
Cuaca sore hari yang cerah dan teduh membuat Artha dan Sena kini memutuskan untuk duduk santai di pinggir lapangan sepak bola yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Hari ini Sena baru saja masuk kerja kembali setelah dua hari ia terkapar.
Beruntung jadwalnya hari ini tidak begitu melelahkan. Meski kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik, tapi tidak dapat dipungkiri jika sesekali kepalanya masih terasa pusing.
Keduanya memutuskan untuk duduk-duduk di sebuah bangku di pinggir lapangan sambil menyaksikan sekelompok anak remaja bermain sepak bola yang merupakan pertandingan antar desa. Meski hanya sebuah pertandingan persahabatan antar desa, tapi pertandingan tersebut sangat menarik. Sesekali Artha ikut bersorak saat salah seorang pemain memasukkan bola ke gawang lawan. Entah tim mana yang sedang Artha dukung karena sejak tadi dari apa yang Sena lihat, Artha selalu bersorak saat ada yang meng-golkan bola. Sena menggeleng-geleng heran melihat kelakuan temannya itu.
"Sebenarnya lo dukung yang mana? Yang pake baju merah apa yang pake baju kuning? Semuanya lo sorakin," cibir Sena melihat tingkah temannya yang sore ini nampak terlihat seperti anak kecil yang begitu antusias melihat permainan sepak bola tersebut.
"Yang mana aja gue dukung," jawab Artha, fokusnya masih kepada permainan sepak bola yang terlihat semakin seru di matanya.
Sena tertawa kecil. Sejenak dirinya tertegun saat menatap wajah pria di sampingnya.
Cahaya keemasan sinar matahari sore yang menerpa wajah Artha membuat wajah pria itu terlihat begitu bercahaya. Obyek di hadapannya terlihat begitu mempesona sehingga ia begitu lama menatapnya dalam diam.
“Dokter Artha?”
Seruan seseorang membuyarkan lamunan Sena seketika. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang kini tengah berjalan mendekati mereka. Siapa lagi kalau bukan Sania.
Gadis itu kini telah berada di hadapan keduanya. Tapi tunggu dulu, sejak kemunculannya tadi, gadis berambut hijam panjang dan bergelombang itu tampak seolah membuang muka dari Sena. Sena dapat menangkap hal itu dengan jelas. Bahkan Sania seolah dengan sengaja mengabaikan keberadaan Sena di sana. Sena hanya tersenyum kecut melihat tingkah Sania yang menurutnya terlalu kekanakan.
“Wah kebetulan sekali bertemu dokter Artha di sini,” ucapnya kemudian.
Artha terpaksa mengalihkan fokusnya dari pertandingan sepak bola tersebut, meski sangat tidak rela tentu saja. Pasalnya, kemunculan Sania sangatlah tidak tepat, dimana saat itu tim merah akan melakukan tendangan pinalti.
“Ada apa?” Tanya Artha dengan tatapan matanya yang sesekali melihat ke arah lapangan memastikan ia tidak melewatkan bagian yang seru.
“Begini, minggu ini ada acara penyuluhan kesehatan di kantor kecamatan. Dan kalau dokter tidak keberatan, bisakah dokter Artha mengisi penyuluhan tersebut?” Jelas Sania menyampaikan maksudnya.
Artha menimbang-nimbang akan permintaan tersebut. Sebetulnya akhir pekan ini ia berencana untuk berlibur. Sudah beberapa minggu belakangan waktunya sangat sibuk sekali. Dan kebetulan akhir pekan ini salah satu rekan kerjanya bermaksud mengajak ia untuk pergi memancing. Di satu sisi ia ingin sekali menolak permintaan Sania, namun di sisi lainnya lagi ia paling tidak bisa menolak kegiatan sosial seperti itu. Artha masih terdiam, wajahnya masih tampak berfikir keras.
“Em…. Gimana dokter Artha, bisa kan?” Sania kembali bertanya saat Artha masih tak menjawab.
“Baiklah, akan saya usahakan,” jawab Artha akhirnya.
Sania terlihat senang mendengar jawaban tersebut. Ini adalah salah satu rencananya untuk semakin dekat dengan Artha. Sekaligus ia berencana mengenalkan Artha kepada ayahnya.
“Terimakasih, nanti akan saya kirimkan jadwalnya dan materi yang harus dokter sampaikan, kalau begitu saya pergi duluan, mari,” ucap Sania yang dibalas dengan anggukan dari Artha.
Pria itu kini telah kembali fokus pada pertandingan sepak bola yang semakin panas akibat tendangan pinalti dari tim merah yang berhasil membobol gawang tim lawan. Sorak sorai penonton begitu ramai memecah sore hari itu, tidak terkecuali Artha yang kini tengah ikut bersorak.
Sania berlalu meninggalkan Artha yang kini sedang bertepuk tangan dan bersorak. Saat langkahnya hendak pergi menjauh, gadis itu menyempatkan diri menatap ke arah Sena.
“Kalau dokter Sena ada waktu, dokter juga bisa ikut datang,” ucapnya datar dengan wajah sinis.
