Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 19



Sena duduk meringkuk di sofa ruang tamunya. Malam ini ternyata suhu cukup dingin karena hujan sejak sore tadi tidak juga kunjung berhenti. Ia terpaksa mengenakan sweater dan celana panjang untuk menghangatkan tubuhnya. Segelas coklat panas juga menjadi temannya malam itu. Ia kembali sibuk di depan layar laptopnya, menyelesaikan paper penelitiannya yang sudah harus ia kirimkan pada rekannya malam ini. Meski ia sangsi mengenai jaringan internet yang biasanya tidak stabil jika hari hujan seperti ini.


Sesekali tangannya meraih coklat panas yang kini sudah mulai menghangat, ia minum perlahan dan kembali fokus. Suara dering ponsel untuk kesekian kalinya kembali membuyarkan konsentrasi Sena. Dengan kesal ia kembali melihat layar telfon tersebut. Galih. Kembali nama itu yang muncul. Padahal satu jam yang lalu ia sudah mengirimkan sebuah pesan jika dirinya tengah sibuk dan tidak bisa diganggu, tapi pria itu seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakannya. Sena terpaksa mengangkat telfon itu, karena jika tidak ia akan terus di teror. Jika tidak hari ini maka besok Galih akan terus menerornya sampai Sena mengangkat telfonnya. Begitulah Galih yang terkadang membuat Sena kesal.


“Ya hallo,” ucap Sena.


“Hi, udah selesai sibuknya?” Pertanyaan Galih membuat Sena rasanya ingin melempar ponselnya tepat mengenai wajah pria itu.


“Aku kan udah bilang aku hari ini sibuk karena aku harus nyelesein paper aku malam ini juga. So please, jangan telfon aku dulu, ok. Aku tutup telfonnya sekarang. Bye,” ketus Sena yang tanpa babibu segera mengakhiri panggilan tersebut dan menonaktifkan ponselnya. Sena meletakkan handphonenya dengan kasar di atas meja. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Baru saja ia mulai memindahkan beberapa grafik hasil penelitiannya, tiba-tiba kini pintu rumahnya diketuk oleh seseorang.


“Haishhh…. Siapa sih,” gerutu Sena kesal seraya mengacak-acak rambut panjangnya yang malam itu dibiarkan terurai.


Dengan perasaan tidak ikhlas karena merasa telah diusik ia melangkah menuju pintu. Siapapun yang bertamu malam ini rasanya Sena ingin sekali mencaci maki orang tersebut. Dengan kasar ia membuka kunci pintu rumahnya, dan saat pintunya terbuka ia terkejut setengah mati melihat Artha mengenakan jas hujan berwarna hitam sudah berdiri di depan pintu. Sena pikir itu rampok.


“Artha!” Pekiknya terkejut.


“Kenapa?” Tanya Artha polos tanpa merasa bersalah melihat ekspresi Sena yang tampak sekali menunjukkan raut terkejut.


“Yang ada gue yang tanya, lo ngapain malem-malem bertamu ke rumah orang, hujan-hujan gini lagi. Gue kira lo rampok!!!” Sungut Sena kesal. Ia benar-benar merealisasikan niatnya untuk mengomel kepada tamunya itu.


“Aku kebetulan lewat sekalian mau pulang. Aku mau kasih ini,” Artha menyerahkan sebuah payung lipat berwarna merah bata kepada Sena. Gadis itu menerimanya dengan sedikit ragu-ragu.


“Kamu pasti gak punya payung, kan? Aku baru inget tadi, kalau dari zaman sekolah kamu orang yang suka males bawa payung dan suka ngambil payung OSIS kalau tiba-tiba hujan, dan suka lupa dibalikin,” cerocos Artha yang membuat Sena teringat kembali akan kenakalannya saat di bangku sekolah.


“Tapi kan gue balikin juga, biarpun rada lama sih. Anyways, thanks ya,” ucap Sena yang mulai mereda emosinya. Harus Sena akui, ia memang tidak pernah memiliki payung selama ini.


“Kalau gitu aku pulang ya,” Artha segera berpamitan dan hendak pergi dari rumah Sena, ia sadar ini memang sudah cukup larut malam.


Tangan Sena dengan cepat menarik jas hujan Artha saat pria itu hendak meninggalkan rumahnya, “eh tunggu sebentar, ini payungnya lo pinjemin atau buat gue?” Sergah Sena.


Artha tersenyum kecil mendengar pertanyaan gadis itu, ia kembali membalik badannya.


“Buat kamu,” jawab Artha singkat dan ia kembali melanjutkan langkahnya menuju sepeda motor yang diparkirkan di halaman rumah Sena.


