
Dengan perasaan yang penuh amarah. Dhio melangkah pergi, meninggalkan Karla sendiri. Membiarkan gadis itu sendiri di kamarnya. Amarah Dhio memuncak, sedari Karla yang membangunkannya langsung dari tidur. Hanya untuk memerintahnya untuk berpindah kamar.
Dengan berat hati, Dhio menuruti kemauan gadis itu. Awas saja, dia akan membalasnya suatu saat nanti. Batin Dhio melangkah memasuki kamar untuk ia tempati di rumah ini.
Selepas membuka pintu yang berwarnakan coklat tua. Kedua mata nya langsung melihat sebuah ranjang besar berlapiskan bed cover berwarna abu. Tepat di hadapan tersebut berdirinya sebuah lemari berwarnakan putih.
Sedangkan di samping ranjang itu terdapat sebuah meja kerja atau meja belajar yang menghadap ke dinding. Kamar itu bercatkan putih. Menambahkan kesan modern, dan rapi ketika memandangnya.
Kamar itu terlihat sedikit sama dengan kamarnya yang berada di rumah. Namun, bedanya kamar miliknya yang berada di rumah sedikit lebih besar dan tentu saja lebih nyaman.
Dhio pun melangkahkan kedua kaki nya. Memasuki kamar itu, lalu menutup pintu nya dengan perlahan. Badannya pun segera menimpa ranjang itu, melepaskan kelelahan yang masih ada.
Namun, sepertinya ia tidak bisa melanjutkan tidurnya. Kantuknya sudah hilang selepas tadi. Pandangannya pun mengitari seluruh isi kamar sembari berbaring. Melihat seekor cicak yang berada di dinding. Tepatnya berada di atas kalender, dekat pintu.
Dhio merasa geli melihat hewan itu. Seluruh badannya pun ikut merinding. Entah mengapa, setelah melihat hewan tersebut. Dhio mengingat peristiwa tadi siang, bersama gadis gila itu.
Dhio pun tertawa geli setelah melihat itu. Bahkan bayang bayang teriakan gadis yang bernama Karla itu pun masih terngiang di kepalanya. Dhio juga masih bisa membayangkan ekspresi terkejut gadis itu. Dhio pun kembali tertawa saat membayangkannya.
Namun tiba tiba, terdengan sebuah ketukan di pintu kamar nya. Refleks Dhio pun mendudukkan dirinya. Merubah posisi nya dari terlentang menjadi duduk di sisi ranjang.
Lalu ia pun segera melangkah menuju pintu kamar itu. Membuka pintu itu dengan perlahan. Terlihat badan terlihat badan perempuan itu sedang berdiri di depan kamarnya. Tersenyum canggung dan menatap kearah kaki.
"Emm..."
"Maafin aku ya, soal tadi." ucap Karla tetap menatap ke arah bawah. Sepertinya gadis itu tidak ingin menatap kedua sorot mata Dhio.
Dhio pun berdehem mengerti. "Sebelum kamu ngomong juga udah aku maafin,"
"Cuma itu doang?" tanya Dhio, sembari akan menutup pintu nya.
"Ada, panitia acara ini. Mereka datang. Aku ga mau bicara dua mata sama panitia itu."
"Yaudah, ayo."
Gadis dan pria itu pun melangkahkan kaki mereka menuju ruang tamu. Mereka beriringan menuju ruang tamu. Karla yang memimpin, sedangkan Dhio berada di belakang gadis itu.
Terlihat seorang wanita berumur tiga puluhan sedang duduk di sofa mereka. Menatap datangnya arah mereka, ketika menuruni tangga dari lantai dua. Wanita itu pun tersenyum, ketika Dhio dan Karla menatap ke arah wanita tersebut.
Dhio dan Karla pun segera duduk berhadapan dengan wanita itu. Karla kembali berdiri setelah mengingat sesuatu.
"Eh teteh mau aku buatin sesuatu?" tanya Karla refleks bersiap untuk berdiri. Wanita itu tersenyum, lalu menggeleng. "Tidak usah neng, saya disini cuma sebentar. Hanya ingin memberitahu kalian benerapa informasi dan tata cara aturan acara sebagai peserta."
Wanita itu pun segera mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas nya. Wanita itu juga terlihat mengeluarkan dua buah kartu nama. Lalu memberikannya kepada gadis dan pria tersebut.
"Ini kartu nama saya, disana tertera nomor telepon saya. Jadi kalian bisa menghubungi saya jika terjadi apa apa." ucap wanita itu.
Karla tersenyum mengangguk. "Kalian tidak usah sungkan untuk menghubungi saya. Karena saya disini sebagai wali pembina peserta. Jadi jika ada apa apa hubungi saya." jelas wanita itu sekali lagi.
Dhio pun mengamati kartu nama yang di berikan wanita tersebut. Tercantum nama wanita tersebut, yang bertuliskan 'Evita Nur Lia'. Di bawah nama terdapat beberapa informasi kontak. Seperti nomor pribadi, dan akun sosial pribadi. Di samping itu, terdapat foto wanita itu sedang duduk tersenyum menghadap ke arah kamera.
"Saya juga disini membawa beberapa kertas berisikan informasi acara ini. Dan beberapa aturan agar kalian bisa mendapatkan hadiah dari event ini." ucap wanita itu, membereskan tumpukan kertas yang kira kira 6-8 lembar.
.
.
.