Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 17



Masa cutinya akan berakhir. Ia hanya diberi izin satu minggu. Dan ia bersyukur karena kondisi ayahnya sudah berangsur membaik sebelum ia kembali merantau. Vandi kini tengah beristirahat di kamarnya dengan ditemani oleh Davina. Sena masih berada di ruang tamu untuk menemani Galih yang tadi pagi datang untuk membantunya mengurus kepulangan ayahnya.


“Jadi besok kamu sudah harus balik lagi?” Tanya Galih seolah memastikan jika rencana kepulangan Sena itu mungkin bisa saja berubah.


“Iya, aku udah harus balik lagi. Aku cuma dapet izin satu minggu. Alhamdulillah juga kondisi papa udah pulih,” jelas Sena.


Galih hanya bisa mengangguk memahami situasinya. “Em… untuk masalah yang waktu itu, tentang─” Belum selesai Galih mengatakannya Sena sudah paham arah pembicaraan itu.


“Tentang lamaran kamu?” Potong Sena.


“Iya, aku….” Galih tampak bingung harus menjelaskannya.


Sena tersenyum, “aku tahu niat kamu baik, tapi untuk saat ini bisakah kamu kasih aku waktu. Waktu untuk aku bisa mengenal kamu lebih dahulu sehingga aku bisa menerima kamu. Karena jujur saja, sampai detik ini aku tidak memiliki perasaan apapun sama kamu,” terang Sena agar Galih dapat mengerti situasi hatinya saat ini.


“Tentu, take your time. Aku tahu ini terkesan terburu-buru bahkan saat kamu sendiri belum benar-benar mengenal aku. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa perasaanku sama kamu bukanlah main-main. Sekarang apa kamu bersedia membuka hati kamu buat aku?”


Galih meraih tangan gadis itu dengan lembut. Ia berharap Sena sungguh dapat mengetahui bahwa perasaannya tidaklah main-main.


Sena telah memikirkannya masak-masak. Ia memang harus belajar membuka hatinya untuk orang lain. Ia tidak bisa terus-terusan menutup hatinya. Tifani benar, sampai kapanpun ia tidak akan pernah menemukan cinta sejatinya jika hatinya selalu tertutup. Dan kali ini ia akan mencobanya, mencoba membuka hatinya untuk seseorang. Meski ia sendiri tidak yakin apakah ini akan berhasil. Tapi apa salahnya ia mencoba.


“Aku akan berusaha, tapi kamu tahu bahwa aku tidak bisa menjanjikan apapun. Ini adalah pertama kalinya buat aku Galih. Dan kalau kamu berubah fikiran dan merasa sia-sia, kamu boleh pergi kapanpun kamu mau, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana hati aku,” Sena berterus terang sejak awal, bisa saja jika semua usahanya untuk membuka hati kepada Galih tidak berhasil membuat hatinya tergerak untuk mencintai pria itu.


“Aku tahu. Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku ini petarung ulung yang pantang menyerah,” seloroh Galih yang membuat keduanya tertawa. Sena tahu ini cara Galih mencairkan suasana tegang diantara mereka karena obrolan yang terlalu serius itu.


“Besok keretanya jam berapa? Aku anterin ya?” Tanya Galih kemudian.


“Jam 10 pagi, boleh. Kebetulan mama juga kayaknya gak bisa nganterin,” Sena dengan senang hati menerima tawaran tersebut, anggap saja ini tahap awal bagi dirinya untuk berusaha mengenal Galih lebih dalam.


Mereka kembali mengobrol santai untuk beberapa lama, hingga akhirnya Galih pamit pulang karena waktu sudah semakin senja. Davina dan Sena kini tengah mengantar Galih sampai teras depan rumah hingga mobil Galih ke luar dari halaman rumah mereka.


“Jadi Sena setuju untuk mulai membuka hati buat Galih?” Tanya Davina saat mobil Galih sudah tidak lagi nampak dari pandangan mereka.


“Iya Sena akan mencoba,” jawab Sena singkat dengan senyuman yang tersimpul di wajahnya. Mendengar jawaban itu saja sudah membuat hati Davina merasa senang.


Setidaknya kali ini putrinya berusaha untuk tidak lagi mengungkung dirinya pada perasaan luka dan rasa takut yang hanya akan menyakiti hati Sena.


“Mama senang mendengarnya. Siapapun nanti yang akan menjadi pilihan Sena. Seandainya pun itu bukan Galih, mama tidak masalah, yang penting Sena benar-benar mencintainya dan dia mencintai Sena dengan tulus, mama dan papa pasti akan mendukung,” jelas Davina meyakinkan putrinya bahwa ini bukanlah tentang perjodohan antara putrinya dengan putra sahabatnya. Ini semata karena Davina ingin putrinya bisa juga merasakan perasaan bernama cinta dan pernikahan yang membahagiakan suatu hari nanti.


Sena mangguk paham, ia segera berhambur memeluk ibunya, “makasih ya ma, mama gak pernah putus asa menghadapi sikap Sena selama ini.”