Sena yang sejak tadi hanya berdiri diambang pintu sekarang mulai berjalan menuju teras rumahnya mengantarkan Artha pulang. Sebelum pria itu menstater motornya, Sena teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan.


“Apa lagi?”


“Lo…. Kenapa sekarang lo jadi ngomongnya aku kamu? Biasanya kan kita ngobrolnya lo gue?” Tanya Sena yang masih berdiri di teras depan rumahnya, tapi jarak keduanya sudah cukup dekat untuk bisa mengobrol.


“Lebih nyaman aku kamu, lagian kita tinggal di desa, Sen, bukan di Jakarta,” hanya itu jawaban yang Artha berikan.


Sena hanya mengangguk dan membenarkan ucapan Artha. Setelah itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Artha sudah menstater sepeda motornya dan pergi dari rumah Sena. Sebetulnya bukan itu pertanyaan yang tadi ingin ditanyakan Sena. Ia ingin tahu tentang hubungan Artha dan Sania, tapi Sena urungkan. Rasanya memang bukan urusannya untuk menanyakan hal itu. Sena sejenak menghembuskan nafasnya kasar. Ia kembali melihat payung yang tadi baru saja diberikan Artha kepadanya.


“Ini cuma payung Sena, jangan terlalu baper,” gumamnya pada dirinya sendiri.


Sena melangkah masuk ke dalam rumah. Ia kembali teringat dengan pekerjaannya yang masih belum selesai.


...*** ...


Artha tengah memandangi layar ponselnya. Matanya kini intens memperhatikan foto-foto Sena dari instagram pribadi gadis itu. Senyum kecil tersungging dibibirnya. Sejak pertama kali ia mengenal gadis itu saat mereka berada di bangku SMA, Artha sudah merasa tertarik dengan tingkah polah Sena yang selebor dan suka-suka, menurutnya itu sangat unik. Dan pada semua sifat gadis itu yang sepertinya tanpa beban, Artha tidak pernah menyangka jika Sena juga gadis yang sangat pintar menyembunyikan seluruh perasaan sedih dan sakit yang ia alami.


Pertemuannya kembali dengan Sena saat ini adalah bagian dari sebuah kejutan semesta menurutnya. Kehadiran gadis itu kembali dalam hidupnya telah memberi warna-warni yang menyenangkan di hari-hari Artha. Kini Artha tahu jika perasaannya bukan hanya sekedar perasaan tertarik pada gadis itu. Semakin lama, perasaan itu telah menjelma menjadi sebuah bentuk lain yang kini ia yakini sebagai sebuah perasaan bernama cinta. Ya, harus ia akui jika hatinya telah jatuh cinta kepada Sena.


“Kalau cuma diliatin aja percuma, nanti keburu diambil orang baru nyesel deh,” tegur Rania yang melihat Artha tengah serius memandangi foto Sena hingga tidak sadar jika sejak tadi ada seseorang yang diam-diam melihatnya juga dari belakang.


Artha terkejut melihat kedatangan Rania yang kini sudah bergabung dengannya berdiri di dinding balkon lantai dua rumah sakit tempat mereka bekerja sembari menikmati sisa waktu istirahat makan siang. Rania menyodorkan kopi kaleng kepada dirinya yang langsung ia terima.


“Kalau suka bilang dong, jangan diem aja,” lanjut Rania sembari membuka tutup minuman kaleng miliknya.


Artha terdiam menghembuskan nafasnya kasar. Ia pun ingin melakukannya, mengungkapkan semua perasaannya pada gadis itu. Tapi, Artha tahu jika ia harus menunggu sampai Sena benar-benar siap membuka hatinya untuk seseorang.


“Gak semudah itu buat jujur tentang perasaan aku sama dia, kak. Kita udah temenan lama banget. Rasanya akan jadi canggung kalau tiba-tiba aku mengungkapkan perasaan aku sama dia.”


Rania menepuk punggung pria disampingnya, “kalau kamu terus diam kayak gini, kamu juga gak akan pernah tahu jawabannya. Dan saat semuanya sudah terlambat, kamu akan menyesali itu seumur hidup kamu,” Rania tersenyum dan berlalu meninggalkan Artha yang masih termenung mendengar kata-kata seniornya itu.


Apa yang dikatakan Rania memang benar, jika ia terus diam sampai kapanpun ia tidak akan pernah tahu jawabannya. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah tahu bagaimana isi hati Sena untuknya. Artha semakin gusar memikirkan hal itu.


...*** ...