
Keterkejutan Stefani akan keberadaan Julian masih belum mereda. Ia kembali dikejutkan oleh Alex yang memanggil pria itu dengan sebutan kakak.
"Kak Julian." Alex berlari menghampiri Julian dan langsung memeluknya.
"Aku pikir kau tidak akan datang," ucap Alex.
"Itu tidak mungkin. Ini hari bahagia saudaraku," ucap Julian.
Stefani masih tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya terasa sesak seperti tubuhnya terhimpit oleh dua batu besar.
"Al-ex." Stefani memanggil Alex dengan suara terbata-bata.
"Ada apa, Stefi." Alex menoleh ke arah Stefani.
"Alex, jangan katakan jika dia adalah kakak yang pernah kau ceritakan padaku," ucap Stefani.
"Itu benar, Stefi. Dia adalah kakakku selain Antoni," ucap Alex.
"Kak dia adalah temanku, Stefani Angelina. Dan Stefani dia adalah kakakku, Julian Alvarez Leonard," ucap Alex.
"Halo, Stefani. Senang bertemu denganmu." Julian mengulurkan tangannya ke hadapan Stefani.
Stefani menatap tangan Julian dan Alex secara bergantian. Sebenarnya Stefani merasa tidak sudi menerima uluran tangan Julian, tetapi Stefani merasa tidak enak pada Alex. Dengan terpaksa Stefani menerima uluran tangan Julian dengan tangannya yang bergetar. Kedua tangan itu menyatu.
Julian berpura-pura tidak mengenal Stefani begitupun sebaliknya. Keduanya berjabat tangan seolah tidak pernah terjadinya sesuatu aku di antara mereka. Akan tetapi tatapa satu sama lain tidak bisa membohongi. Julian menatap Stefani dengan senyum penuh kemenangan, sedangkan Stefani menatap Julian dengan tatapan ingin membunuh.
Perkenalan itu berakhir saat terdengar suara ledakkan berkali-kali. Itu adalah suara dari kembang api sebagai puncak dari acara pernikahan Antoni dan Alice. Sebuah orang melangkah keluar dari ballroom. Ada balkon panjang di sisi ballroom, dari tempat itu mereka bisa melihat kembang api yang meledak menjadi serpihan cahaya yang begitu indah.
"Ayo, kita lihat kembang api," ajak Alex.
Stefani melepaskan tangan Julian dan memilih untuk pergi bersama Olive.
Stefani berdiri bersama Olive melihat ledakkan dari kembang api. Akan tetapi fokus Stefani tidak kepada kembang api, melainkan fokusnya tertuju pada Julian. Stefani melihat ke arah Julian yang ternyata juga sedang melihat ke arahnya. Pandangan mereka bertemu pada satu garis lurus yang sama.
Julian mengangkat tangannya menujukan gelas kristal berkaki di mana ada wine termahal di dalamnya. Julian meminum wine itu dan terus menatap Stefani dengan ekspresi nakalnya.
Melihat itu Stefani memutuskan pandangan itu dengan cepat. Mata Stefani mulai berkaca-kaca. Dadanya kembali merasa sesak. Tak kuat menahan perasaannya, Stefani pun memilih pergi dari tempat itu.
Stefani keluar dari ballroom. Ia berlari tak tentu arah. Merasa lelah Stefani memilih duduk di sebuah bangku di dekatnya. Duduk dengan isakkan tangis. Stefani menyentuh dadanya yang terasa sesak karena menahan rasa sakit di dalam dirinya.
Stefani menangis dengan menutup mulutnya supaya tak ada yang mendengar tangisannya meskipun dia sudah jauh dari keramaian. Tidak kuat menahan rasa sakit itu Stefani berteriak. Suara teriakannya tertutupi oleh kembang api membuat orang tidak mendengarnya.
Sudah lebih dari setengah jam Stefani duduk sendiri di tempat itu. Hawa dingin bahkan tidak Stefani rasakan. Ia terus saja mengingat apa yang pernah Julian lakukan padanya.
Stefani tidak pernah membayangkan akan kembali dipertemukan dengan pria itu, tetapi takdir berkata lain. Bahkan Stefani merasa takdir itu lebih buruk dari pada sebelumnya.
"Apa kau sedang menungguku di sini?"