“Gak ada orang tua yang putus asa sama anaknya. Suatu hari nanti kamu akan merasakan sendiri saat nanti Sena sudah menikah dan punya anak. Percaya deh sama mama,” entah kenapa ucapan Davina seketika membuat Sena membayangkan sebuah pernikahan yang bahagia dengan seseorang, seseorang yang beberapa waktu belakangan ini sempat hilang dari dalam fikirannya. Tunggu, kenapa ia tiba-tiba justru membayangkan pernikahan dengan pria itu. Sena segera melepaskan pelukannya dari Davina. Wajahnya seketika terasa panas entah kenapa. Tanpa bicara apa-apa ia segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Davina yang melongo kebingungan dengan sikap putrinya.


“Ini gila ngapain tiba-tiba gue bayangin nikah sama tuh orang?” Gerutunya dalam hati saat kini ia telah berada di dalam kamarnya. Ia teringat tempo hari di acara pernikahan Una, ketiga sahabatnya menggodainya habis-habisan agar ia dapat berjodoh dengan Artha. Dan sialnya ucapan mereka benar-benar merasuk ke dalam otak Sena saat ini.


“Ashhh sialan emang mereka,” Sena uring-uringan sambil mengacak-acak rambutnya.


...*** ...


“Sena berangkat ya ma, pa. Baik-baik ya, papa pokoknya harus teratur terapinya dan setiap hari harus rajin untuk belajar jalan, gerakin kaki dan tangannya. Pokoknya Sena bakal monitor papa tiap hari,” ucap Sena memberi ultimatum kepada ayahnya yang ditanggapi dengan tawa riang Vandi dan Davina.


“Gini nih kalau punya dokter pribadi yang galak. Siap-siap disidak tiap hari loh pa sama anaknya,” ledek Davina.


“Iya, Sena tenang aja papa akan ikutin semua jadwal yang Sena buat itu,” jawab Vandi meyakinkan putrinya.


Sena kemudian mencium tangan Vandi dan Davina dan ia memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


“We’ll miss you honey, jaga diri dan jaga kesehatan ya,” ucap Vandi saat Sena memeluknya.


Sena mengangguk, kini mobil Galih telah datang untuk menjemputnya. Galih keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri kedua orang tua Sena yang tengah duduk di teras depan rumah untuk bersalaman.


“Terimakasih ya Galih sudah mau anterin Sena,” ucap Davina.


“Sama-sama tante.”


“Om titip Sena saja ya, antarkan sampai stasiun dengan selamat,” kali ini Vandi yang berbicara.


Sena mendelik sebal dengan ucapan ayahnya, “papa nih kayak anaknya masih kecil aja pake dibilang kayak gitu,” cetus Sena.


Vandi, Davina dan Galih tertawa mendengar protes Sena.


“Bagi papa kamu memang masih gadis kecil papa, jadi harus selalu dijaga dengan baik,” kata-kata Vandi membuat Sena tersenyum kembali. Betul kata orang, sampai kapanpun orang tua akan selalu menganggap anaknya seperti anak kecil yang harus selalu dijaga, meski kini anaknya telah tumbuh dewasa sekalipun.


“Siap om, Galih akan memastikan Sena naik kereta dengan selamat.”


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Sena dan Galih berpamitan kepada Vandi dan Davina untuk segera berangkat. Kini Sena sudah berada di dalam mobil Galih yang melaju meninggalkan rumahnya menuju stasiun. Perjalanan tujuh jam nanti sudah terbayang di dalam fikiran Sena pasti akan sangat melelahkan dan membosankan.


Selama perjalanan Sena dan Galih mengobrol kecil dan kini sudah tidak terasa mobil Galih telah memasuki halaman parkiran stasiun. Sena mengecek jamnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 09.35. Ia bergegas ke luar dari dalam mobil bersamaan dengan Galih yang membantu Sena membawakan koper gadis itu.


“Saatnya berpisah, thanks ya,” ucap Sena seraya mengambil kopernya dari tangah Galih.


“Hati-hati ya, jangan lupa kabarin aku kalau udah sampe,” pinta Galih yang dijawab dengan anggukan Sena.


“Kalau gitu aku berangkat. See you….” Sena segera menarik kopernya dan melambaikan tangan pada Galih.


Galih menarik pergelangan tangan Sena sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari hadapannya, “jaga diri ya, jaga hati juga,” ucap Galih spontan yang membuat wajah Sena tampak terkejut mendengar ucapan tersebut. Tapi gadis itu tidak memberikan respon apa-apa atas ucapannya. Sena hanya membalasnya dengan tersenyum. Galih melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Sena. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya tanpa kembali menengok ke arah Galih.


Galih tahu jika membuat hati Sena luluh tidaklah mudah, ia harus bersabar. Sekali lagi ia harus mengingatkan kepada dirinya sendiri, bahwa Sena tidaklah seperti gadis-gadis yang pernah ia pacari selama ini. Tidak mudah membuat hati gadis itu untuk jatuh cinta kepadanya.


...*** ...