In The House

In The House
Galon



"Sini sama aku aja." ucap Dhio mulai mengangkat galon yang ada di hadapannya.


Pagi ini bahan makanan dari agensi telah datang. Setelah mengetahui hal itu, Karla segera membereskan dan menata bahan bahan makanan tersebut sesuai tempatnya.


Termasuk mengisi ulang dispenser. Namun, karena pria itu menawarkan bantuan padanya. Mau tak mau, Karla hanya diam saja memperhatikan pria itu mengangkat galon yang menurut Karla sendiri cukup berat.


Anehnya, Dhio dengan mudah mengangkat galon tanpa ada satu tetes pun air tumpah ke atas lantai.


"Makasi ya." ucap Karla. Setelah mengetahui galon itu sudah tepat berada di tempatnya. Dhio mengangguk tersenyum kearah Karla. Entah mengapa akhir akhir ini hatinya selalu gemetar saat di perlakukan seperti itu.


"Ada lagi yang harus aku bantu?" tawar Dhio. Melihat ke segala arah mendapati tumpukan kardus ada di hadapannya.


"Tidak usah, aku bisa menata nya sendiri. Kamu kan akan pergi bekerja."


"Aku ga mau kamu kerepotan sendirian, dan aku hanya bersantai berdiam diri. Lagian aku gapapa kalo sesekali kamu suruh." ucap Dhio. Ia memang tidak sungkan untuk sesekali membantu Karla. Walaupun ia di repotkan, ia sangat senang untuk mengurangi beban seorang wanita.


"Bener ya?" tanya Karla. Ia mengeluarkan ekspresi yang menyebalkan menurut Dhio. Untung saja pria itu sudah cukup terbiasa dengan sikap Karla.


"Iya." ucap Dhio. Lalu Karla pun pergi meninggalkan pria itu sendiri di dapur dengan ekspresi bingung. "Hei? Lah kok malah pergi?" tanya Dhio mengikuti langkah Karla, lalu memegang bahu gadis tersebut.


Karla berbalik dengan ekspresi bingungnya. "Lah katanya mau sama kamu aja di beresinnya. Yaudah sama kamu aja sana beresin semua barang barang yang baru datangnya. Aku mau rebahan di kamar." ucap Karla. Lalu kembali melangkah pergi.


Dhio yang mendengar perkataan gadis itu hanya bisa geleng geleng kepala. Memang sih Dhio menawarkan sebuah bantuan kepada Karla. Namun maksud Dhio juga tidak seperti ini. Dhio ingin agar mereka berdua membereskannya bersama. Bukan malah membabu kan dirinya.


Mau tidak mau ia terpaksa kembali kearah dapur. Ia sedang malas menaggapi sikap menyebalkan gadis itu. Dengan perlahan ia membuka ujung kardus makanan siap saji dengan sebuah pisau. Lalu membelah selotip kardus hingga menjadi dua.


Setelah tau kardus itu telah bisa terbuka. Ia membuka kardus tersebut hingga menampakkan isi nya. Beberapa bungkus mie ia tata di dalam sebuah laci. Tidak lupa juga, ia menata mie tersebut dengan membeda bedakan rasa mie yang berbeda.


Dhio kembali membuka sebuah kresek besar hitam. Yang menampakkan sejumlah daging segar di dalamnya. Dhio melepaakan kresek hitam itu. Lalu membawa 2 bungkus plastik bening dengan sejumlah daging yang berbeda. Masing masing plastik berjumlah 2 kilo daging ayam dan 2 kilo daging sapi.


Dhio memasukkan plastik berisi danging tersebut ke freezer yang ada di kulkasnya. Dhio kembali membuka kresek hitam yang lain, yang berisi sejumlah sayuran hijau. Seperti kangkung, selada, kol, capcay, dan seplastik wortel. Di kresek yang berbeda ia melihat sebuah kresek kecil berisikan tomat hijau. Seplastik cabe rawit dna cabe. Juga seplastik bawang merah, bawang putih dan bawang bombay.


•••


Karla turun dari lantai dua. Niatnya hanya ingin mengambil secangkir gelas untuk menyegarkan kerongkongannya yang kering.


Dapur nampak bersih, kardus kardus yang Karla liat tadinya berserakan sudah tidak ada. Saat Karla melihat satu per satu laci. Beberapa laci pun sudah terisi penuh dan tertata rapih oleh beberapa stok makanan.


Karla segera melangkah kan kaki nya menuju kulkas. Namun, ia terperanjat ketika sebuah kertas tulisa menempel di pintu kulkas.


"Aku sudah menyiapkan pudding di dalam kulkas. Jika kamu mau, kamu boleh memakannya." tulisan itu membuat senyum Karla merekah. Dhio selalu saja memperhatikannya seperti ini. Membuat hati nya sedikit salah tingkah akhir akhir ini.


Namun kenyataan dapat membuat Karla selalu berpikir sendiri. Ia tidak mau jatuh cinta dengan seorang pria yang sedang mencintai wanita lain. Mengingat sepengetahuannya Dhio sudah menjalin hubungan dengan wanita itu.


Walaupun Dhio dan wanita itu tidak menjalin komunikasi saat ini. Karla tidak ingin merusak hubungan mereka berdua hanya karena ke egoisan nya.


Hal ini membuat Karla sedikit sedih. Disisi lain ia tak ingin membiarkan perasaan cinta itu tumbuh pada hati nya. Namun, ia juga tak ingin merebut Dhio dari wanita itu.


Karla segera mencabut kertas yang masih menempel pada pintu kulkas, lalu membuangnya. Karla segera mengambil sebuah gelas lalu mengisi nya. Lalu meneguk air itu hingga dahaga nya habis.


.


.


.


.


.