In The House

In The House
Handuk



"Ga semua orang bisa bebas memilih jalan hidupnya." ucap Dhio, mengambil tutup saji dan menutup kumpulan makanan itu. "Aku sebenarnya udah punya pasangan. Tapi," ucap Dhio terpotong. Menatap kedua bola mata gadis itu.


"Tapi apa?" tanya Karla. Mereka masih bertatapan beberapa saat.


"Sudahlah, aku mau bersihin badan dulu." ucap Dhio melangkah meninggalkan Karla. Pikiran Dhio berputar. Mengingat beberapa ucapan kata yang keluar dari bibir sang ayah.


Hatinya meringis jika kembali terdengar tangisan kekasih dambaannya itu. Kini ia sangat merindukannya, karena seingat Dhio. Terakhir ia bertemu dengan gadis itu, saat dua bulan kemarin. Dunianya terasa hampa, karena tidak adanya kehadiran sang dambaan hati.


Dhio menjernihkan pikirannya di bawah shower kamar mandi. Pikirannya sangat kacau akhir akhir ini. Entah karena kekasihnya maupun karena pekerjaan, di tambah lagi acara yang ia ikuti ini. Sangat memuakkan.


Pintu kamar mandi terketuk. "Ada apa?" ucap Dhio segera mematikan shower. Agar suara dari luar terdengar. "Ini handuk kamu ketinggalan." ucap Karla dari balik pintu.


Segera Dhio melihat ke arah gantungan handuk. Benar, handuk nya tertinggal. Bagaimana bisa ia meninggalkan handuk, saat pergi mandi? Sepertinya ini gara gara pikirannya sangat kacau. Sampai sampai lupa terhadap handuk.


"Gantungin aja di gagang pintu!" teriak Dhio dari dalam.


"Udah aku gantungin."


"Iya!" teriak Dhio kembali menyalakan showernya. Membilas busa sampo yang tersisa di kepalanya.


Dhio kembali mematikkan keran shower ketika badannya sudah di pastikan bersih. Dengan perlahan, ia membuka gagang pintu dari dalam. Lalu memunculkan kepalanya, melihat keadaan di luar kamar mandi.


"Untung tidak ada siapa siapa ternyata." dengan cepat ia mengambil sehelai handuk yang ada di luar gagang pintu. Dan membawanya kedalam. Mengeringkan seluruh badannya, kemudian mengeratkan handuk itu di bawah perutnya. Menutup area privasi seorang pria.


Ia berjalan keluar, menuju kamar. Kaki nya melangkah menuju sebuah ranjang yang ada sebuah kaos dan celana kolor di atasnya.


Pikirannya pun kembali berputar. Setelah melihat sebuah gantungan tas tergantung erat di sebuah tas ranselnya. Gantungan itu berbentuk seperti sebuah candi. Lebih tepatnya candi Borobudur.


Tanpa sadar Dhio tersenyum. Mengingat kenangannya dengan gadis sambaan hati nya ketika berlibur bersama.


"Woi, makan bareng yu!" teriakan gadis itu membuyarkan pikirannya. Beberapa ketukan dari pintu kamar Dhio pun terdengar. Membuatnya sedikit merasal jengkel.


Hingga nampak seorang gadis yang sedang melipatkan tangannya. "Lama banget, kaya anak gadis aja." ucap Karla. Lebih dahulu melangkah menuruni tangga.


"Sayang aja gitu muka cakep gini kalo ga di rawat." balas Dhio, mengucap rambutnya beberapa kali. Melihat kelakuan pria itu, Karla hanya berdecak.


"Dasar Dono!"


"Siapa Dono?" tanya Dhio membulatkan kedua matanya.


"Nama kamu Dono kan?"


"Dhio!" teriak Dhio kesal. Karla yang sedang mengambil nasi hanya terkekeh.


"Kamu lucu juga ya kalo lagi kesal." kata kata itu sontak keluar dari mulut Karla. Ketika melihat pria itu dengan seksama. Sedangkan Dhio yang mendengar kata kata itu hanya diam tidak bereaksi.


Berusaha sekuat mungkin untuk tidak membalas perkataan yang keluar dari mulut Karla. Sepertinya ia harus membuat sebuah dinding yang tinggi dengan gadis itu. Agar ia tetap bisa menjaga hati nya un


tuk sang kekasih.


.


.


.


.


.