
Karla meneguk secangkir air yang ada di hadapannya tanpa tersisa. Pandangannya masih tidak bisa lepas dari Dhio yang sedang asik memakan sepiring nasi goreng dengan menonton acara televisi kesukaannya.
Perasaan Karla sekarang sangat kesal. Mengapa semua pria sama saja? Egois dan tidak selalu mementingkan kepentingan orang lain? Menyebalkan. Sungguh menyesal ia tinggal serumah dengan pria yang seperti.
Sangat tidak dewasa dna bersifat kekanak kanakan. Ia sangat anti dengan pria seperti itu. Jauh dari kata pria idaman, dalam kamus pria idaman Karla.
Dengan perasaan yang masih kesal. Karla mencuci peralatan makan yang sudah ia pakai. Tidak lupa dengan sebuah teflon yang sepertinya sudah pria itu pakai saat memasakannya nasi goreng.
Setelah mencuci seluruh peralatan makan. Karla segera membasuh kedua tangannya memastikan tangannya kembali bersih. Ia tidak ingin tangannya ber aroma tidak sedap. Hanya karena mencuci peralatan makan.
Sudah selesai mengeringkan kedua tangannya menggunakan sebuah lap tangan. Karla melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga.
"Jangan lupa besok bagian kamu ngebersihin rumah." teriak Dhio, melihat ke arah gadis itu yang masih terlihat kesal.
"Makasi udah bantuin aku nyelesain misi wajib!" sahut Dhio kembali dengan cengengesan. Karla pun memutarkan badannya. Ia baru sadar, ini adalah hari pertama acara ini di mulai. Dan pastinya seluruh kamera yang ada di rumah ini sudah menyala semua.
Sial. Dia hanya memakai handuk saat setelah membersihkan tubuhnya. Sedetik kemudian, Karla merasa bodoh sesaat. Bisa bisanya ia melupakan hal sepenting ini. Dan hampir menganggap rumah ini miliknya sendiri dengan melakukan hal seenaknya.
Bahkan sepertinya, kejadian tadi bisa saja di saksi kan oleh para penonton series itu nanti. Habislah dia. Apalagi sampai detik ini, Karla bertingkah laku seenaknya. Dan bisa saja ia merusak pandangan orang orang terhadap dirinya sebagai seorang wanita anggun.
Dasar, ini semua memang gara gara pria itu. Gara gara Dhio, ia menjadi banyak mengeluarkan emosi nya. Pikiran Karla pun mengeluarkan sebuah ide.
Ia mengeluarkan sebuah ponsel tua nya. Dan melihat ke sebuah pesan yang sudah ada sejak dari pagi. Namun, belum sempat ia buka. Karla segera menekan tombol 'misi wajib' pada layar ponselnya.
Tanpa berpikir lama ia melangkahkan kaki nya ke dalam kamar. Lalu segera memilah beberapa gaun di lemari kamarnya. Karla sebenarnya memiliki cukup banyak gaun.
Dari gaun yang terlihat simple dan casual sampai dengan gaun yang terlihat manis jika di kenakan. Karla pun memilah gaun yang cocok di gunakan saat berada di rumah, dan terlibat bagus jika di kenakan.
Mata nya pun tertuju kepada sebuah gaun yang ia beli setahun yang lalu saat hari lebaran. Dengan cepat ia melepaskan gaun itu dari hanger baju. Dan mencocokan dirinya dengan gaun itu di depan sebuah cermin.
Bibirnya pun terangkat melihat gaun berwarna unggu itu terlihat bersanding dengan tubuhnya. Dengan cepat Karla memakaikan gaun pada tubuhnya.
Gaun itu memiliki pita tepat berada di pinggang. Menambahkan aksen feminim dan lucu ketika di pakai. Panjang gaun tersebut pun hanya selutut. Dengan pada bagian lengan berukuran pendek serta serutan karet yang ada di lengan. Bahan gaunnya pun lembut ketika Karla sentuh. Sepertinya gaun ini akan terasa naman jika ia di pakai sehari hari.
.
.
.
.
.