Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 9



Sudah satu minggu lebih Sena berada di tempat barunya tersebut, dan Galih masih sering menghubunginya setiap malam. Jika difikir-fikir ia merasa seperti memiliki seorang kekasih yang akan rutin menghubunginya setiap hari.


Tidak ada hal menarik yang ia dan Galih bicarakan. Pembicaraan mereka hanya seputar hari-hari yang Sena lalui. Jangan tanya apakah Sena tertarik untuk menanyakan hal sebaliknya pada pria itu, jawabannya tentu saja tidak. Baginya hal itu sangat membosankan dan membuang waktunya.


“Eh, kayaknya ada tamu. Udah dulu ya, aku tutup telfonnya,” ucap Sena mengakhiri panggilan dari Galih, setelah kurang lebih satu jam pria itu menelfonnya.


Sena kini bangkit dari tempat tidurnya untuk mengecek siapa tamu yang datang ke rumahnya itu. Saat pintu terbuka, ternyata Artha sudah berada di depan pintu rumahnya.


“Artha? Ada apa, Ta?” Tanya Sena terkejut melihat kedatangan Artha yang tiba-tiba tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.


“Lo mau ikut gue gak?” Tanya Artha langsung.


“Ikut kemana?” Sena bingung dengan pertanyaan Artha yang setengah-setengah itu.


“Jalan-jalan ke pasar malam,” lanjut pria itu yang malam ini tampak begitu santai dengan kaos warna merah maroon dipadukan dengan jacket berwarna hitam polos dan celana jeans panjangnya.


Tidak perlu waktu lama bagi Sena untuk menyetujui ajakan tersebut. Beberapa waktu belakangan ini ia memang tengah merasa suntuk karena hanya berkutat pada pekerjaan dan pulang ke rumah. Biasanya saat ia merasa bosan dan penat, Sena akan pergi bertemu dengan sahabat-sahabatnya di café atau pergi berbelanja. Namun di sini ia tidak tahu harus pergi kemana untuk sedikit saja melepas penat. Daerah tersebut terasa jauh dari mana-mana. Sena masih belum menemukan tempat yang menyenangkan untuk bersantai sejenak dari rutinitas pekerjaan.


“Gue ganti baju bentar ya,” Sena segera masuk dan pergi ke kamar untuk mengganti bajunya.


“Jangan lama-lama, gak usah dandan,” ucap Artha dari arah teras rumah Sena yang masih terdengar dengan jelas oleh gadis itu.


“Iya bawel, sabar!!!” Teriaknya.


Sena hanya pergi untuk mengganti baju, ia juga tidak perlu repot-repot berdandan, toh memang hanya akan pergi ke pasar malam, bukan pergi ke mall atau ke café, apalagi kencan.


Kencan? Dengan Artha? Oh sungguh sekelebat pemikiran itu baru saja hadir dalam otaknya tadi. Sena bergidik geli membayangkannya, apalagi itu dengan Artha. Rasanya sungguh tidak mungkin. Ia segera menepis semua pemikiran konyolnya itu


Sena telah siap hanya dengan 5 menit. Wajahnya dibiarkan polos tanpa make up apapun, kecuali bibirnya yang ia beri lip gloss berwarna cherry agar tidak tampak pucat. Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai begitu saja. Gadis itu hanya mengenakan celana kulot tiga perempat dan kaos longgar yang dibalut dengan jaket.


“Oke I’m ready, tempatnya jauh gak Ta? Kita naik apa ke sana?” Cerocos Sena yang begitu bersemangat sembari mengunci pintu rumahnya.


“Tuh,” tunjuk Artha pada sebuah motor beat berwarna merah yang terparkir di halaman rumahnya.


“Wih… Beneran naik motor nih kita? Harusnya lo bawa sepeda aja Ta biar makin romantis kita malam-malam ke pasar malam, berdua boncengan gitu. Kayak kisah-kisah nenek-kakek kita zaman dulu.” Celoteh Sena sambil berimaginasi sesuka hatinya.


“Kebanyakan baca novel roman picisan lo, udah cepetan naik,” perintah Artha yang langsung dilaksanakan oleh Sena.


Kini keduanya pergi ke tempat dimana pasar malam itu berada. Ternyata tidak cukup jauh jika menggunakan sepeda motor. Mereka telah sampai, suasana pasar malam begitu ramai. Ini kali pertama Sena pergi ke sebuah pasar malam. Seingatnya sejak kecil sampai ia sedewasa sekarang ia tidak pernah pergi ke pasar malam. Ia hanya sering melihatnya di layar televisi pada beberapa adegan di film atau sinetron.


