Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 22



Sena tengah menikmati seteguk cappuccino hangat yang baru saja ia pesan dan diantar ke ruangannya. Hari ini ia tengah disibukkan dengan setupuk dokumen pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Mungkin hari ini ia akan pulang malam. Setelah mencecap minuman kesukaannya itu Sena kembali berkutat dengan berkas-berkas tersebut.


“Kamu lagi sibuk?” Saat suasana ruangan tengah sepi dan hanya ada Sena seorang.


Artha masuk ke dalam. Akhir-akhir ini sulit sekali untuk bertemu gadis itu, Sena seolah tengah menghindarinya.


Sena segera menghentikan kesibukannya dan kini pandangannya ia tujukan pada Artha yang sudah berdiri di hadapan meja kerjanya. Tanpa diperintah, Artha sudah menarik kursi kosong yang berada di dekat meja Sena.


“Kamu mau ngapain di sini? Aku lagi banyak kerjaan,” ucap Sena tegas sembari kembali berpura-pura fokus pada pekerjaannya.


“Aku cuma mau tahu kabar kamu. Kamu baik-baik aja? Kaki kamu udah membaik?” Tanya Artha tulus. Sungguh ia hanya ingin mengetahui jika kabar gadis itu baik-baik saja, karena terakhir kali mereka bertemu, ia mendengar gadis itu tengah menangis di dalam rumahnya.


Perhatian Artha padanya semakin membuat hati Sena terasa sakit. Untuk apa pria itu masih menanyakan kabarnya, menanyakan bagaimana keadaannya. Apakah pria itu tidak tahu jika semua perhatiannya telah membuat hatinya salah paham dan hanya akan semakin menjebak dirinya untuk semakin dalam mencintai pria itu.


“Aku baik-baik aja,” jawab Sena singkat masih dengan nada dingin.


“Kamu kenapa? Apa aku melakukan kesalahan sama kamu? Aku rasa sikap kamu akhir-akhir ini terlihat gak bersahabat,” Artha masih bingung dengan perubahan sikap Sena padanya.


“Enggak kenapa-kenapa, aku cuma lagi sibuk,” sahut Sena.


Saat Artha akan kembali berbicara, sebuah panggilan masuk dari handphone miliki Sena membuat ia mengurungkan diri untuk kembali berbicara.


Sena melirik layar handphone tersebut. Ternyata itu adalah panggilan masuk dari Galih. Sena kemudian mengambil posnel yang tergeletak di samping laptopnya itu, “aku mau angkat telfon dari calon suamiku dulu. Aku boleh minta tolong kamu untuk ke luar?”


Sena dengan sengaja mengatakan hal itu.


Hati Artha seperti terhantam mendengar kata-kata gadis di hadapannya. Calon suami? Ternyata Sena sudah memiliki calon suami. Dan seketika ia merasa bodoh karena selama ini terus terhanyut dalam perasaannya pada gadis itu.


Tanpa sepatah kata Artha segera bangkit dari tempat duduknya untuk ke luar dari ruangan tersebut.


“Oh iya, aku harap kita bisa menjaga jarak mulai sekarang karena aku gak mau Sania salah paham sama kita,” ucap Sena sebelum Artha benar-benar ke luar dari ruangannya.


“Aku sama Sania gak ada hubungan apa-apa,” tukas Artha tanpa meneloh sedikitpun kepada Sena. Ia segera ke luar dan pergi meninggalkan ruangan itu. Hatinya sakit. Ya, teramat sakit. Ia merasa telah kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan seluruh perasaannya pada gadis itu. Jika saja dahulu ia lebih nekat dan berani untuk berterus terang kepada Sena. Setidaknya kini ia tidak perlu merasakan sebuah rasa bernama penyesalan, meski apapun jawaban yang nanti ia dapatkan dari gadis itu.


Setelah kepergian Artha, Sena masih tercenung mendengar jawaban pria itu. Ucapan Artha terdengar sangat jelas di telinganya, dan kata-kata pria itu tidak tampak seperti sebuah ucapan penuh kebohongan. Ia tahu betul bagaimana sifat Artha yang memang tidak pernah berbasa-basi dalam ucapannya.


Sena mengutuki dirinya sendiri. Hatinya kini begitu sesak. Sena memukul-mukul kecil dadanya berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak jatuh menangis di ruangan ini. Tapi nyatanya, rasa sakit itu sudah tidak dapat ia kendalikan lagi. Ia menangis tanpa suara sambil menengelamkan wajahnya di atas meja. Dering telfon dari Galih sudah tidak ia perdulikan lagi.


...*** ...


Pagi itu Sena baru selesai dengan shift malamnya. Diambang batas rasa kantuknya karena terjaga semalaman, matanya ternyata masih sangat awas saat melihat Artha yang sedang berdiskusi serius dengan salah satu rekan kerja mereka. Sena yang awalnya hendak terburu-buru untuk pulang akhirnya mengurungkan niatnya. Ia kini tengah menunggu Artha selesai berbicara. Tidak berapa lama keduanya tampak telah selesai berdiskusi, pria itu kini tengah berjalan ke arah dimana Sena tengah berdiri menungguinya.


