
Acara akad nikah Una dan Rama telah berlangsung dengan begitu khidmat. Semua orang yang hadir ikut berbahagia termasuk Sena yang seketika dapat melupakan semua permasalahannya. Senyum bahagianya tergambar jelas. Keempat sahabat itu tengah berfoto bersama, mengabadikan momen bahagia tersebut.
“Jangan lupa pas lempar bunga lo harus lempar ke arah Sena biar dia cepet ketularan nemu jodoh,” seloroh Resta tanpa ada beban saat mengatakan hal tersebut yang tentu saja dibalas Sena dengan sebuah jitakan kipas angin kayu yang mendarat tepat di kepala Resta.
Tawa diantara ketiga sahabatnya pecah melihat respon Sena yang masih juga sama, dia tidak pernah berubah jika sudah disingguh mengenai hal itu.
“Gak usah gue lempar, nih langsung gue kasih buat lo Sen, gue doain biar cepet ketemu jodoh. Udah gak sabar gue pengen kondangan ke nikahan lo,” dengan memaksa Una menyerahkan buket bunga yang sejak tadi ia pegang ke tangan Sena. Sena yang memang tidak terlalu mempercayai mitos tersebut menerima saja saat ia diberikan buket bunga yang cantik itu.
“Yang sebentar lagi nikah itu Resta. Lo gak usah buru-buru kondangan ke gue. Lo kondangan dulu aja ke Resta terus ke Tifani,” ucap Sena santai.
“Gue ikhlas kok kalau lo dulu yang nikah. Lagian mas Kevin masih tahun depan lulus S3 nya dan baru pulang ke Indo. Jadi gue sih rela kalau tahun ini lo duluan yang nikah, kan calonnya udah ada tuh satu kantor lagi, udah ready,” ledek Tifani seraya tertawa terpingkal diikuti Resta dan Una yang berusaha mati-matian untuk menjaga tawanya agar tidak merusak dandanannya.
“Gue aamiin deh ya Allah aamiin, semoga jodoh sama Artha. Biar kalau mereka punya anak bisa gue jodohin anak gue sama anak mereka. Lumayan orang tuanya bibit unggul anaknya pasti bagus juga gennya,” una masih menimpali pembicaraan tersebut yang semakin membuat Sena kepanasan mendengarnya.
“Sableng semua emang kalian, para sahabat sialan,” sungut Sena yang rasanya ingin mengacak-acak dandanan mereka semua terutama Una.
Setelah sesi foto bersama, Sena melipir mencari tempat yang sepi untuk mengangkat telfon yang sejak tadi bergetar dari dalam minaudiere bag yang tengah dipegangnya. Ternyata ibunya yang menelfon sejak tadi.
“Hallo, ya ma kenapa?”
“….”
“Apa? Dimana?”
“….”
“Sena ke sana sekarang,” dengan wajah panik ia segera kembali lagi ke dalam gedung untuk berpamitan kepada sahabatnya.
Tidak perlu waktu lama, gadis itu kini telah menggas mobilnya secepat yang ia bisa menuju rumah sakit. Hati dan fikirannya sudah tidak karuan. Sesekali air matanya jatuh yang membuat pandangannya sedikit mengabur. Dengan segera ia seka air mata itu dan berusaha keras untuk menahan tangisnya yang hampir pecah.
Meski hatinya menyimpan rasa benci dan kecewa yang teramat dalam, tapi nyatanya rasa cintanya jauh lebih besar dari semua itu. Mungkin apa yang ibunya katakan memang benar bahwa cinta tidak hanya tentang bahagia, bahwa akan ada saatnya perasaan cinta itu dihadapkan pada sesuatu yang menyakitkan, sesuatu yang mengecewakan. Tapi sekali lagi, cinta yang tulus tidak akan benar-benar hilang dari dalam hati hanya karena sedikit kecewa atau sedikit merasakan sakit, karena hari ini, ia sendiri merasakannya. Rasa cintanya yang begitu besar kepada ayahnya seolah mampu membunuh semua amarah dan kekecewaannya selama ini. Kini ia hanya dapat berdoa agar semua baik-baik saja, agar ayahnya akan baik-baik saja.