Sena berjalan beriringan dengan Artha memasuki kawasan pasar malam yang dipadati oleh banyak orang. Banyak jajanan yang menggelitik rasa penasaran Sena untuk mencobanya. Ia kini berkeliling melihat-lihat jajanan tersebut dan membelinya.


Artha sejak tadi hanya mengekor kemana Sena berjalan. Sesekali Sena menawari Artha untuk mencoba jajanan tersebut, tapi Artha menolaknya. Pria itu lebih senang mengamati suasana pasar malam yang ramai, dan tentu saja mengamati gadis yang begitu lincah sejak tadi ke sana ke mari sesuka hatinya.


Sena terlihat bahagia malam itu. Sejak tadi tawa dan senyuman gadis itu tidak pernah memudar dari wajahnya. Rambut panjangnya yang sesekali terkena sapuan angin dan menerpa wajahnya, menambah keindahan tersendiri di wajah gadis itu. Untuk beberapa saat Artha tidak berhenti menganggumi Sena.


“Ta, lo yakin gak mau jajan apapun? Enak-enak loh jajanannya,” ucap Sena dengan suara yang sedikit kencang untuk mengimbangi suara lagu dangdut yang tengah di putar kencang.


“Gue udah sering makan, jadi gak tertarik,” jawab Artha.


Sena lupa jika Artha sudah berada di sini kurang lebih setahun, pastinya pria itu sudah sering mencoba jajanan tersebut. Berbeda dengan dirinya yang cukup norak karena baru merasakan jajanan seperti itu.


Saat keduanya tengah berjalan menyusuri pedagang-pedagang yang menjual beraneka ragam pakaian dan pernak-pernik seseorang menyapa mereka berdua.


“Dokter Artha, dokter Sena?!” Sapa seorang gadis kepada keduanya.


“Oh… Hai, Sania,” ucap Sena sedikit terkejut bertemu salah satu rekan kerjanya, Sania. Ia adalah seorang bidan yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan ia dan Artha. Putri seorang Camat di daerah tersebut.


“Belanja apa aja dokter Sena?” Tanya Sania ramah.


Kini Sania melirik ke arah Artha, dokter muda yang tampan itu memang jarang sekali berbicara, begitulah yang Sania rasakan sejak mengenal Artha setahun yang lalu. Tapi Sania cukup terkejut melihat Artha kini pergi bersama Sena, yang merupakan dokter baru di rumah sakit tempat mereka bekerja. Ada rasa keingintahuan yang tinggi di hati Sania tentang kedekatan mereka.


“Kalau dokter Artha belanja apa?” Tanya Sania berbasa-basi walaupun ia yakin jika dokter itu akan membalas pertanyaannya secara singkat.


“Saya gak belanja apa-apa.”


Sania tersenyum, jawaban yang sudah dapat ia perkirakan. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Sena. Sania akhirnya berlalu bersama dengan teman-temannya. Kini Artha dan Sena kembali melanjutkan langkah mereka untuk melihat-lihat apa saja yang ada di pasar malam tersebut.


“Ta, cewek di sini cantik-cantik ya. Lihat deh tadi Sania sama temen-temennya, mereka cantik-cantik banget. Dan kayaknya Sania naksir lo deh, Ta,” ucap Sena yang mulai menggoda Artha.


Artha segera mendelik ke arah Sena yang kini sudah tersenyum-senyum penuh arti.


“Cie-cie…. Ditaksir cewek cantik anak pak camat lagi. Pantesan betah lo ya Ta kerja di sini.” Sena tidak berhenti menggoda Artha yang masih diam seribu bahasa tidak menanggapi celotehan Sena.


“Ta…. Yaelah lo diem aja, mendadak bisu lo sekarang?” Tegur Sena sambil menyenggol lengan pria itu.


Artha menghentikan langkahnya yang membuat Sena ikut menghentikan langkahnya juga.


“Otak lo dari dulu kenapa gak pernah beres?” Ucap Artha dengan wajah datarnya.


“Ye…. Enak aja gak pernah beres. Otak gue beres kali. Otak lo aja yang terlalu kaku kaya kanebo kering,” seloroh Sena yang kini sudah meninggalkan Artha dan kembali asik melihat-lihat pernak-pernik yang terjual di sana.


Artha tertawa kecil mendengar ocehan lucu gadis itu. Mungkin yang Sena katakan itu benar, ia memang terlalu kaku selama ini. Terlebih terhadap lawan jenis, Artha minim pengalaman dalam berurusan dengan makhluk bernama perempuan. Lain halnya dengan Sena, gadis itu sejak dahulu sudah ia kenal dan Sena berbeda dengan gadis pada umumnya. Sifatnya yang selebor, bar-bar, terkadang mirip seperti preman sekolah, tapi justru itu yang membuat Artha nyaman berinteraksi dengan Sena.