“Pagi, Ta….” Tegur Sena saat kini mereka saling berpapasan.


Tapi apa yang terjadi adalah Artha yang tetap bergeming dan berjalan begitu saja melewatinya dengan wajah dinginnya. Pria itu seolah-olah tidak melihat keberadaannya. Sena hanya terdiam melihat sosok Artha sudah berjalan jauh melewatinya. Hatinya semakin sakit.


Sena berjalan menuju halaman belakang rumah sakit. Di sana terdapat taman yang cukup rindang. Sejenak ia duduk termenung seorang diri di salah satu bangku yang menghadap pada deretan jendela bangsal-bangsal kamar perawatan. Ia ingin menenangkan dirinya di sini.


“Apa dia sudah mengatakan perasaannya pada dokter Sena?” Suara seseorang membuyarkan lamunan Sena.


Sania sudah duduk di sebelahnya. Entah dari arah mana gadis itu datang, Sena tidak memperhatikannya. Sejak tadi ia sepertinya terlalu asik dalam lamunannya.


“Apa?” Tanya Sena tidak dapat menangkap ucapan Sania.


Sania tersenyum simpul, “sepertinya dokter Sena sedang banyak fikiran.” Ucap Sania menebak.


Sena menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ia memang harus bersabar jika berurusan dengan gadis di sebelahnya ini.


“Saya tadi tanya, apakah dia sudah mengatakan perasaannya pada dokter Sena?” Ulang Sania kembali.


“Dia siapa?” Tanya Sena masih belum memahami pembicaraan gadis itu.


“Dokter Artha, apa dia sudah mengungkapkan perasaannya pada dokter Sena?” Sania memperjelas pembicaraannya.


Jantung Sena seketika berdetak tidak karuan saat mendengar nama itu disebut dan perasaan? Sena tidak mengerti perasaan apa yang Sania maksudkan, “saya tidak mengerti arah pembicaraan kamu, Sania. Lebih baik saya pergi duluan,” Sena sudah tidak ingin lagi berbasa-basi dengan gadis itu, ia akhirnya memilih untuk pergi. Tapi langkahnya dicegah oleh Sania.


“Tunggu dokter Sena. Mungkin selama ini dokter Sena tidak pernah menyadari kalau dokter Artha sudah sangat lama menaruh perasaan lebih kepada dokter Sena. Saya tahu dokter Sena juga memeiliki perasaan yang sama pada dokter Artha. Tapi dokter Sena selalu berpura-pura seolah tidak memiliki perasaan apa-apa.”


Ucapan Sania sontak membuat Sena mendelikkan pandangannya pada gadis itu yang kini juga sudah berdiri menatap pada dirinya. Bagaimana bisa gadis itu tahu jika dirinya memiliki perasaan pada Artha, apakah tampak terlihat jelas? Tapi tunggu, Sena tadi mendengar jika Sania mengatakan bahwa Artha juga memiliki perasaan pada dirinya? Apa ia tidak salah dengar?


“Tadi kamu bilang apa? Artha memiliki perasaan sama saya?” Sena memepertegas kembali ucapan Sania tadi.


“Dokter Sena ternyata hanya memiliki otak yang cerdas, tapi hatinya sangatlah tidak peka dengan orang lain. Apa dokter Sena tidak bisa melihat bagaimana perlakuan dokter Artha pada dokter Sena selama ini?” Jelas Sania yang membuat Sena terdiam memikirkan sikap Artha selama ini padanya.


“Apa dokter Sena terlalu naïf atau memang terlalu bodoh untuk menyadari hal itu? Bahkan saya saja dapat melihatnya dengan jelas, betapa selama ini pria itu selalu berusaha melindungi dan menjaga dokter Sena, bukan hanya sebagai teman lamanya. Tapi sebagai wanita yang ia cintai,” tandas Sania dengan nada suara yang terdengar sangat sinis dan emosional. Sena masih terdiam tidak berkutik mendengar ucapan gadis di hadapannya.


“Saya sangat membenci kenyataan itu. Tapi apa yang bisa saya lakukan, jika pria yang saya cintai ternyata hatinya sudah untuk wanita lain. Tapi sayang sekali, wanita yang dicintainya ini terlalu bodoh untuk menyadari semua perasaannya,” tanpa tedeng aling-aling, ucapan itu terlontar dengan tajam untuk Sena. Kali ini ucapan Sania benar-benar menohok langsung ke ulu hatinya.


Sania segera pergi meninggalkan Sena yang kini terlihat sudah hampir menangis mendengar semua perkataannya. Sena kembali terduduk di kursi itu dengan air mata yang sudah ke luar dengan deras membasahi wajahnya. Kenyataan itu telah benar-benar memukul hatinya. Kenapa perasaan yang seharusnya begitu sederhana itu terasa begitu rumit baginya? Kenapa ia tidak semudah orang lain dalam menjalani perasaan cinta yang penuh kebahagiaan? Kenapa cinta yang datang dalam hidupnya begitu rumit dan menyakitkan, tidak sesempurna kisah cinta orang lain yang ia kenal selama ini? Kenapa semesta tega sekali mempermainkan perasaannya? Sena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu menangis sejadinya, tanpa ada yang tahu.


...*** ...