In The House

In The House
Seratus Juta



Sinar matahari menembus jendela kamar Karla. Kini, gadis itu sedang mencari sebuah cara agar secepatnya memiliki sebuah pekerjaan.


Memang dalam setahun ini Karla sudah ditolak sepuluh kali dengan seputuh perusahaan sekaligus. Hal ini memang sempat membuatnya berputus asa.


Namun, ketika mengingat kembali cita citanya. Rasa semangat pada jiwa mudanya itu kembali menggelora.


Karla sempat berpikir untuk menjadi seorang juragan warteg yang memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Namun, lagi lagi mimpi nya terhalang. Karena saat ini, ia tidak memiliki sepeserpun uang untuk modal.


Bagaimana ingin membuka banyak cabang warteg, jika makan pun masih kesusahan? Pikir Karla dalam hati.


Lamunannya pun terhambur ketika suara iklan di televisi yang menganggetkannya.


"Kamu adalah seorang yang suka tantangan? Kamu juga penyuka uang? Datanglah ke In The House! Daftar segera menjadi peserta kami. Maka anda akan mendapatkan uang atau bisa juga jodoh!"


Iklan itu pun diakhiri dengan terpajangnya nomor kontak sebuah perusahaan. Dengan tulisan 'Bergabunglah! Dan jadilah salah satu pasangan teromantis di dunia ini!'


Mendengar iklan di televisi itu Karla tertawa. Karla merasa iklan itu adalah iklan terkonyol yang pernah ia tonton. Mana bisa mencari jodoh melewati series televisi. Sangat sangat tidak mungkin.


Mencari nya lewat dunia nyata juga begitu sulit, apalagi dengan melewati televisi series yang berembel embel uang. Pikir Karla sesaat. Kemudian kedua matanya pun melotot ketika melihat sebuah tulisan yang menggiurkan mata.


'Mendapatkan 100 juta jika anda berhasil '


Bisa bisanya sebuah acara televisi memberikan uang sebanyak itu hanya untuk membuat sebuah tantangan kepada pesertanya.


Dengan segera Karla membuka hp nya yang terlihat sudah ketinggalan zaman itu. Lalu mencari 'In The House Series' di penelusuran aplikasi Google.


Sepertinya ia mulai tertarik dengan penawaran itu.


Mulutnya kembali menganga, menemukan kenyataan bahwa program itu benar benar memberikan hadiah yang sangat fantastis bagi para pesertanya.


Dengan mengalir ia membaca syarat syarat pendaftaran menjadi seorang peserta.


Oke? Ia merasa memenuhi syarat pertama itu. Karena seingatnya ia sudah berusia sembilan belas tahun.


Jarinya kembali menggeser layar ponsel yang ada di genggamannya itu.


'Kedua, berstatus single.'


Karla tersenyum melihat salah satu syarat itu. Untung saja dia sudah lama menjomblo. Jadi mungkin saja dia bisa mendaftarkan dirinya menjadi salah satu peserta acara itu.


'Ketiga, berpenampilan menarik.'


Sontak ia beranjak, dan melihat kearah cermin. Karla merasa dia sudah cukup menarik dengan penampilan fisiknya. Walaupun dengan keadaan yang masih belum mandi.


Hidungnya yang mancung, dan kedua alisnya yang rapih adalah fitur wajah yang sangat Karla banggakan. Yang terakhir ia memiliki senyuman yang manis.


Karla kembali fokus dan menggeser layar handphone nya. Lagi lagi ia melihat nomor itu tercantum di bawah persyaratan kriteria peserta. Namun kini, dengan sebuah email untuk mendaftarkan diri.


Dengan cepat ia, mengcopas email itu. Dan menggetikkan kata per kata di dalam aplikasi email. Di mulai dari kata pembuka yang sopan dan di akhiri dengan penutupan yang ringkas.


Isi email nya pun terkesan cukup padat, dan jelas. Ia pun terdiam sejenak. Mengapa ia malah tertarik mendaftarkan dirinya ke program acara tersebut sebagai peserta?


Dengan perlahan, Karla menghapus kata per kata yang sudah ia tulis di email. Namun, entah mengapa hati nya menolak. Dan bersihkeras menyuruhnya mendaftar ke program acara tersebut.


.


.


.