Sena memarkirkan mobilnya dengan tergesa, ia tidak perduli jika letak mobilnya memakan lahan parkir sebelahnya karena ia tidak memarkirkan mobil dengan benar. Ia berlari memasuki rumah sakit dan mencari ruangan yang sempat diberikan ibunya lewat pesan. Sena berjalan dengan sedikit berlari kecil. Langkahnya memang agak sulit karena ia masih memakai kebaya dan kain jarik dengan sepatu heels-nya. Ia tidak sempat mengganti pakaiannya. Sena sangat menyadari jika kini banyak mata yang tertuju pada dirinya sejak ia berjalan di lorong rumah sakit yang ramai dengan lalu-lalang orang karena pakaian yang ia kenakan saat ini.
Sebuah ruangan yang ia cari akhirnya ia temukan. Dengan segera Sena membuka pintu kayu yang tertutup tersebut. Ia segera masuk dan mendapati ibunya yang tengah terduduk di tepi ranjang pasien dengan mata sembab. Sena segera menghampiri ibunya dan keduanya saling memeluk satu sama lain.
“Papa gimana ma? Dokter bilang apa?” Tanya Sena setelah sesaat menumpahkan tangisannya dalam dekapan ibunya.
“Dokter bilang papa kena storke. Tubuh bagian kanan papa mengalami paralysis,” jelas Davina dengan kembali menangis saat harus mengingat hal tersebut.
Kali ini Sena yang berusha menguatkan ibunya. Ia tahu ini akan sangat berat terlebih untuk ayahnya nanti. Air mata Sena kembali membuncah. Langkahnya dengan gontai mendekati ranjang tempat ayahnya kini terbaring lemah. Wajah tua nan kuyu itu terlihat begitu menyayat hatinya. Sena menggenggam tangan ayahnya dengan lembut dan ia cium tangan tua yang kini sudah tampak semakin berkerut itu. Sena menangis sejadinya.
“Maafin Sena pa, maafin Sena yang keterlaluan sama papa, maafin Sena,” lirih gadis itu tergugu dalam tangisnya.
“Sena jagain papa dulu ya, mama harus pulang untuk mengambil baju dan perlengkapan lainnya,” ucap Davina sesaat setelah semuanya tenang. Sena mengangguk paham.
Tidak berapa lama setelah ibunya pergi suasana kamar perawatan ayahnya kembali sunyi. Vandi masih belum sadarkan diri. Padahal Sena ingin meminta maaf secara langsung kepada ayahnya. Sena bersumpah, ia tidak akan lagi membenci ayahnya, apapun yang pernah ayahnya lakukan dimasa lalu, ia berjanji akan melupakan semuanya.
“Cepat bangun pa, Sena sayang sama papa.”
Tok tok tok
Suara pintu kamar perawatan itu tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Sena berfikir jika itu adalah dokter atau perawat yang akan mengecek kondisi ayahnya. Ia memberikan jawaban agar orang tersebut dapat masuk. Tapi ternyata dugaannya salah, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar perawatan ayahnya bersama dengan seorang anak laki-laki yang mungkin masih berada di usia sekolah dasar. Sena tidak bisa mengira-ngira. Wanita itu tampak asing bagi Sena.
“Maaf ibu siapa?” Tanya Sena saat wanita dan anak kecil laki-laki itu telah masuk ke dalam kamar perawatan.
“Saya Kinan dan ini putra saya namanya Varo. Varo ayo salam dulu sama kak Sena,” ucap wanita itu memperkenalkan dirinya dan juga putranya. Sena cukup terkejut saat wanita itu meminta putranya untuk bersalaman dengan dirinya, ternyata ibu Kinan tersebut sudah mengenalnya. Tapi sungguh Sena benar-benar tidak tahu dan tidak mengenal wanita di hadapannya itu.
Sena dengan ramah menerima salam dari anak kecil itu. Dengan senyuman yang ramah ia mempersilahkan ibu Kinan dan juga Varo untuk duduk di sofa ruang tamu kamar perawatan itu.
