
Pagi itu Karla berteriak heboh. Mendapati emailnya telah dibalas oleh salah satu panitia pendaftaran peserta di acara In The House.
"Bodoh, kenapa aku malah ikut ke acara kaya ginian ya?" gerutu Karla mengacak acak rambutnya sendiri.
Nafasnya pun dihembuskan dengan kasar. Karla tidak mau lagi melakah mundur, ia sudah sejauh ini melangkah.
Di dalam email itu, ia di minta besok untuk menghampiri tempat pendaftaran dengan membawa persyaratan untuk memenuhi kontrak dengan acara tersebut.
Melihat banyak sekali daftar surat yang harus di bawa besok. Dengan antusias, ia segera membawa surat surat tersebut lalu memasukkannya ke dalam sebuah map coklat.
Setelah itu, Karla bergegas membuat secangkir teh yang sering ia minum di pagi hari. Dengan melamun, ia melangkah menuju dapur.
Karla memikirkan bagaimana kedepannya jika ia di terima sebagai peserta di acara tersebut. Pasti ia akan masuk kedalam televisi dan menjadi terkenal di kalangan keluarga nya yang ada di kampung halaman.
Tanpa sadar, Karla sedikit tersenyum memikirkan hal itu. Ia kembali kegirangan ketika membayangkan, ia berhasil menyelesaikan seluruh misi dalam acara tersebut.
Dan mendapatkan uang sejumlah seratus juta. Walaupun bagi sebagian orang uang sejumlah begitu tidak terlalu banyak. Namun bagi Karla yang hidup pas pasan.
Uang bernilai seratus juta sungguh fantastis dimata nya. Bahkan ia bisa mendapakannya hanya lewat tiga bulan saja, melalui program acara konyol itu.
Seluruh khayalannya pun buyar ketika secangkir teh yang ia pegang terjatuh. Lalu membasahi lantai dan sedikit mengenai jempol kaki kanan nya.
Dengan segera ia berjinjit, menahan kesakitan yang baru ia terima. Lagi lagi hari ini Karla melakukan hal yang bodoh.
Mau tidak mau, sekarang ia harus membersihkan lantai kos-kosan nya yang sempit itu. Dengan malas, ia menggambil kain pel yang tepat berada di pojok sisi kamar mandi.
Dan memberisihkan tumpahan teh yang baru saja ia buat. Untung saja, cangkir yang ia pakai terbuat dari plastik.
Mungkin itu salah satu alasan mengapa Karla sering menggunakan cangkir plastik yang berwarna warni. Selain harga nya yang cukup murah di kantong. Cangkir itu tidak berani melukai kakinya. Warna nya pun tidak kalah cukup menarik.
Sudah malas dengan urusan perteh an di pagi hari. Karla ingin segera membersihkan tubuhnya. Ia sudah tidak tahan dengan bau jigong yang di keluar dari mulutnya sendiri.
Dengan cepat, Karla membersihkan badannya. Ia tidak mau terlalu lama berdiam diri di kamar mandi. Bahkan ia ingat menurut perkataan ibunya, seorang gadis tidak boleh terlalu lama di dalam kamar mandi.
Karla masih mengingat perkataan ibu nya itu. Walaupun ibunya tinggal jauh di kampung halaman. Terkadang, Karla mengingat sebagian perkataan ibu nya yang khas.
Mungkin ini sudah menempel secara permanen kedalam otaknya. Karla memakaikan kaos oblong dan celana kolor dengan cepat.
Lalu membersihkan tempat tidur nya yang masih berantakkan. Yang belum ia bereskan. Terkadang Karla sudah muak dan malu dengan status nya yang masih pengangguran.
Karla merasa malu karena masih saja meminta transferan dana untuk ia hidup di kota dari kedua orang tua nya yang berada di kampung.
Ia juga muak karena hanya melakukan hal itu itu saja di kehidupannya sebagai anak muda. Karla tidak sabar ingin segera mendapatkan sebuah pekerjaan.
Agar ia juga bisa sedikit menutupi rasa kesepian, yang sudah lama melandanya, dengan melakukan pekerjaan pekerjaan.
.
.
.