Seperti malam ini, pasar malam yang sudah biasa ia kunjungi bersama teman-temannya, kini terasa berbeda saat ia mengunjunginya bersama Sena. Entah mengapa semua terasa lebih menyenangkan saat bersama gadis itu, tawa, canda yang Sena lontarkan, selalu berhasil membuat hati Artha bahagia.


...*** ...


Di tempat lain terlihat suasana duduk dalam sebuah keceriaan yang terjadi di rumah itu. Rumah dengan nuansa Jawa yang kental menambah suasana malam menjadi hangat. Rumah tersebut memiliki halaman yang luas, baik halaman depan, samping maupun belakang rumah. Sebuah rumah sederhana yang dikelilingi halaman dan pohon bonsai yang tertata rapi dalam beberapa pot. Sisanya rumput dibiarkan tumbuh tertata dan berteman dengan pohon palem yang rindang.


Malam itu, Galih bersama kedua orang tuanya tengah bersantai di halaman samping rumah mereka. Tea time adalah sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh keluarganya setiap akhir pekan. Jika dahulu tea time mereka akan ramai dengan kehadiran kakah dan adiknya yang kini memilih merantau . Sejak saat itu acara tea time mereka menjadi sedikit lebih sepi, namun tetap tidak mengurangi keceriaan dalam keluarganya.


“Mama liat kamu makin dekat sama Sena, jadi boleh dong cerita ke mama dan papa,” goda Intan kepada putranya itu.


Galih yang tengah meneguk green tea-nya seketika tersedak mendengar ucapan ibunya.


“Mama ini, gak lihat momen banget. Nanyain kayak gitu waktu anaknya lagi minum, kesedak deh tuh,” timpal Dimas yang tidak mau kalah untuk ikut menggoda putranya.


Setelah melegakan tenggorokannya, Galih mulai menatap kepada kedua orang tuanya. Mungkin memang sudah saatnya ia membicarakan hal tersebut.


“Ma, pa, menurut mama dan papa Sena gimana?” Tanya Galih dengan raut wajah serius.


Mata Intan berbinar mendengar pertanyaan putranya itu, “ya jelas dong Sena itu cantik, berpendidikan, pintar, dan mama sangat mengenal orang tuanya. Mereka dari keluarga baik-baik. Beda tuh sama mantan-mantan kamu yang sebelumnya, cewek-cewek gak jelas,” ucap Intan bersemangat.


Selama ini ia tidak pernah sebahagia itu mendengar Galih membicarakan seorang gadis. Bahkan biasanya Intan akan mulai mengomel dan mengatakan ketidak setujuannya saat Galih mulai memperkenalkan pacar barunya. Bagi Intan semua wanita yang pernah Galih kenalkan tidak ada yang ia sukai. Entahlah, hati seorang ibu seolah tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi kali ini, saat Galih mulai membicarakan tentang Sena, Intan justru sangat bersemangat, bahkan sangat mendukung putranya untuk menjalin hubungan dengan Sena. Intan menyukai Sena bukan hanya karena Sena adalah putri dari sahabatnya. Tapi dimata Intan, Sena adalah seorang anak yang memiliki kharisma sendiri. Gadis itu sangat baik, cerdas, dan sopan. Sejak awal Intan bertemu dengan Sena, sejak saat itulah ia berharap jika suatu hari nanti Sena dapat menjadi menantunya.


“Mama dan papa apakah akan mendukung Galih untuk melamar Sena?” Pertanyaan Galih kali ini benar-benar membuat hati Intan bersorak gembira.


“Mama dan papa pasti akan dukung kamu. Kalau kamu memang serius dengan Sena, mama dan papa akan coba bertemu dengan kedua orang tua Sena untuk membahas masalah ini,” jelas Intan yang merasa tidak sabar untuk dapat segera bertemu dengan Davina, sahabatnya itu.


Inta teringat akan ucapan mereka berdua zaman dahulu, bahwa suatu hari nanti jika memungkinkan itu terjadi, mereka ingin bisa saling berbesanan. Siapa yang akan tahu jika ucapan tersebut mungkin sebentar lagi akan menjadi nyata.


Galih tersenyum bahagia melihat kedua orang tuanya begitu mendukung niatnya. Hatinya sudah merasa yakin dengan keputusannya untuk menjalin hubungan yang serius dengan gadis itu. Meski sampai saat ini Galih tidak tahu bagaimana isi hati Sena, tapi ia berharap dengan bantuan kedua orang tuanya dan dukungan dari kedua orang tua Sena, itu akan mempermudah jalannya meyakinkan Sena untuk dapat menerima dirinya.


...***...