“Ayah kenapa bunda?” Celotehan yang tiba-tiba diucapkan Varo sontak membuat Sena terbelalak saat hendak mengantarkan kedua orang tamu itu untuk duduk. Kinan yang paham dengan keterkejutan Sena segera angkat bicara.
“Bisakah kita berbicara sebentar, nak? Ada hal penting yang harus saya katakan pada Sena dan itu memang tujuan saya datang ke sini,” ucap Kinan dan Sena menyetujuinya.
Mereka bertiga kini telah duduk bersama. Sena belum membuka suara, ia memang sengaja diam dan membiarkan tamunya itu yang akan berbicara. Seperti yang tadi dikatakannya.
“Saya yakin Sena tentu sudah tahu tentang apa yang terjadi pada papa, bukan? Tentang beliau yang memutuskan untuk menikah dengan wanita lain.”
Deg! Jantung Sena terasa terhantam oleh sesuatu.
“Dan… wanita yang papa saya nikahi itu… Anda? Lalu anak laki-laki itu, anak anda dan papa saya, begitu maksudnya?” Sena berusaha untuk memperjelas semua tanda tanyanya. Meski hatinya terasa memanas karena amarah. Tapi di saat seperti ini ia berusaha untuk menahan seluruh amarahnya.
Terlebih saat ini ia sedang berada di rumah sakit dan ayahnya tengah terbaring sakit.
“Maksudnya?” Sena menjadi bingung dengan apa yang Kinan katakan.
“Varo, Varo bisa tolong duduk di sana temani ayah dulu ya,” pinta Kinan kepada putranya yang langsung dilaksanakan dengan senang hati.
Anak laki-laki itu kini tengah duduk di samping ranjang ayahnya sembari menatap wajah ayahnya dan sesekali tangannya mengelus lembut pipi ayahnya itu. Tampak sekali anak laki-laki itu begitu menyayangi Vandi. Sena dapat melihat semuanya.
“Saya adalah teman sekolah papamu semasa kita di SMA. Kami kembali bertemu saat papa mu baru saja lulus kuliah dan kami sempat berpacaran selama setahun, hingga akhirnya kami putus karena papamu melanjutkan studi ke luar negeri─” Jelas Kinan kembali mengenang setiap memori masa lalunya dengan pria yang ia cintai itu. Sena masih mendengarkannya tanpa berkomentar apa-apa.
“Saat itu saya masih sangat berharap jika saat papa mu kembali, kami bisa kembali bersama lagi. Tapi sayang, Tuhan menghendaki hal lain. Selama ia studi di sana, ia bertemu dengan ibu mu, seorang wanita luar biasa yang mampu meluluhkan hatinya. Sekembalinya mereka ke Indonesia, mereka melangsungkan pernikahan,” jujur, hati Kinan masih dapat merasakan sakit saat mengingat kembali kepingan kenangan itu.
“Hati saya hancur saat itu. Tapi apa yang bisa saya lakukan selain merelakan semuanya. Lagi pula ibu mu memang lebih pantas bersanding dengan papa mu, dibandingkan saya tentu saja.”
Mata Kinan sudah tampak berkaca-kaca. Sena tidak tahu harus bersimpati atau bagaimana. Dimatanya saat ini, wanita di hadapannya itu adalah wanita yang telah menghancurkan keluarganya. Tidak seharusnya ia berbelas kasihan. Bahkan seharusnya ia sudah mengusir wanita itu dan juga putranya tadi untuk pergi dari sini. Tapi nyatanya ia tidak melakukan hal itu dan kini ia malah mendengarkan kisah nostalgia antara ayahnya dan wanita itu.
“Saya akhirnya menikah dengan pria lain dan sayangnya selama pernikahan kami, kami tidak karuniai anak. Hingga akhirnya kami bercerai. Tidak berapa lama, saya kembali bertemu dengan papa mu dalam sebuah reuni sekolah. Ternyata meskipun sudah berlalu begitu lama, rasa cinta saya pada papa mu tidak sedikitpun memudar,” Kinan kembali melanjutkan ceritanya.
