
Kini genap dua minggu Karla dan Dhio telah menjalani hidup mereka menjadi peserta acara itu. Mereka terus hidup berdampingan dengan berbagai macam kebiasaan mereka masing masing. Namun, walaupun begitu. Mereka tetap saling memahami satu sama lain.
Bahkan sekarang Dhio sudah mengganggap gadis itu sebagai adik kecil nya. Karla yang selalu membuat onar dan berisik di dalam rumah. Selalu bisa menghibur Dhio di kala lelah pulang dari kerja. Sedangkan Dhio yang dewasa dan penuh perhatian. Selalu membantu gadis itu di kala kesulitan.
Suara bel rumah itu berbunyi. Sontak Karla terperanjat menghampiri pintu depan. Kaki nya melesat dengan cepat. Lalu membuka gagang pintu tersebut.
Memunculkan sosok seorang pria di hadapannya. Pria itu tampak tersenyum sembari punggungnya yang sedang menggendong sebuah tas ransel.
Dhio menyerahkan ransel yang baru ia lepas ke genggaman Karla. Karena sudah terbiasa akan hal itu. Karla langsung menggenggam tas ransel itu. Dan menyimpannya di sisi sofa ruang tamu.
Yang karla tau, tas ransel itu berisikan peralatan untuk pencukur rambut. Peralatan itu mendukung untuk kelangsungan kerja Dhio sebagai seorang pemilik barbershop.
"Kamu udah makan?" tanya Dhio, saat melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu menutup pintu depan.
Kedua kakinya melangkah menuju meja makan yang terdapat tutup saji di atasnya. Dhio pun membuka tutup saji itu. Kedua bola matanya pun menatap sepiring telur dadar yang ada di balik tutup saji itu.
Dhio mengangkat piring itu. Lalu mengambil beberapa nasi dari magicom yang tidak jauh dari sana. Dhio pun segera menyantap telur dadar itu secara lahap.
Karla yang datang dari ruangan tamu. Lalu duduk di hadapan Dhio yang sedang asik dengan makanan.
"Gimana masakan aku ga ke asinan lagi kan?" tanya Karla memastikan.
Karla tidak ingin kembali menyiksa indra pengecap orang lain hanya karena masakkannya. Ia juga ingin berusaha untuk memperbaiki rasa masakannya. Selain menghemat pengeluaran. Ia juga mungkin akan bisa sedikit berbangga dengan hasil masakannya sendiri.
Dhio mengangguk angguk sembari merasakan telur dadar itu. "Lumayan lebih baik, irisan bawang daun nya juga sekarang tampak lebih rapi." jawab Dhio melihat telur dadar itu.
Karla tersenyum ketika mendengar kata kata pujian keluar dari mulut pria itu. "Iya dong, aku gitu loh!"
Dhio berdecak melihat kelakuan gadis itu. "Kamu bisa gini juga kan di ajarin sama aku." ucap Dhio. Mengingat selama seminggu ini Dhio selalu mengajarkan resep resep dan cara memasak kepada Karla.
"Mau sambelnya?" tanya Karla bersiap akan berdiri, berutjuan untuk mengambil semangkuk kecil sambel yang ada di bawah tutup saji. Dhio menggelengkan kepala.
Ia menghabiskan seluruh sisa nasi yang ada di atas piringnya. Lalu menyimpan piring itu ke wastafel dan mencuci kedua tangannya yang berbau amis.
"Oh ya aku tadi roti tawar di supermarket depan." ucap Dhio. Membuka tas ransel nya yang berada di dekat sofa tadi.
"Oh ya? Taruh aja di kabinet atas." perintah Karla. Pria itu memang beberapa kali membelikan mereka berdua beberapa makanan untuk stok di rumah.
Walaupun pihak agensi acara memang selalu mengisi stok makanan mereka setiap minggu. Tetapi pria itu selalu inisiatif untuk membawa makanan sepulang kerja.
Pernah Karla menanyakan untuk siapa makanan yang di bawakan oleh pria itu. Saat pertama kali Dhio membawakan makanan sepulang dari kerjanya. Karena sungkan dan tidak enak jika ia meminta sebagian dari makanan itu.
Saat ditanyai seperti itu, Dhio memperbolehkan Karla juga ikut membawa makanan yang ia bawa pulang. Sejak saat itulah, Karla yang pengangguran. Sering kali meminta sebagian makanan dari Dhio.
Bahkan hampir tiga per empatnya jumlah makanan yang Dhio bawa pulang, Karla makan karena isi perutnya sebesar ukuran gajah Afrika.
.
.
.
.
.