
Rasanya Sena sudah seperti benar-benar memiliki seorang kekasih. Pagi ini sebelum ia berangkat ke rumah sakit tiba-tiba Galih menelfonnya dengan sebuah panggilan video hanya untuk mengucapkan selamat pagi dan melakukan pembicaraan monoton yang menggelikan bagi Sena. Ia memang menyetujui untuk membuka hatinya pada pria itu, tapi ia tidak tahu jika Galih akan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan begitu agresif. Rasanya Sena ingin sekali menyesali keputusannya.
Sena kini sudah berada di rumah sakit satu jam lebih awal dari jadwalnya. Ia memang senagaja berangkat lebih pagi, selain tadi beralasan pada Galih, ia juga memang ingin sarapan di kantin terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaannya. Ia baru saja melangkahkan kaki memasuki lobi rumah sakit. Tiba-tiba seorang perawat menghampirinya dengan wajah yang terlihat panik.
“Dokter Sena, dokter Artha sedang di IGD, tadi beliau kecelakaan.”
Jantung Sena seolah berhenti seketika mendengar kabar pagi itu. Tanpa berfikir lama ia segera berlari menuju ruangan IGD yang pagi itu tampak sepi hanya ada satu orang pasien yang tengah ditangani, siapa lagi jika bukan Artha.
“Gimana keadaanya?” Serbu Sena yang kini sudah berada diantar dokter IGD yang bertugas dan seorang perawat yang juga tengah membantu.
“Lo udah balik? Gue gak apa-apa? Gue masih sadar kok, aw…” Artha terkejut melihat kedatangan Sena pagi ini. Ia fikir jika gadis itu masih cuti.
“Jangan banyak gerak dulu ini susah jadinya,” omel dokter Tian pada Artha yang mulai kesal karena pasiennya itu tidak mau diam.
“Sakit loh ini, aw…. Pelan pelan kenapa sih?!” Artha kembali mengaduh dan protes. Ia bukannya tidak mau diam sejak tadi. Tapi masalahnya rasa sakit dan perih yang ia rasakan membuat tubuhnya reflek untuk bergerak.
Sena segera mengambil sarung tangan dan mengambil kapas yang telah diberi alkohol. Dengan hati-hati ia membersihkan beberapa luka dibagian lengan kiri Artha.
“Lo lagi ngapain bisa sampe kayak gini?” Tanya Sena di sela-sela dirinya mengobati luka tersebut.
“Dia akrobatik kayaknya, sampe bisa nyungsruk ke aspal,” cetus Tian yang akhirnya selesai menjahit luka di lutut temannya itu.
“Gue gak segila itu akrobatik di jalan raya. Gue gak liat tadi ada lubang gede banget di jalan,” jelas Artha sekaligus menjawab pertanyaan Sena tadi.
Tian tahu berdasarkan laporan warga yang tadi menolongnya, jika kecelakan tersebut adalah kecelakaan tunggal.
“Lagian lo nyetir motor sambil ngelamun apa gimana? Bisa-bisanya lo gak liat ada lubang gede di jalan kayak gitu?” Tanya Tian kembali seolah tengah menginterogasi pasien dadakannya pagi ini.
“Enggak tahu, meleng gue kayaknya. Namanya juga musibah,” Artha sendiri lupa bagaimana hal itu bisa terjadi, semua terasa cepat hingga yang ia ingat adalah saat dirinya sudah tersungkur di jalan dan banyak orang mulai mengerumuninya. Oh Tuhan sungguh itu adalah kejadian paling memalukan menurutnya.
“Orang yang lagi kasmaran kayak gini nih, suka meleng gak fokus,” Tian kembali meledek Artha.
“Ngaco lo!” Timpal Artha tidak terima.
Mendengar hal itu membuat jantung Sena berdebar dengan cepat entah kenapa. Artha sedang jatuh cinta? Dengan siapa? Batinnya mulai bertanya-tanya, tapi ia memilih untuk bungkam. Bukan urusannya.
“Gue tahu lo lagi deket sama Sania belakangan ini, kemarin aja gue liat kalian pulang boncengan bareng, haha….” Tian mempertegas hal tersebut. Tanpa perlu Sena bertanya, ia sudah mendapatkan jawabannya.
Ucapan Tian membuat hati Sena seketika mencelos. Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya. Tangannya yang tengah menempelkan plester pada bagian luka di pelipis Artha seketika terhenti sejenak. Sebelum akhirnya ia tersadar dan segera menyelesaikan pekerjaannya itu.
“Ya udah gue mau pergi ke ruangan gue dulu ya, dan cepat sembuh ya Ta,” ucap Sena setelah selesai membantu mengobati Artha.
“Bye Sen….” Balas Tian.
Artha belum sempat mengucapkan terimakasih kepada gadis itu, tapi Sena tampak sudah terburu-buru meninggalakan ruangan IGD tersebut.
Sena sudah tidak lagi bernafsu untuk sarapan pagi itu. Perasaannya kini menjadi kelabu memikirkan ucapan Tian. Apa benar Artha dan Sania tengah dekat? Ah, kenapa juga ia harus memikirkannya. Apa pentingnya hal itu untuk dirinya. Tapi sungguh, ada seberkas perasaa sakit di hati Sena saat mendengarnya. Sena segera memacu langkahnya dengan cepat menuju ruangannya. Ia harus kembali fokus pada pekerjaannya.