“Saya memberanikah diri untuk kembali menegur papa mu dan dia masih dengan ramahnya mau berbicara dengan saya setelah sekian lama kita tidak bertemu. Sejak saat itu ambisi saya untuk kembali bersama papa mu semakin besar. Hingga akhirnya rencana jahat itu muncul di kepala saya yang sudah sangat putus asa karena telah begitu besar mencintai papa mu,” Kinan sudah tidak lagi sanggup untuk menahan tangisnya. Air matanya sudah berguguran membasahi kedua pipinya. Sena hanya memberikan tissue yang ia letakkan di atas meja.
“Malam itu saya melakukan rencana jahat dengan menjebak papa mu. Maafkan saya Sena, saya tahu saya sangat berdosa kepada keluarga kalian. Saya telah menghancurkan keluarga kalian. Tapi meski pada akhirnya papa mu menikahi saya, tapi saya tahu betapa ia tidak pernah sedikitpun memiliki perasaan apapun kepada saya. Semua rasa cintanya hanya untuk ibu mu dan juga kamu. Dia hanya terpaksa menikahi saya karena kejahatan saya yang telah menjebak papa mu hingga membuat saya mengandung anaknya.”
Penjelasan Kinan tentu saja menikam perasaan Sena. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang berhati seperti itu, yang tega melakukan segala cara hanya demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan dengan tega menghancurkan kebahagiaan orang lain.
“Selama kami menikah papa mu tidak pernah melakukan apapu dengan saya kecuali datang hanya untuk bertemu dengan putranya. Ia sangat menjaga cintanya hanya untuk ibu mu dan putri kesayangannya. Sejak lama saya ingin bertemu dengan kamu dan menjelaskan semua ini sebagai penebus dosa saya kepada kamu. Tapi papa mu selalu melarangnya. Dan saat ini saya rasa adalah waktu yang tepat. Saya tahu permintaan maaf saya tidak akan pernah bisa memperbaiki sesuatu yang telah saya rusak dan saya hancurkan. Saya hanyalah seseorang yang putus asa karena terlalu besar mencintai seseorang. Saya ingin minta maaf. Maafkan saya,” pungkas Kinan sembari tersungkur dengan meraih tangan Sena.
Tidak ada hal lain yang Kinan inginkan saat ini selalin meminta maaf untuk semua hal yang pernah ia lakukan kepada gadis muda di hadapannya itu. Ia ingat bagaimana tangis putus asa Vandi malam sebelumnya saat pria itu menceritakan tentang luka hati putrinya karena perbuatannya. Kinan menjadi salah seorang yang juga ikut bertanggungjawab atas luka hati yang tergores di hati gadis itu. Kini ia sungguh-sungguh ingin meminta maaf atas semua hal jahat yang sudah ia lakukan dahulu.
Sena ikut menangis bersama dengan Kinan. Sulit baginya untuk bisa begitu saja memaafkan apa yang sudah Kinan lakukan kepada keluarganya. Terlebih apa yang telah Kinan lakukan telah membuat dirinya membenci ayahnya tanpa tahu kenyataan dibalik semua itu. Rasa bersalah itu kini terasa semakin besar bercokol di hati Sena.
...*** ...
Pandangan Sena masih tampak kosong menatap selang infus yang menempel pada tangan ayahnya. Kedatangan Kinan tadi dan semua yang wanita itu katakan telah membuat Sena merasa menjadi anak yang paling jahat. Seharusnya ia mempercayai apa yang ibunya katakan. Seharusnya ia tidak sebuta itu dalam melihat sebuah permasalahan. Seharusnya ia sadar saat ibunya tetap mempercayai dan tetap mencintai ayahnya, tentu saja hal itu bukan tanpa alasan. Harusnya ia bisa mencari tahu dengan benar atas apa yang terjadi, bukan serta merta membeci ayahnya selama bertahun-tahun dan melukai hatinya sendiri secara perlahan.
“Ehh….” Gerakan tempat tidur dan suara ayahnya membuyarkan fikiran Sena. Ia kini segera melihat ke arah ayahnya yang perlahan-lahan sudah mulai membuka matanya.
“Pa?”