Sena mendecik kesal melihat tingkah Sania yang tampak kentara tengah mencari masalah dengannya. Jika saja ini bukan daerah tempat tinggal Sania dan dirinya hanyalah seorang pendatang. Rasanya Sena ingin sekali saja berubah menjadi bar-bar seperti masa sekolah dahulu saat ada seseorang yang mulai mencari masalah dengannya. Tapi kali ini ia harus bisa bersikap sabar dan dewasa. Setidaknya imagenya tidak boleh tercoreng hanya karena masalah yang dirasa konyol. Memperebutkan seorang pria bukanlah tipenya.
...*** ...
“Sumpah, gue enek banget sama tuh cewek, bisa-bisanya dia nganggep gue saingan dia,” cerocos Sena kepada sahabat-sahabatnya.
Malam ini mereka tengah melakukan video call.
Ketiga sahabatnya tertawa terbahak mendengar hal tersebut. Baru kali ini mereka melihat Sena terlibat dalam masalah percintaan yang menyeret dirinya sebagai saingan dalam perebutan cinta tersebut.
“Ya ampun Sen, harusnya lo ladenin dong makin lo panasin aja tuh bocah. Lo pepet terus si Artha biar makin panas dia,” Tifani mengompori Sena.
Resta tidak bisa berkata apa-apa, gadis itu sejak tadi hanya tertawa melihat kelakuan sahabat-sahabatnya. Sedangkan Una, salah satu sahabatnya yang mungkin terbilang paling waras diantara sahabatnya yang lain justru menengahi agar tidak perlu dimabil pusing.
Mereka berempat mengobrol dengan begitu serunya. Rasa rindu satu sama lain seolah terobati dengan obrolan ringan dan menggelikan malam ini. Bahkan Una yang tengah dibuat stress dengan persiapan pernikahannya pun, seolah dibuat lupa untuk sesaat kala ia bersama dengan sahabat-sahabatnya itu.
“Sen, lo nanti dateng kan ke nikahan gue?” Tanya Una dengan nada memelas.
Sena tertawa cekikikan melihat ekspresi sahabatnya itu, “iya bawel banget sih lo, tenang aja gue dateng kok, gue udah ngajuin cuti pas lo nikah,” jawab Sena yang membuat wajah Una sumringah.
“Eh jangan lupa bilangin Artha juga ya, lo dateng sekalian sama dia kali aja kalian berjodoh nanti,” lanjut Una yang disahuti dengan ledekan dari sahabat-sahabatnya yang lain.
Sena memasang wajah kecut mendengar itu. Sejak dahulu ketiga sahabatnya memang selalu gencar menjodohkan dirinya dengan Artha. Entah apa motivnya. Mereka hanya mengatakan jika Sena dan Artha tampak sangat serasi. Bahkan pembina OSIS-nya dahulu juga kerap mengatakan hal yang serupa. Sungguh menyebalkan bagi Sena.
“Ngaco lo pada ya kalau ngomong!” Sungut Sena kesal.
“Lagian kenapa sih? Artha itu udah ganteng, pinter, baik, cool lagi,” kali ini giliran Resta yang mulai memberikan pendapatnya.
Sena terdiam, kini fikirannya seolah terbawa pada beberapa momen antara dirinya dan Artha yang selalu berhasil membuat debaran aneh dalam jantungnya. Bayang-bayang wajah Artha kini seolah menari-nari difikiran Sena dengan tidak tahu malunya.
“Udah ah, kalian udah mulai gak asik nih obrolannya. Udah pada mabok kayaknya. Ya udah deh gue off duluan,” ucap Sena menyudahi obrolan itu. Jika obrolan itu terus dilanjutkan ia yakin ketiga sahabatnya akan semakin liar untuk menggodanya.
Malam kian larut, suasana desa mulai terasa sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik yang kian nyaring sahut-menyahut memecah malam. Sejak sambungan telfon dengan ketiga sahabatnya berakhir satu jam yang lalu, ia masih belum dapat memejamkan matanya. Waktu telah munjukkan pukul 11.30 malam, seharusnya ia telah tertidur. Namun entah kenapa malam ini matanya seolah tidak dapat ia pejamkan. Otaknya kini masih dipenuhi dengan semua obrolannya dengan ketiga sahabatnya tadi. Tentu saja obrolan yang membahas tentang Artha.
Ya, pria yang sudah ia kenal cukup lama, bahkan Artha dapat dikatakan orang yang sedikit banyak tahu tentang kehidupannya. Meski hal itu terjadi karena ketidak sengajaan. Dan kini ia dan Artha kembali bertemu dan dekat setelah sekian lama. Akhir-akhir ini kedekatannya dengan Artha membuat hatinya merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak lagi biasa.
Saat-saat bersama pria itu selalu menjadi saat-saat yang paling Sena sukai. Tapi, sampai detik ini, ia masih tidak ingin menyimpulkan apapun tentang perasaannya. Bahkan saat segala pemikiran itu muncul, ia lebih memilih untuk segera menampiknya.
Sena segera membuang semua pemikiran itu. Ia kembali merubah posisi tidurnya yang kini menghadap ke arah jendela kamar dan memaksakan diri untuk tertidur.
...*** ...