
In The House, sebuah serial televisi yang menayangkan sebuah kegiatan perjodohan dengan orang asing. Dengan sistem menempatkan sepasang insan itu untuk satu rumah selama kurun waktu tiga bulan penuh. Waktu tersebut di hitung sedari kamera yang berada di rumah di nyalakan, untuk merekam aktivitas orang orang di dalamnya.
Namun, walaupunpun kamera di pasang di setiap sudut tumah. Pihak stasiun televisi tetap menjaga hal privasi pesertanya dengan tidak memasang kamera tersebut di wilayah toilet dan kamar mandi.
Pihak stasiun televisi juga tidak menayangkan semua aktivitas keseharian pesertanya. Mereka juga tetap memilah dan mengedit kejadian kejadian yang menurut mereka seru dan menarik untuk di tayangkan.
Di setiap hari. Acara ini menantang para peserta nya untuk melakukan misi harian dan misi wajib.
Misi wajib, adalah sekumpulan misi yang wajib di lakukan oleh peserta In The House selama tiga bulan penuh. Jika misi tersebut tidak di lakukan oleh para pesertanya secara tiga hari berturut turut. Peserta itu segera di singkirkan dari acara.
Sedangkan misi harian adalah sebuah misi tambahan untuk para peserta. Misi ini tidak wajib di lakukan oleh para peserta. Namun, jika peserta melakukan misi tersebut. Peserta akan mendapatkan uang tambahan di akhir acara.
Karla mengangguk mengerti setelah membaca hampir dua lembar kertas itu. Ia sangat memahami isi maksud dari kertas yang ia baca.
"Selagi kalian membaca, bolehkan saya memeriksa furnitur rumah terlebih dahulu? Untuk memastikan kelengkapan furnitur rumah."
Karla mendongak kearah wanita itu setelah mendengar wanita itu berbicara. Dengan bersamaan Dhio dan Karla pun mengangguk. Mempersetujui permintaan wanita itu.
Wanita itu pun beranjak dari sofa. Tak ketinggalan sebuah kertas dan pulpen yang berada di dalam genggamannya. Melangkah kearah dapur. Meninggalkan Dhio dan Karla duduk berdua bersebelahan. Karla yang merasa sedikit canggung pun. Menatap ke arah pria itu.
Entah mengapa Karla merasa pria itu, sekarang lebih terlihat menarik saat ia sedang fokus membaca kertas itu. Rahang nya yang tajam menambah kemaskulinan pria itu. Sepasang alisnya pun tersusun rapi dan terlihat tebal.
Merasa di perhatikan, Dhio yang sedang membaca lembaran kertas itu pun bersuara. "Kenapa liat liat?" ucap Dhio tanpa memalingkan pandangannya dari kertas yang sedang ia genggam.
Terkejut, Karla pun segera memalingkan pandangannya. "Ga, siapa juga yang liatin kamu." ucap Karla, kembali mencoba untuk membaca lembaran kertas yang ada di genggamannya tersebut.
Tertera banyak sekali peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh peserta saat melakukan acara ini. Salah satu nya adalah tidak boleh melarikan diri. Peserta juga tidak boleh merusak properti yang ada di rumah ini. Bertindak kriminal sesama peserta maupun terhadap properti.
Karla baru menyadari, ternyata mengikuti acara seperti ini mempersulit hidupnya juga. Namun, apa daya demi sejumlah uang seratus juta ia pun mengikuti acara ini dengan hati yang ikhlas.
"Saya sudah beres mensurvei semua nya. Properti rumah tidak ada yang rusak maupun hilang." ucap wanita itu kembali ikut duduk disofa.
"Jika ada yang rusak dan hilang?" tanya Karla spontan.
"Jika properti yang rusak, seperti sofa dan ranjang ataupun jendela. Itu wajib di ganti oleh peserta. Jika lampu atau aliran listrik dan saluran air. Itu akan di ganti oleh perusahaan." jelas wanita itu.
Karla kembali mengingat kejadian tadi pagi. Ia telah memecahkan sebuah gelas, hanya di karenakan sebuah cicak. "Jika gelas?" tanya Karla keceplosan, ia pun lalu meneguk saliva nya.
"Tentu oleh peserta." ucap wanita itu menjawab pertanyaan Karla. Mendengar jawaban tersebut, Karla refleks menatap ke arah Dhio dengan wajah panik. Ekspresi Karla saat itu seolah berkata 'tolonglah aku, Dhio'.
Dhio yang sadar dengan ekspresi Karla. Sontak Dhio pun menyadari nya. Namun sesaat setelah dia akan bersuara. Mulutnya di bekam oleh gadis itu. Karla menatap Dhio tajam, setelah tau Dhio akan memberitahukan hal itu kepada si wanita.
"Em, kalian ada pertanyaan?" tanya wanita itu melihat tingkah aneh kedua orang tengil itu. Karla tersenyum canggung, dan menggeleng. "Engga apa apa teh,"
"Baiklah kalo seperti itu saya pamit dari sini. Ngomong ngomong saya akan ke sini setiap dua minggu sekali. Untuk cek properti dan melihat kondisi kalian." Karla mengangguk mendenggar penjelasan itu. Dan ikut terbangun dari duduknya bersamaan dengan wanita itu.
"Saya permisi." ucap wanita itu akan meninggalkan perkarangan rumah. "Oh iya saya baru ingat, bahan makanan akan di kirimkan setiap hari saat pagi hari. Tetapi untuk khusus hari ini kalian akan diberikan makanan cepat saji."
"Baik teh, terimakasih." ucap Dhio ikut ikutan dan tiba tiba saja sudah ada di belakang Karla.
Wanita itu pun keluar dari pekarangan rumah. Dan memasuki mobil nya yang berwarna hitam, yang tepatnya terparkir di depan rumah. Setelah memastikan wanita itu pergi. Dhio dan Karla kembali menutup pintu rumah.
.
.
.