In The House

In The House
Dispenser



Setelah hampir sepuluh menit Karla merasakan lembutnya permukaan sofa. Bel rumah pun terdengar berbunyi. Sontak membuat karla terkejut lalu beranjak. "Sebentar." ucap Karla. Segera menghampiri pintu masuk rumah tersebut.


Karla membuka pintu tersebut perlahan. Hingga menampakkan sesosok pria muda. Yang sosoknya pernah ia lihat.


"Kamu?" refleks Karla menunjukkan jari telunjuk kearah pria tersebut, dengan kedua matanya yang melotot.


Tak kalah terkejutnya. Pria itu mengeluarkan ekspresi yang membuat Karla bergidik jijik.


Walaupun paras pria itu terbilang ganteng? Tampan? Apalah itu. Karla tetap ogah melihatnya. Apalagi setelah Karla mengingat tingkah yang pria itu saat hari pendaftaran peserta.


Pria itulah yang menabrak nya tanpa adanya permintaan maaf. Sungguh etika yang buruk.


Pria itu menyelonong masuk tanpa izin. Menyingkirkan badan kecil Karla dengan perlahan. Sontak Karla terkejut. Menutup pintu, lalu menguntit pria itu di belakangnya.


"Kamu orang yang nabrak aku pas hari pendafaran kan?" tanya Karla. Memegang pergelangan tangan pria itu.


"Iya, emang itu aku." jawab pria itu menatap Karla sebentar. Sebelum melepaskan genggaman Karla.


Pria itu segera melepaskan topi nya asal. Lalu duduk di sofa. Menghiraukan Karla yang sepertinya kesal terhadap perilaku nya.


"Bisa ga sih punya etika dikit aja?" Karla pun mengambil topi yang pria itu lepaskan secara asal. "Ambil topi kamu." Karla melempar topi ke arah pria itu dengan sedikit kasar. Hingga topi tersebut pun melayang mengenai wajah si pria.


Pria itu hanya berdecak. Dan menatap sinis Karla yang ada tidak jauh dari tempatnya. Sedangkan Karla yang sedang berkacak pinggang, ikut menatap kesal ke arah pria tersebut.


Baru saja melihat perilaku pria itu saja pun. Membuat batin Karla sedikit tertekan. Karla tidak bisa membayangkan dirinya tinggal dengan manusia spesies seperti ini, selama tiga bulan penuh.


Lagi lagi Karla merasa menyesal karena telah mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta. Apalagi rekan yang akan bersama sama menyelesaikan misi, seperti ini tingkah lakunya.


Sepertinya Karla juga tidak bisa menikmati indah dan nyaman nya tinggal di rumah ini. Pasti saja pria itu akan bertingkah seenak yang ia mau terhadap Karla.


"Woi? Kenapa bengong!" tanya pria itu yang kini ada di hadapannya. "Cepet ambilin air minum."


Memang, sebelum bersantai. Karla sempat berkeliling rumah ini, menyaksikan indah nya rumah ini dengan ke nora-an nya. Lalu merapihkan barang barang yang ia bawa dari kos-kos an nya.


Namun, sebelum kaki nya melangkah jauh. Pria itu memegang pergelangan tangannya. "Apa sih?" ucap Karla melepaskan genggaman itu.


"Ambilin aku minum."


"Ambil aja sendiri. Kamu kan punya tangan dan kaki. Noh di kulkas banyak, di dispenser juga. Lagian kamu seenak nya aja jadi orang. Kemarin nambrak aku ga minta maaf, trus sekarang? Kamu mau memperbabu aku?" omel Karla. Menggeluarkan seluruh unek unek yang ada.


Pria itu pun mengeluarkan isi dompetnya. Lalu memberikan selembaran uang merah kepada Karla. "Nih, ambilin aku minum." suruh pria itu. Lalu kembali duduk ke kursi.


Karla pun berkedip kebingungan. Mendapati selembar uang 100 ribuan ada di tangannya sekarang. Pria ini henar benar membuat nya kebingungan.


Bagaimana bisa ia menggeluarkan uang hanya untuk diambilkan air minum, yang seharusnya ia bisa ambil sendiri?


Memang manusia itu tidak bisa di tebak.


Segera, Karla pun melangkah menuju dispenser yang berada di dapur. Namun saat ia akan menekan tombol dispenser. Seekor cicak merayap ke tangannya, lalu bertengger di atas telapak tangannya.


Dengan refleks Karla mengkibas kibaskan tangannya. "Aaa, tolong! Ada cicak!" seru Karla sembari menghampiri pria itu.


Sontak suasana rumah pun berbeda seratus delapan puluh derajat, karena ke panikkan gadis itu. Anehnya pria itu malah ikut ketakutan, dan tidak menolongnya yang sedang kesusahan.


Sepertinya sekarang Karla tau, alasan mengapa pria itu membayar Karla hanya untuk membawakan minum.


.


.


.