabar itu. Pantas saja pencariannya selama beberapa bulan tidak membuahkan hasil. Rupanya Antoni sudah menutup seluruh akses informasi tentang Stefani bahkan seorang Julian pun tak bisa menembusnya.
"Kau juga yang sudah meledakan gedung tua itu?" tanya Alex disambut anggukkan oleh Julian.
"Ya," jawab Julian dengan tegas.
Alex baru menyadari pada saat itu ia seperti mengenali salah satu mobil yang melesat di jalan yang sama dengannya.
"Kenapa aku baru menyadari ini. Aku melihat mobilmu malam itu melintas cepat di jalan yang sama," ucap Alex. "Tapi yang aku tak paham, bagaimana kau bisa?" Alex menjeda ucapannya sembari melihat Julian. "Kau terus mengawasinya?"
Julian tak merespons apapun, ia diam sembari meminum wine. Dan dengan diamnya Julian sudah menjawab pertanyaannya Alex.
Julian mulai menceritakan kejadian malam itu. Setelah menemukan Stefani, ia diam-diam mengawasi wanita itu, menjaganya tanpa Stefani ketahui. Maka dari itu Julian tahu akan tindakan buruk yang akan Marco lakukan kepada Stefani.
Setelah anak buahnya memberitahu akan keberadaan Stefani, Julian pun datang segera ke tempat itu. Awalnya Julian ingin menunjukkan dirinya pada saat itu, tetapi melihat keberadaan Alex dan Bobi Julian pun mengurungkan niatnya.
Julian beserta anak buahnya bersembang sambil memperhatikan ketiganya. Bibirnya tersenyum ke atas membenrik sebuah senyuman saat melihat Stefani. Wanita yang dia cari yang dulu lugu seperti kelinci sudah menjadi singa betina.
Sampai semuanya selesai Julian pun masih terus memperhatikan Stefani. Namun Julian merasa sedikit kecewa Stefani tak menghabisi orang-orang itu.
Setelah Stefani dan Alex juga Bobi pergi dari tempat itu Julian menunjukkan dirinya kepada Marco dan juga anak buahnya. Julian masih mengingat jelas ekspresi ketakutan Marco saat melihat dirinya. Meksipun sudah meminta maaf dan memohon Julian sama sekali tak peduli.
"Kau sudah berani menyentuh milikku, jadi kau harus merasakan akibatnya," ucap Julian.
"Saya berjanji tak akan melakukan ini lagi." Marco berlutut di hadapan Julian.
Julian tak bicara apapun, dirinya hanya tersenyum miring seolah sedang mengejek Marco. Kemudian Julian pergi bersama anak buahnya.
Julian kembali masuk ke mobilnya lalu pergi diikuti oleh anak buahnya. Bersamaan dengan itu gedung tua itu meledak. Sebelumnya Julian sudah menyuruh anak buahnya untuk memasang bom waktu di gedung tua itu dan akan meledak sesuai waktu yang sudah ditentukan.
Setelah Julian menceritakannya semuanya suasana menjadi hening. Alex masih menunduk sambil menangis. Ia merasa ada beban berat yang sedang ia tanggung. Salah satunya adalah janjinya terhadap Stefani. Alex berjanji akan melenyapkannya pria yang sudah menodainya. Akan tetapi bagaimana mungkin dirinya melenyapkan saudaranya sendiri.
"Pergilah, Alex! Katakan kepada Stefani jika kau mencintainya." Julian memberikan segelas wine kepada Alex.
"Tidak. Aku tak bisa memiliki apapun yang kau mau," tolak Alex.
"Pergilah, Alex!" teriak Julian.
Happy reading gaess