In The House

In The House
Gaun



Dhio menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Menatap nya secara berulang kali. Bahkan Dhio berpikir apa yang sedang gadis itu lakukan. Berdadan dan memakai pakaian bagus pada saat siang hari.


Gadis itu menyilangkan tangannya di hadapan Dhio. "Apaan si liat liat mulu." tanya Karla yang melihat Dhio yang sedang memperhatikannya.


"Kamu ngapain pake baju bagus?" ucap Dhio. Menatap Karla setelah memperhatikan penampilan gadis itu dengan detail.


"Serah aku lah. Kok ngatur." jawab Karla acuh lanjut memainkan ponselnya. Dhio yang mendengar jawaban gadis itu pun hanya berdecak. Dhio tidak bisa membiarkan hal seperti ini terus terjadi.


Sebenarnya ia tidak masalah jika gadis itu berdandan ataupun berpakaian bagus saat di siang hari. Namun, entah mengapa karena itu, Dhio mulai memandang gadis itu sebagai seorang wanita. Dan hal seperti ini, berbahaya untuk mental Dhio sendiri.


Dan entah mengapa setelah lama lama memperhatikan. Pakaian yang gadis itu pakai adalah gaya berpakaian wanita yang paling Dhio sukai. Entah itu dari make up nya yang terlihat ringan, namun masih enak di pandang. Dan gaun selutut dengan kesan yang manis.


Di tambah dengan poni dan rambut Karla yang terurai. Menambahkan kesan feminim. Membuat hati Dhio yang sebagai seorang pria sejati dalam keadaan tidak aman. Tidak. Ia tidak boleh tertarik kepada gadis itu. Ia tidak mau di nikahkan dengan gadis seperti itu. Batin Dhio. Menolak rasa ketertarikan terhadap gadis itu.


"Karla." Karla pun berdehem, mendengar panggilan dari pria itu. "Bisa ga jangan berpenampilan gitu lagi di depanku?." ucap Dhio. Mau tidak mau, ia harus mengatakan hal itu secara blak blakan kepada Karla. Karena ia harus menepis perasaan tertariknya terhadap lawan jenis. Demi kekasihnya yang sedang menunggu.


Karla pun menghentikan aktifitasnya. Menatap Dhio nanar. Karla sedikit terkejut dengan perkataan yang di ucapkan Dhio. Bisa bisa nya Dhio yang baru tinggal dengan nya, mengatur atur hidupnya. Lagi pula ini adalah sebuah misi wajib yang mau tidak mau harus Karla lakukan.


"Emang kenapa si?" tanya Karla. Karla mulai muak dengan komenan Dhio sedari tadi tentang penampilannya.


"Engga apa apa si. Tapi, plis jangan berpenampilan kaya gitu lagi ya?" mohon Dhio. Karla memutar kedua bola matanya malas.


"Ya mungkin." jawab Karla, senormal mungkin. Namun, di dalam hati nya ia merasakan sakit. Karena ejekan secara halus dari pria itu.


"Aku juga kaya gini gara gara misi wajib." lanjut Karla secara gamblang. Setelah mengatakan itu, Karla segera melangkahkan kakinya meninggalkan Dhio di sofa sendirian. Tidak lupa, Karla pun membawa ponsel tua nya.


Karla sudah tidak ingin melihat pria itu lagi. Bisa bisa nya pria itu mengaturnya dalam berpakaian. Mungkin kiranya pria itu, Karla berdandan agar Dhio tertarik kepadanya. Sangat menjijikan.


Dari pada melakukan hal yang seperti itu. Ia lebih baik melakukan hal yang lebih berfaedah. Seperti mencari loker, agar setelah acara ini selesai. Ia bisa berpenghasilan.


Karla membuka pintu kamarnya. Lalu masuk. Merebahkan dirinya sendiri, melepas penat.


.


.


.


.


.