Lamunan Stefani buyar saat ia merasakan sesorang tengah menyentuhnya. Ternyata orang itu adalah Julian. Pria itu memakaikan jasnya ke tubuh Stefani.
"Kenapa kau begitu terkejut saat melihatku? Apa Alex tidak memberitahumu tentang aku, Baby?" tanya Julian.
Stefani menghapus air matanya lalu berdiri dan berbalik menatap Julian penuh kebencian. Stefani juga langsung membuang jas milik Julian yang ada di tubuhnya.
"Kenapa kau muncul di hadapanku lagi? Belum puaskah kau membuat hidupku hancur?" tanya Stefani penuh amarah kepada Julian.
"Sederhana. Karena aku menginginkan dirimu!" jawab Julian, tangannya terukur untuk mengusap pipi Stefani.
"Jangan berani menyentuhku lagi!" Stefani menghempaskan tangan Julian dari pipinya.
Julian tertawa kecil seolah kemarahan Stefani sebuah lelucon baginya.
"Kau sangat galak. Dan aku sangat menyukainya. Apa kau masih ingat malam itu, Baby? Sangat indah. Rasanya aku ingin mengulanginya." Julian menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Stefani.
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mengingat itu!"
Stefani sudah tidak bisa membendung kemarahannya. Ia ingin memberi pelajaran kepada Julian. Akan tetapi gaun panjang yang ketat membuat dirinya tidak bisa bebas untuk bergerak. Stefani mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia memakai pakaian yang panjang dan ketat.
Stefani tidak menyerah. Perempuan itu melayangkan tangannya ingin menampar wajah Julian. Namum gerakannya terbaca oleh Julian. Dengan sigap Julian menghadang tangan Stefani sebelum sampai ke wajahnya.
"Jangan gunakan tanganmu yang halus ini untuk berbuat kasar, Baby." Julian mencengkeram kuat pergelangan tangan Stefani lalu mencium sepanjang tangan Stefani.
Stefani berontak dan berhasil lepas dari cengkraman tangan Julian. Stefani langsung mengusap-usap tangannya secara kasar.
Stefani berniat pergi dari hadapan Julian, tetapi dengan cepat Julian menarik tangannya lalu memeluk Stefani dari belakang.
"Kenapa terburu-buru? Kita baru saja bertemu setelah cukup lama. Kenapa kita tidak bersenang-senang seperti dulu?" Julian tersenyum merasa senang menggoda Stefani.
Stefani berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Julian, namun gagal. Kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Julian.
"Sayang, berhentilah bergerak atau aku akan lepas kendali sekarang!" ucap Julian seraya mencium pundak Stefani.
"Tolong lepaskan aku? Biarkan aku pergi!" ucap Stefani lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Julian.
"Tidak bisa, Baby. Aku pernah lalai yang membuat kau bisa lepas dariku. Sekarang aku tidak akan melepaskanmu," bisik Julian.
"Kenapa kau melakuan ini. Apa bagimu aku ini sebuah mainan. Apa setiap pria yang melihatku hanya menganggap aku sebagai pemuas hasrat kalian?"
Julian semakin mengeratkan pelukannya mendekap tubuh Stefani. Entah kenapa, Julian merasakan sakit saat Stefani menangis. Akan tetapi Julian juga tidak bisa melepaskan Stefani begitu saja.
"Sttt, jangan menangis, Baby."
Stefani terdiam dan menutup matanya sejenak. Ia sudah merasa lelah oleh pemberontakannya. Semakin kuat ia berusaha justru semakin membuat Julian makin tidak melepaskannya.
Stefani sudah kehabisan tenaganya. Ia pasrah dan membiarkan Julian mendekapnya. Perlahan Stefani merasakan kenyamanan di dalam pelukan Julian.
Stefani masih diam dengan air mata yang terus mengalir. Ia tidak tahu kapan dirinya bisa berhenti untuk menangis. Merasa lelah Stefani memejamkan matanya, ia tertidur karena rasa lelahnya.
Julian sendiri masih tetap memeluk Stefani tanpa ingin melepasnya. Beberapa saat kemudian Julian tidak merasakan getaran tubuh Stefani dan suara tangisnya tak terdengar lagi.
Julian mengendurkan pelukannya, ternyata Stefani tertidur. Mungkin merasa kelelahan karena menangis. Julian mengusap jejak air mata di wajah Stefani lalu mengangkat tubuh Stefani membawanya pergi dari tempat itu.