In The House

In The House
Nasi Goreng



Sudah sejam Karla mengurung dirinya di kamar. Kini ia tidak tahan dengan badannya yang terasa lengket. Ia baru saja terbangun dari tidurnya, belum sama sekali membersihkan tubuhnya. Termasuk menggosok giginya. Nafasnya yang bau, membuat Karla semakin tidak tahan terhadap dirinya sendiri.


Dengan lunglai, ia pun mempersiapkan sebuah baju yang akan ia pakai setelah mandi, termasuk dalaman.


Karla sekarang merasa deg-degan untuk keluar kamar. Nyalinya belum kuat, mentalnya belum siap untuk bertemu Dhio. Karla takut, ia akan dihabisi oleh pria itu. Hanya karena Karla telah menenang kaki pria it dengan keras.


Namun, Karla sudah tidak tahan dengan badannya. Ia ingin sekali untuk segera membasuh diri. Kini perdebatan batin terus berlanjut di benaknya. Hingga ia memutuskan untuk memberanikan dirinya keluar dari kamar.


Karla menguk salivanya, ketika ia membuka pintu kamarnya sedikit. Ia mengintip lewat celah pintu itu. Tidak ada siapa siapa. Sedikit demi sedikit Karla membuka pintu itu semakin lebar.


Ternyata tidak ada siapa siapa. Dengan energi yang tersisa, Karla melangkahkan kaki nya dengan cepat. Kedua bola mata nya yang sibuk mengintai situasi lantai dua. Saat ia tepat berada di depan pintu kamar mandi. Karla pun segera masuk.


Perasaannya begitu lega setelah berhasil memasuki kamar mandi. Ia kemudian menyimpan sebuah handuk, yang tidak lupa ia bawa saat ke kamar mandi.


Ia mulai membilas seluruh badannya. Dimulai dari menyabuni badannya hingga di akhiri dengan menyikat giginya. Karla pun membalut tubuhnya dengan handuk yang ia bawa.


Ia pun membuka sedikit pintunya. Melihat keadaan yang ada di luar kamar mandi. Memastikan pria itu tidak berada di lantai dua. Karena ia tidak ingin, hanya memakai sebuah handuk lalu di lihat oleh pria itu. Kedua mata nya menyapu melihat ke sekeliling lantai dua.


Tidak ada siapa siapa rupanya. Karla dengan cepat, memberanikan dirinya keluar kamar mandi. Dengan cepat ia kembali menutup pintu. Dan melangkahkan kaki nya selebar mungkin ke arah kamar miliknya.


Namun, langkahnya terhenti. Ketika indra penciumannya, mencium suatu aroma yang sedap. Sepertinya pria itu sedang memasak. Pikir Karla, setelah mencium aroma itu.


Karla pun kembali melangkah, memasuki kamarnya. Untuk melapisi tubuhnya dengan sebuah pakaian. Lalu kembali melihat apa yang sedang di masak oleh pria itu.


Setelah selesai berpakaian, Karla pun melihat keadaannya melalui sebuah cermin yang ada di kamarnya. Karla segera menggambil sebuah sisir yang terletak tidak jauh disana. Dengan perlahan, ia menyisiri rambutnya yang kurang lebih sepanjang bahu itu.


Tidak lupa, ia pun memakai produk perawatan wajahnya. Setelah itu, ia pun mengolesi bibirnya dengan lipbalm. Mencegah bibirnya kering. Seklai lagi ia membenarkan penampilannya dengan membenarkan kaos yang ia pakai.


belum selesai membenarkan penampilannya, pintu kamar di ketok. "Sebentar." teriak Karla dari dalam kamar. Apa yang akan pria itu lakukan lagi kepada nya. Dengan cepat ia menghampiri. Lalu membukakan pintu itu.


"Ga. Kamu keterlaluan." Karla mengelindingkan bola matanya.


"Pokoknya kamu harus maapin aku. Nih, makan." Dhio menyodorkan sepiring nasi goreng itu kehadapan Karla. Dengan cepat langsung Karla ambil alih.


"Abisin, atau aku cincang kamu kaya bawang putih." peringat Dhio, kembali menuruni anak tangga. Karla hanya terdiam membeku sembari melihat ke arah perginya pria itu.


Karla pun menutup pintu kamarnya kembali. Ia memutuskan untuk memakan sepiring nasi goreng itu di depan televisi. Dengan hati hati, Karla menuruni anak tangga sembari membawa sepiring nasi goreng di tangannya.


Mendengar langkah kaki gadis itu sedang menuruni anak tangga. Dhio yang sedang menata sepiring nasi goreng miliknya melihat ke arah datangnya Karla.


"Kenapa turun?"


"Aku mau makan sambil nonton tv." ucap Karla.


Namun, dengan cepat pria itu menduduki sofa sembari menaruh nasi goreng miliknya. Mencegah Karla mengambil alih televisi yang ada di hadapannya. "Tempat ini udah aku booking, ke atas lagi sana." perintah pria itu dengan menggayunkan kedua tangannya. Mengisyaratkan agar Karla pergi.


.


.


.


.


.


.