In The House

In The House
Mobil



Di pagi hati itu, Karla di jemput oleh sebuah mobil perusahaan. Yang tidak lain, mobil perusahaan yang membuat acara In The House. ProTV.


Karla tau, perusahaan ProTV sudah berjalan sedari ia masih kecil. Mungkin lebih tepatnya berusia empat tahun. Seingat Karla, saat itu. Perusahaan ini tidak terlalu berkembang pesat.


Namun, sepertinya perusahaan ini sudah lebih maju. Dari pada perusahaan program TV lainnya.


Sedari awal Karla memasuki mobil itu. Pandangan tidak bisa lepas dari pemandangan luar kaca jendela. Menikmati suasana di luar.


Ini adalah pengalamannya yang bisa di hitung oleh jari dalam berkendara memakai sebuah mobil. Jadi, saat ia tau akan di jemput memakai sebuah mobil. Jantung Karla tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang.


Karla memang lahir di sebuah keluarga sederhana. Lebih tepatnya keluarga pas-pas an. Tidak berkecukupan. Malah, sedikit kekurangan.


Karla pun tau, kedua orang tua nya sering berhutang. Hanya untuk memenuhi keperluan makannya sehari hari. Karla cukup sedih dengan kenyataannya itu.


Sehingga, ia bertekad untuk bekerja di kota yang cukup ramai. Untuk mendapatkan upah yang lebih besar. Di bandingkan di kampung halamannya.


Hingga, sampai titik ini lah. Karla memilih untuk menjadi salah satu peserta acara In The House. Walaupun sedikit menyesal, karena sebelumnya ia tidak teliti dalam membaca program ini dengan detail.


Namun, Karla cukup bersemangat untuk menyelesaikan sejumlah misi dan menolak pasangan yang di pilihkan program acara ini agar mendapatkan sejumlah uang yang di janjikan perusahaan itu.


Karla merasa cukup optimis dengan tantangan itu. Karena Karla jarang menyukai pria yang pernah ia temui. Mungkin karena standar nya yang cukup tinggi. Atau mungkin ia belum tertarik dengan kisah percintaan.


"Neng, sudah sampai."


Lamunan Karla pun terhenti. Bersamaan dengan terhentinya mobil itu.


Kedua matanya pun melotot saat melihat keluar jendela. Tampak sebuah rumah berukuran cukup besar, ada di hadapannya. Rumah itu bercatkan putih dengan gaya modern. Terdapat taman kecil di depannya. Dan berpagar cukup tinggi.


Ini rumah impiannya. Terlihat modern, simple dan nyaman. Begitu melihatnya secara langsung pun, Karla langsung jatuh cinta.


Karla mengangguk kecil, sembari tetap terpesona dengan model rumah itu.


"Neng ingat kan saat pendaftaran, neng di tanyakan model rumah seperti apa yang paling neneng idamkan. Itulah mengapa rumah ini bisa di hadapan neng sekarang."


"Wow, ternyata perusahaan ini sangat memikirkan acara ini dengan detail ya. Rumah impian para peserta pun berhasil di buat untuk para pesertanya."


"Setau saya. Perusahaan ini memang memikirkan serial acara ini dengan matang matang. Dari pada serial acara lainnya."


Mendengar ucapan tadi, Karla pun ikut kagum dengan perusahaan ProTV. Perusahaan ini benar benar menawarkan hal yang sangat menguntungkan bagi para peserta nya.


Karla tidak habis pikir, bagaimana bisa ia akan tinggal di rumah ini dalam waktu tiga bulan. Cukup lama, dan cukup membuat Karla puas.


Bahkan ia hanya tinggal dengan seorang peserta pria. Yang tentu saja menyisakan banyak ruang untuk Karla. Selama tinggal di rumah itu.


"Terimakasih pak." ucap Karla tersenyum. Ketika mobil yang tadi ia tumpangi akan pergi. Pria paruh baya itu pun ikut tersenyum.


Karla pun segera memasuki rumah tersebut. Dengan kunci yang telah di berikan oleh seorang panitia, sebelum Karla berangkat ke arah rumah ini.


Kedua mata nya pun kembali ikut melotot. Melihat seluruh interior yang berada di dalam rumah. Sepertinya ia tidak bisa berhenti terlihat kampungan dan norak. Selama ada di dalam rumah ini.


.


.


.