Vandi masih berusha menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya lampu kamar perawatan tersebut. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri, terakhir yang diingatknya adalah pagi tadi saat di kantor ia merasa semuanya terasa gelap dan entah apa yang telah terjadi kemudian. Saat ini Vandi hanya merasa tangan dan kaki bagian kanannya sulit sekali untuk digerakkan.
“Kenapa, papa kenapa Sena?” Dengan panik Vandi berusaha menggerakan tangan dan kaki bagian kanannya yang sulit sekali untuk digerakkan.
“Papa tengang dulu ya. Papa harus tenang nanti Sena akan jelaskan semuanya. Tapi papa janji, papa harus tenang dulu, ya?” Pinta Sena seraya mengusap lembut kepala ayahnya. Ia tidak ingin berita yang nanti akan ia sampaikan membuat ayahnya terpukul dan terpuruk. Meski ia tahu itu pasti akan sulit.
Vandi menggangguk pelan, matanya tampak berkaca-kaca melihat putrinya kini seolah tidak lagi membencinya.
“Papa tadi pagi pingsan di kantor, sekarang papa ada di rumah sakit. Dokter bilang papa kena stroke dan tangan kanan sampai kaki kanan papa mengalami kelumpuhan,” jelas Sena tanpa ada yang ia tutupi.
Vandi tercenung mendengar penjelasan putrinya itu. Ia tidak tahu sekarang harus begaiamana dengan kondisi tubuhnya yang mengalami lumpuh sebelah. Ia merasa menjadi seseorang yang tidak berguna dan hanya menjadi beban bagi keluarga nantinya.
Vandi menangis seketika dalam diamnya. Sena tahu jika ayahnya pasti sangat terpukul mendengar kenyataan seperti ini. Sena segera menghapus air mata ayahnya dengan telapat tangannya.
“Papa jangan sedih. Papa jangan berfikir yang buruk-buruk. Sena tahu ini berat buat papa, tapi papa jangan khawatir, papa punya Sena, dan papa punya mama. Kita gak akan ninggalin papa, kita akan terus bantu papa sampai papa sembuh. Kita bisa melakukan terapi untuk melatih syaraf-syaraf otot tangan dan kaki papa. Papa hanya perlu sabar, kita lewati semuanya bersama, ya?” Ucap Sena dengan tulus yang telah membuat hati Vandi begitu hangat saat mendengarnya.
“Maafin papa ya sayang, ini mungkin balasan untuk papa karena telah melukai perasaan kamu,” ucap Vandi yang kembali menangis.
Sena menggeleng, “enggak, papa gak salah, Sena yang harusnya minta maaf. Sena yang salah selama ini. Maafin Sena ya, pa?” Sena mendekap tubuh Vandi.
Tidak ada yang bisa Vandi lakukan selain menangis bahagia dan bersyukur karena kini purinya telah kembali seperti dahulu.
“Tadi ada ibu Kinan dan Varo datang ke sini,” ucap Sena kemudian setelah kini ia melepaskan pelukannya dan menghapus kembali air mata ayahnya.
Vandi tampak terkejut mendengar Sena mengucapkan kedua nama itu. Sena segera duduk dan tersenyum kepada ayahnya seolah mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja dan Vandi tidak perlu menghawatirkan apapun.
“Ibu Kinan udah menceritakan semuanya. Mama juga ternyata udah tahu selama ini. Selama ini Sena lah yang salah. Sena gak akan menyelahkan papa lagi. Dan… Sena gak keberatan untuk mengakui Varo sebagai adik Sena. Sena menyukai Varo, anak itu sangat baik,” jelas Sena dengan nada bicara yang ringan. Senyumnya mengembang dengan begitu tulus.
“Terimakasih ya sayang, sekali lagi terimakasih. Papa tahu kamu putri terbaik yang papa punya,” ucap Vandi dengan haru. Sena mengangguk seraya menggenggam tangan ayahnya.
Sekarang tidak ada lagi baginya alasan untuk membenci ayahnya. Vandi adalah ayah terbaik yang pernah ia miliki. Semua hal yang pernah terjadi di masa lalu ingin ia kubur dalam-dalam. Saat ini ia hanya ingin kembali merasakan bahagia seperti dahulu, bahagia yang pernah hilang dalam hidupnya.
...***...