In The House

In The House
Garam



Sebuah notifikasi masuk pada ponsel Dhio. 'Kamera dinyalakan' tertera sebuah pesan dari nomor asing. Ia mengetuk pesan itu, yang otomatis memasukannnya ke sebuah aplikasi chat yang berlogo hijau. Ternyata itu adalah nomor sebuah bot.


Dengan rasa penasaran yang tinggi Dhio pun ikut memeriksa bio pada nomor bot tersebut. Ternyata benar, nomor bot ini adalah salah satu bot perusahaan ProTV.


Sepertinya ini adalah tanda, kamera yang ada di rumah ini sudah menyala. Batin Dhio memperkirakan. Semoga saja dugaannya benar.


Tak lama kemudian ia menemukan sebuah fitur di bot tersebut. Terdapat sebuah pilih yaitu 'misi harian' dan 'misi wajib'. Penasaran dengan fitur tersebut, ia pun memilih salah satu pilihan.


Setelah memencet tombol yang bertuliskan 'misi wajib'. Bot itu mengeluarkan dua perintah. 'Membangunkan partner' dan 'Membuatkan partner sarapan'. Setelah membaca itu, Dhio hanya bisa tersenyum miris.


Dengan sigap, ia pun beranjak dari ranjangnya. Melangkah menuju pintu, untuk membangunkan Karla. Langkahnya pun berhenti di depan kamar gadis itu.


Perlahan, dengan ragu, Dhio mengetuk pintu kamar gadis itu. Tidak bersuara suara apapun dari dalam kamar, sepi. Dengan terpaksa Dhio memasuki kamar gadis itu.


Terlihat sebuah tubuh gadis itu sedang tertidur pulas. Mulutnya pun ternganga dengan air liur sedikit keluar. Melihat pemandangan yang seharus nya ia tidak lihat. Dhio sedikit tertawa, lebih tepatnya menertawakan gadis tengil itu yang sedang tertidur.


Dhio pun mendekati gadis itu. Berniat untuk membangunkannya. Namun, muncul lah sebuah ide jahat dari otaknya yang cerdas.


Dhio segera melangkah keluar kamar, tanpa menutupnya kembali. Dan berjalan menuruni anak tangga, satu persatu. Dhio pun melangkahkan kaki nya ke arah dapur yang tepat tidak jauh dari tangga.


Dan membuka satu persatu laci dan kitchen set. Mencari sebuah wadah yang menampung garam. Dengan teliti ia, cek satu persatu toples yang ada di dalam kitchen set. Hingga ia berhasil menemukan benda yang ia cari dari tadi.


Dhio pun membawa setoples garam tersebut. Kembali ke kamar Karla. Dengan hati yang riang gembira, karena rencana jahilnya sebentar lagi akan berhasil. Dhio menaiki anak tangga satu persatu. Lalu memasuki kamar Karla, yang pintunya masih sama seperti semula. Tidak tertutup.


Hingga pada tahap akhir yang Dhio tunggu. Yaitu, menaburkan garam ke dalam mulut gadis itu. Dengan tambahan ekspresi jahil, dan terkekeh berulang kali. Dhio berhasil menaburkan sejumput garam tepat di atas lidah Karla yang terlihat karena mulutnya menganga lebar.


Dhio pun bersenang ria, dan melangkah keluar kamar dengan langkah terburu buru, namun masih memperhatikan suara yang ia timbulkan.


Disisi lain Karla yang merasakan hal aneh ada di dalam mulutnya. Refleks meludah masih dengan posisi berbaring. Karla pun terpaksa bangun dari tidurnya. Dan memeriksa lidahnya, yang hampir saja menelan sesuatu yang aneh.


Karla khawatir, ia kembali menelan eek cicak yang jatuh dari atas. Namun, rasanya ini berbeda. Terasa asin di lidah. Otaknya pun berfikir keras, hingga Karla menyadari sesuatu. Karla pun geram, dengan langkah yang terburu buru ia melangkah keluar kamar.


Menggedor gedor kamar Dhio dengan luapan emosi di pagi hari itu. "Buka pintunya!" teriak Karla, yang sudah tidak tahan tinggal bersama dengan pria itu.


Dengan perlahan pintu itu terbuka. Menampakkan Dhio yang sedang cengar cengir, berusaha menahan tawanya. Melihat ekspresi pria yang di hadapannya itu. Karla semakin kesal. Karla pun memutuskan untuk menendang kaki pria itu.


Segera Dhio, memegang kaki sebelahnya yang kesakitan akibat tendangan Karla. Setelah melihat Fhi kesakitan, Karla pun berlari dengan sekuat tenaga kembali memasuki kamar. Dan mengunci dirinya sendiri disana.


.


.


.


.