In The House

In The House
Piring



Dhio meneguk segelas air teh tawar yang ada di hadapannya hingga habis. Juga dengan piring Karla yang sudah nampak bersih tak tersisa. Kini gadis itu, mengambil beberapa piring dan menumpuknya. Berniat untuk menyucikan sisa piring kotor bekas mereka makan.


"Biar aku saja yang cuci." ucap Dhio, mengambil setumpuk piring yang ada di tangan Karla. Pasrah, Karla pun membiarkan piring itu beralih tangan.


Pria itu berjalan membelakangi Karla. Berusaha mencuci piring piring itu dengan bersih. Aliran air dari kran pun tampak mengalir dengan deras. Suara piring bergesekkan pun terdengar di telinga Karla, yang masih duduk di meja makan.


"Aku kaya nya harus ngomong sesuatu deh ke kamu." ucap Dhio, membuka obrolan. Karla yang tadi nya sedang menyenderkan wajahnya ke meja pun kini terbangun.


"Apa?"


"Aku ga bermaksud buat menyinggung kamu. Tapi disini aku cuma mencegah terjadinya konflik aja diantara kita." jawab Dhio yang masih tidak melihat ke arah Karla.


Karla mengkerutkan keningnya ketika mendengar pernyataan dari pria itu. "Aku ga mau hubungan apapun terjadi diantara kita. Aku mengikuti acara ini hanya demi kekasihku. Jadi jangan anggap serius jenis perlakuan apapun yang aku lakukan."


Sontak Karla tertawa kencang mendengar pernyataan itu. "Memangnya siapa juga yang ingin serius dengan mu?" Karla kembali tertawa setelah mendengar ucapan itu.


"Aku hanya memperingati mu saja, biar tidak jatuh cinta dengan ku." ucap Dhio, kini membalikkan badannya. Melihat kearah Karla yang masih sedang tertawa terbahak bahak.


"Siapa juga yang mau jatuh cinta dengan pria modelan seperti kamu." balas Karla. Kini Dhio merasa kesal dengan perkataan gadis itu. Yang secara tidak langsung mengejeknya.


"Tidak ada yang tahu nanti bagaimana akhirnya. Lagian aku juga udah punya seseorang."


"Jadi, aku harap kamu bisa bekerja sama dengan ku menyelesaikan misi misi harian dan misi wajib. Dan tidak melibatkan perasaan diantara kita." lanjut Dhio menegaskan perkataanya dengan serius.


"Oke, bisa lah gitu doang mah!" jawab Karla bersemangat, seolah tertantang. Melihat semangat Karla yang muncul, Dhio hanya terkekeh.


Ia mengeringkan kedua telapak tangannya ke sebuah lap tangan. Dan duduk tepat di hadapan Karla.


"Lala? Maaf aku lupa nama kamu juga." Karla yang merasa terpanggil, mendongakkan kepalanya. "Karla, kalo mau manggil Lala juga boleh." jawab Karla mendekatkan kepalanya dan masih menatap manik Dhio.


"Kamu jadi peserta di acara ini mau nyari jodoh?" tanya Dhio, sontak membuka banyak protes dari Karla.


"Enak aja kalo ngomong. Aku jadi peserta disini cuma mau nyari... Ekhm" ucapnya, lalu membuat isyarat menggesek gesekkan jari jempol dan telunjuk.


"Uang?"


"Yaps, duit." ucap Karla dengan santai. Dhio yang melihat tingkah gadis itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya, berdecak.


"Mengenaskan juga ya hidup kamu." ucap Dhio lalu membuat ekspresi wajah yang menyebalkan. Melihat perilaku Dhio, Karla sontak ingin menampar wajah pria itu.


"Tapi bagus deh, jadi kamu ga ngarepin cari cowo kan di sini. Dan aku bisa dengan santai ga perlu mikirin perasaan kamu ke aku." Karla terkekeh.


"Tenang aja, tipe aku tuh bukan cowo yang 'so iya' kaya kamu."


"Iya, pokoknya kita harus kerja sama buat nyelesain misi wajib. Kalo perlu misi harian juga, tanpa ngegunain perasaan." Karla mengangguk setuju, "Misi harian perlu si, soalnya dari sana aku bisa panen uang."


.


.


.


.


.