...***...
Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah bersiap-siap untuk pulang. Sejak sekembalinya dari cuti hingga hari ini rasanya semakin banyak saja pekerjaan yang harus dilakukan Sena. Tapi ia senang dengan semua kesibukan itu, setidaknya fikiran-fikiran tidak penting itu dapat sedikit teralihkan. Bahkan semakin ia merasa lelah, semakin mudah bagi Sena untuk cepat tertidur di malam hari.
Baru saja langkahnya menyusuri lorong rumah sakit, hujan mulai turun. Tidak terlalu deras memang tapi tetap saja akan membuat tubuhnya basah kuyup jika nekat menerobos. Padahal Sena sudah sesegera mungkin untuk pulang saat melihat awan mendung mulai menyelimuti langit, ia berharap jika hujan akan turun saat ia sudah sampai rumah. Tapi ternyata hujan turun mendahului. Apa boleh buat Sena yang memang tidak memiliki payung terpaksa menunggu hingga hujan berhenti.
Kini ia tengah berdiri di teras rumah sakit sambil mengamati hujan sore itu. Hari ini ia memiliki deadline untuk menyelesaikan paper kolaborasinya dengan salah satu rekannya semasa kuliah. Ia berharap hujan dapat segera reda, setidaknya gerimis kecil tidak masalah bagi Sena, ia bisa menerobos untuk sampai rumah dengan segera, begitulah fikirnya.
Saat fikirannya tengah terfokus menikmati setiap butiran air hujan yang jatuh ke bumi, tiba-tiba seseorang memukul pelan punggungnya dari belakang. Spontan Sena segera menoleh mencari sosok yang sudah menginterupsi lamunannya itu.
“Artha?” Sena cukup terkejut melihat Artha kini sudah ada di hadapannya. Dengan seksama Sena memperhatikan kondisi pria yang kini ikut berdiri di sampingnya.
Sepertinya luka-luka karena kecelakaan tempo hari sudah membaik. Artha tampak sudah pulih.
“Mau pulang?” Tanya Artha.
“Iya tapi keburu hujan jadi tunggu sampe gak terlalu gede hujannya baru pulang. Udah membaik?”
“Udah, udah mulai masuk juga hari ini. Kamu gak bawa payung pasti? Suka susah dibilangin sih, padahal udah sering diingetin buat bawa payung soalnya lagi sering hujan,” omel Artha. Tapi ada yang aneh di telinga Sena. Entah sejak kapan pria itu tidak lagi menggunakan “lo-gue” dalam obrolan mereka.
Sena tidak membalas ucapan Artha. Jika biasanya ia akan mulai mencak-mencak atau protes jika dirinya diomeli seperti itu. Tapi kali ini Sena yang mulai merasakan kecanggungan saat berdekatan dengan pria itu, memilih untuk diam dan hanya tersenyum kecil.
“Aku ada payung di ruangan, aku ambilin sebentar ya,” tawar Artha yang kini hendak melangkah masuk ke gedung rumah sakit untuk mengambilkan payungnya.
Tapi Sena segera mencegah Artha melakukannya. Ia menahan lengan pria itu. Ia tidak ingin merepotkan Artha dengan meminjamkan payung untuknya.
“Enggak usah Ta, gak perlu, ini hujannya udah agak reda deh kayaknya,” ucap Sena seraya menadahkan tangannya memastikan jika rintik hujan tersebut memang sudah tidak terlalu besar.
Artha ikut mengamati rintik hujan yang memang mulai mereda, tapi gerimis itu masih tampak cukup deras menurutnya.
“Kalau kamu nekat pulang hujan-hujanan kayak gini kamu bisa sakit, Sen,” Artha berasumsi.
“Dokter Artha?!”
Suara panggilan seseorang dari arah dalam bangunan gedung rumah sakit menghentikan perdebatan payung diantara Sena dan Artha. Keduanya kompak melihat pada si pemilik suara itu. Sania kini tengah berjalan mendekati mereka.
“Loh bukannya besok baru mulai masuk? Kok sekarang udah masuk?” Tanya Sania kepada Artha.
“Iya, tapi saya rasa sudah membaik jadi masuk hari ini.”
Sena mulai merasa tidak nyaman menyaksikan percakapan kedua orang tersebut. Dengan tidak lagi memperdulikan kondisi cuaca saat itu, Sena segera berpamitan.
“Aku duluan ya,” Sena segera berlari menerobos gerimis yang ternyata masih cukup deras. Ia tidak perduli jika nanti sampai rumah ia akan basah atau mungkin terkena flu sekalipun. Mungkin itu lebih baik dibandingkan menyaksikan sebuah adegan romantis anatar dua orang itu yang membuat hatinya pilu.
Artha hanya bisa menyaksikan tubuh gadis itu berlari menerobos gerimis tanpa bisa mencegahnya. Sania segera mengajak Artha untuk kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit. Ia tidak ingin pria itu berlama-lama melihat kepergian Sena atau berlama-lama memikirkan gadis itu. Sania tahu jika Artha sangat menghawatirkan Sena.
“Ayo dokter Artha,” ajak Sania dan keduanya kini melangkah masuk dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
...*** ...