
Karla menuruni tangga pada pagi ini. Suara gesekkan katel dan cutik besi bergema di dapur, hingga terdengar oleh telinga Karla. Kompor gas terlihat menyala. Ternyata benar, kali ini pria itu memasak lagi.
Karla mengucek kedua mata nya. Ia masih mengantuk saat ini. Kalau saja bukan karena suara katel itu terdengar. Mungkin ia belum terbangun pagi itu.
Semerbak aroma bawang dan cabe yang sedang di masak mengganggu penciumannya. Hingga Karla beberapa bersin saat itu. Pria itu berbalik ke arah datangnya suara.
Mereka bertemu tatap selama beberapa detik. Dhio yang masih memakai celemek pun kembali berbalik, namun kini mengoreng terasi. Dengan cekatan pria itu membuka bungkus terasi yang berwarna oranye. Dan menuangkan terasi itu ke katel.
Ia mengoseng terasi tersebut sampai tercium aroma nya. Dhio mematikan kompor. Lalu berjalan menuju sebuah kabinet yang tidak jauh di atasnya. Mengeluarkan sebuah cobek dan mutu. Lalu meletakkannya pada counter table.
Karla yang tidak jauh disana hanya memperhatikan gerak gerik pria itu. "Masak apa si?" tanya Karla mendekat. Kini rasa penasarannya lebih tinggi dari pada rasa kesal yang timbul kemarin.
"Nasi uduk." ucap Dhio hanya melihat Karla sekilas. Karla mengangguk anggukan kepalanya melihat lebih dekat. Ternyata pria itu sangat handal dalam mengulek sambel.
"Kenapa si kamu pake baju kaya gitu terus?" protes Dhio. Tidak mengalihkan pandangannya, masih tetap fokus mengulek sambel.
Karla memutar malas kedua bola matanya. "Jangan ke-geeran, aku cuma nyelesain misi wajib." ucap Karla menyilangkan kedua lengannya.
Akhirnya pria itu terdiam. Seperti nya Dhio harus lebih acuh kepada gadis itu. Lebih tepatnya tidak memperhatikan gerak gerik perbuatan gadis itu.
"Lah kamu kenapa masa terus dari kemarin?" tanya Karla. Ketika menyadari pria itu selalu berusaha keras untuk memasak. "Sama," jawab Dhio.
Karla hanya ber-oh ria. "Lagian aku ikut acara ini cuma buat dapet uang kok." ucap Karla blak blakan. Maksud dan tujuannya mengikuti acara ini. "Oh ya? Aku kira kamiu mau cari jodoh."
Pernyataan Dhio membuat kening Karla berkerut. Ternyata mereka memiliki tujuan yang sama. "Aku cuma di paksa bapak." Karla tertawa mendengar pernyataan pria itu.
Dhio pun mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu sekarang. "Kenapa ketawa?" tanya Dhio, lalu melangkah mengambil sebuah sendok di kabinet bawah.
"Yakin di paksa sama bapak?" tanya Karla masih tertawa. Dhio berdehem, "Kenapa emang?" tanya Dhio sembari menyendok, memindahkan sambel itu dari cobek ke sebuah mangkok.
"Udah gede gitu masih aja di paksa sama bapak. Masa si laki laki seumuran kamu masih bisa di atur sama orang tua nya?" Dhio terkekeh, lebih tepatnya tawa terpaksa. Lalu mengambil semangkuk sambel itu dan meletakkan nya di sebuah meja makan, yang tidak jauh dari sana.
Menata mangkuk sambel itu bersebelahan dengan sepiring telur dadar dan lauk asin. Tidak lupa, dengan lalap salada bokor dan timun. Kumpulan makanan itu tampak menggugah selera, siapa pun yang melihat nya.
"Ga semua orang bisa bebas memilih jalan hidupnya." ucap Dhio, mengambil tutup saji dan menutup kumpulan makanan itu. "Aku sebenarnya udah punya pasangan. Tapi," ucap Dhio terpotong. Menatap kedua bola mata gadis itu.
.
.
.
.
.