In The House

In The House
Ponsel



Siang ini Karla sedang memainkan ponselnya. Menghapus rasa bosan yang sering melandanya. Membuka sebuah aplikasi merah yang berisi banyak video. Lalu dengan santai menghabiskan waktu nya dengan menghabiskan sekantung makanan ringan.


Karla memang terlihat sangat santai. Di bandingkan orang orang pengangguran pada umumnya. Karla percaya bahwa suatu saat nanti ia akan mendapatkan sebuah pekerjaan. Walaupun ia tidak berusaha terlalu keras.


Ponselnya pun bergetar. Menampilkan sebuah notifikasi di layar. Dengan rasa penasaran, ia pun membukanya.


Kedua matanya pun melotot. Melihat isi email yang di berikan kepadanya.


...'TANDA PENERIMAAN PESERTA IN THE HOUSE'...


Membaca subyek email nya pun sudah membuatnya tidak percaya. Sepertinya benar, ia tidak harus terlalu bekerja keras untuk mendapatkan uang yang banyak.


Dengan cepat, Karla membaca seluruh isi email tersebut. Bibirnya pun terangkat. Setelah emmbaca isi email tersebut.


"Aku di terima?" sorak Karla.


Tubuhnya pun refleks berloncat loncat diatas ranjang. Ikut serta merayakan sebuah kemenangan.


"Seratus juta, tunggulah aku sayang!" ucap Karla menari diatas ranjang.


Kedua bibirnya pun terus terangkat. Hingga ponsel nya pun kembali berdering. Seteleh melihat kearah ponselnya. Karla melihat sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak di kenal.


Ia pun segara mengangkat telepon tersebut.


"Halo, ini siapa?"


Tanya Karla mengerutkan keningnya.


"Selamat siang kak, saya salah satu panitia dalam perekrutan peserta In The House. Saya menelepon kak Karla, bertujuan untuk menginformasikan kakak. Untuk segera datang ke sebuah alamat yang nanti saya kirim kan lewat nomor ini ya." ucap sang penelepon bersuara lelaki itu.


"Baik kak, terima kasih."


Karla pun segera menutup telepon itu. Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Menampilkan alamat yang sepertinya tidak jauh dari kos Karla.


Namun, dahi Karla kembali berkerut ketika membaca salah satu barang yang harus ia bawa.


"Perlengkapan mandi?" tanya nya dalam hati.


Dengan segera ia pun menghubungi nomor itu kembali. Menanyakan hal yang tidak bisa ia pahami.


Telepon itu kembali terangkat, namun dengan suara yang berbeda. Sepertinya Karla berbicara dengan panitia yang berbeda.


"Halo, aku Karla. Salah satu peserta In The House. Ingin menanyai acara In The House secara detail. Jadi bagaimana acara ini di jalankan dan apa saja peraturannya?"


"Halo kak Karla. Untuk peraturan dan bagaimana acara ini di laksanakan. Sudah kami jelaskan di kertas lembaran pertama. Pada saat pendaftaran peserta berlangsung. Jika kakak ingin kembali membaca nya, kami bisa kirimkan kembali file yang berisi aturannya."


Bodoh. Gerutu Karla di dalam hati. Setelah mengingat bahwa ia tidak membaca kertas itu sama sekali. Karla kira, tulisan itu hanyalah hal hal yang tidak penting, yang membuang waktunya jika ia baca.


"Iya, saya mau. Kirimkan file itu." perintah Karla.


"Baik kak, file sudah terkirim. Jika kakak butuh bantuan lagi. Bisa kembali hubungi nomor ini ya."


Karla segera membuka isi file itu. Kedua mata nya pun kembali melotot. Membaca seluruh isi file tersebut.


Bagaimana bisa ia mendaftarkan diri menjadi seorang peserta dalam acara seperti ini? Sepertinya rasa kebahagiaan yang Karla rasakan sudah terganti dengan rasa penyesalan.


Karla pun tidak habis habis menyerutuki dirinya sendiri. Akibat perbuatan nya yang telah Karla buat.


.


.


.