
"Ngomong ngomong nama aku Dhio." ucap pria itu yang masih saja sedang memperhatikan Karla mengobati kaki nya yang terluka. Akibat kena salah satu pecahan kaca dari gelas yang terjatuh.
Karla hanya menatap pria itu sekilas. Ia masih kesal dengan perilaku pria itu. Berperilaku seenaknya, dan membuat kaki nya terluka seperti sekarang.
Karena Dhio yang memerintah Karla mengambilkan segelas minum. Telapak tangan Karla di tempeli seekor cicak yang berasal dari dispenser. Karena panik dan takut oleh hewan tersebut. Karla tanpa sengaja menjatuhkan segelas air putih yang sudah ada di tangannya.
Hingga pecahan kaca dari gelas itu lah yang membuatnya kaki nya terluka. Sungguh pria yang merepotkan hidupnya.
"Kamu yakin ga mau cek luka nya lagi? Siapa tau masih ada pecahan kaca yang nempel." ucap Dhio masih memerhatikan Karla yang akan mengolesi luka nya dengan betadine.
"Sini sama aku aja." tawar Dhio merebut kain kasa yang sedang di pegang oleh Karla. Sepertinya lelaki itu baru merasa bersalah atas tingkah lakunya.
"Diem, sama aku aja." Karla kembali merebut kain kasa miliknya. Karla kemudian kembali mendongak, menatap tatapan pria itu.
"Nama aku Karla."
"Udah sana jangan merhatiin aku aja. Urusin urusan kamu sendiri" ucap Karla menegaskan.
"Yaudah, orang mau bantuin. Malah kaya gitu." Dhio pun pergi menuju lantai atas. Lantai yang di mana terdapat dua kamar yang saling bersebelahan.
Semoga saja Dhio tidak mengambil kamar tidur yang sudah Karla pilih. Bantin Karla.
Sesudah mengobati luka nya itu. Karla kembali bereskan peralatan dan obat obatan yang tadi sempat ia keluarkan, ke P3K. Lalu menaruh kotak P3K itu di salah satu lemari hias, di bawah televisi.
Tanpa ia sadari, Karla menguap. Badannya pun sedikit terasa capek setelah seharian di jalanan. Dan menghabiskan energi nya untuk bertengkar dengan pria yang baru ia kenal.
Karla pun memutuskan untuk merebahkan badannya sebentar di atas sofa yang empuk itu. Sembari menonton sebuah kartun di televisi yang menempel di dinding.
Kedua matanya pun terasa berat. Hingga kedua mata Karla pun terpejam.
•••
Karla berjalan lunglai menuju kamarnya. Menaiki lantai dengan hati hati, walaupun masih belum sepenuhnya sadar.
Dengan pelan, ia membuka pintu kamarnya yang berukuran cukup besar itu. Terlihat sebuah ranjang empuk berlapiskan bedcover putih sedang menantinya. Dengan segera ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang itu.
Namun, sesuatu hal yang ganjal terjadi. Terlihat sebuah kepala yang berselimutkan bedcover di ranjangnya. Sontak, membuat amarah Karla kembali memuncak.
Bisa bisanya pria itu memilih kamar yang sama dengannya. Padahal menurutnya kamar di sebelah tidak kalah bagus dan terlihat nyaman.
"Dhio, bangun." ucap Karla masih mencoba bersabar.
"Dhio."
"Bangun, Dhio."
"Bangun."
Sudah beberapa kali Karla memanggil untuk membangunkannya. Namun, pria itu tidak sama sekali merespon dan tidak terbangun dari tidurnya. Mau tidak mau, dia harus menggoyang goyangkan tubuh pria itu agar terbangun dari ranjang miliknya.
Dengan guncangan kencang, Karla masih berusaha membangunkan Dhio. Ternyata pria itu sangat kebluk.
Karla pun mengambil sebuh keputusan. Untuk menimpuk pria itu menggunakan sebuah bantal.
.
.
.