
Sena sudah tidak lagi memiliki keberanian untuk kembali mendekati Artha. Bahkan nyalinya sudah benar-benar mati setelah ia melihat Artha juga menjauhinya, tanpa pernah memberikan kesempatan kepada Sena untuk kembali mendekat, walau hanya sesaat. Artha bahkan sudah enggan melihatnya. Setiap kali Sena berusaha mendekat, maka pria itu akan langsung menjauh. Perasaannya seolah berakhir bahkan sebelum Sena memulainya.
Sena tengah melamun dengan segelas cappuccino yang kini menggantung di tangannya. Fikirannya kosong.
“Sena?” Suara panggilan Davina mengejutkan gadis itu hingga hampir menjatuhkan mugnya.
“Mama....” Pekik Sena terkejut. Ia segera meletakan mugnya di atas meja.
Davina tampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putrinya yang melamun di sing bolong seperti ini.
“Kamu kenapa? Siang-siang malah ngelamun,” tanya Davina seraya ikut duduk di salah satu kursi di meja makan. Sena memang tengah pulang ke rumah untuk liburan.
“Gak apa-apa, ma. Oh iya malam nanti jadi makan malam sama keluarganya Galih?” Sena berusaha mengalihkan pembicaraan tersebut. Ia tidak ingin ibunya semakin mencecarnya dengan lebih banyak pertanyaan lain.
“Jadi dong, makannya ini mama sama mba Tini mau mulai masak. Jadi mending kamu juga ikut bantuin mama dari pada diam aja ngelamun. Ayo cepet,” ucap Davina seraya bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Sena.
Meski hati Sena sampai detik ini masih belum memiliki perasaan apapun pada Galih. Tapi hubungan persahabatan kedua orang tua mereka membuat ia sulit untuk menentukan sikapnya pada pria itu. Terlebih Galih tampak gigih untuk tetap menanti Sena menerima perasaannya. Entah sampai kapan dan apakah hatinya dapat menerima pria itu pada akhirnya? Sena tidak tahu.
Ia kini tengah membantu ibunya dan mba Tini di dapur, menyiapkan makan malam karena keluarga Galih akan datang berkunjung saat mereka tahu jika Sena tengah berada di rumah.
Setelah berjibaku di dapur kini Sena tengah bersiap di dalam kamarnya. Ia sudah bersiap dengan dress yang baru saja dibelikan ibunya tempo hari. Davina mengatakan jika Sena harus mengenakannya saat makan malam nanti. Entah kenapa makan malam kali ini seolah lebih spesial, bahkan kali ini tidak dilakukan di meja makan sepeti biasanya. Tapi dilakukan di halaman belakang rumahnya, ala-ala barbeque party.
Sena sudah mendengar suara ramai di ruang tamu, ia tidak berlama-lama lagi dalam berdandan. Ia segera ke luar dari kamar menuju ruang tamu untuk bergabung dengan keluarganya.
“Wah…. Ini dia yang sudah ditunggu-tunggu, apa kabar sayang?” Intan segera merangkul dirinya yang baru saja ke luar. Sena membalas pelukan Intan dengan hangat.
“Baik tante,” jawab Sena dengan tersenyum.
Tidak berapa lama matanya dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang benar-benar tidak pernah ia fikirkan.
“Artha?” Ucap Sena pelan tapi cukup terdengar jelas oleh semua orang yang berada di ruang tamu itu.
Ekspresi tidak kalah terkejutnya juga ditunjukkan oleh Artha yang tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan Sena di rumah sahabat orang tuanya.
“Loh…. Sudah saling kenal rupanya,” ucap Intan tampak senang. Sena hanya tersenyum kecil dengan sorot mata yang masih belum teralihkan dari sosok Artha.
“Artha ini adeknya Galih, dia anak terakhir kami,” Intan memperjelas semua tanda tanya di kepala Sena.
“Adik Galih?!” Penjelasan itu membuat hati Sena tersentak. Permainan apa lagi yang tengah semesta tunjukkan padanya. Gumam Sena dalam hati kecilnya.
“Jadi Artha sama Sena sudah saling kenal ya? Memangnya kenal dimana?” Tanya Davina seraya mempersilahkan semua orang untuk duduk.
“Kami teman sekolah sejak SMA tante, dan sekarang kami juga bekerja di tempat yang sama,” jelas Artha lembut.
Sena masih terdiam tidak bersuara. Hatinya masih tidak karuan dengan kenyataan yang kini terpampang jelas di hadapannya. Artha adiknya Galih, dan dia anak dari sahabat kedua orang tuanya yang selama ini ia kenal dengan baik. Kenapa semuanya seperti sebuah lelucon bagi Sena. Tapi sayangnya semua ini sungguh tidak lucu.
“Ya ampun, jadi selama ini Sena kerja bareng sama Artha. Wah tante senang sekali mendengarnya kalau begitu, Sena gak sendirian selama ini di sana,” tutur Davina dengan perasaan senang.
“Dibandingkan dengan kakak-kakaknya, Artha memang anak yang lebih banyak diam. Dia ini gak terlalu gampang buat bergaul. Anak rumahan banget kalau di rumah. Makannya susah cari cewek, sampai sekarang masih single aja,” ledek Dimas kepada putranya itu yang membuat semua orang tertawa, terkecuali Sena dan Artha yang sejak tadi hanya diam dan saling mencuri pandang.
“Tapi dia anak kesayangan karena paling pinter diantara anak-anak mama dan papa,” kali ini Galih yang menimpali dengan nada candaannya.
“Maaf tante, om, saya boleh izin ke kamar kecil?” Ucap Artha ditengah-tengah obrolan riang itu.
“Oh iya tentu, nak. Sena bisa tolong antarkan Artha?” Vandi meminta Sena untuk mengantarkan Artha menunjukkan toilet rumahnya. Sena tentu tidak bisa menolak. Akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya dengan diikuti oleh Artha.
Langkah mereka berjalan menyusuri rumah Sena menuju toilet yang berada dekat dengan dapur, “itu toiletnya,” tunjuk Sena.
Artha yang berjalan melalui Sena seketika menghentikan langkahnya tepat di hadapan gadis itu,”jadi calon suami yang waktu itu kamu bilang, mas Galih?” Tanya Artha mengingatkan Sena kembali akan ucapannya waktu itu.
Sena tertegun mendengar pertanyaan itu. Itu adalah bagian dari kebodohannya saat itu hingga mengucapkan kata-kata asal demi menghindari Artha. Kini ia sungguh menyesalinya.
Sena belum sempat menjawab pertanyaan itu, tapi Artha sudah berlalu dan masuk ke dalam toilet. Hatinya sudah benar-benar diambang batas, sekali saja ia membuka suara maka Sena sudah dapat memastikan jika pertahanannya akan runtuh. Ia pasti akan menangis saat ini.
Meskipun Artha tidak meminta dirinya menunggui pria itu di toilet. Tapi ia tetap berdiri ditempatnya semula, menunggu Artha ke luar. Sejujurnya ia amat merindukan saat-saat dimana ia dan Artha bisa begitu dekat dan mengobrol seperti dahulu. Tadi, saat Artha akhirnya mau berbicara lagi dengan dirinya, ada sebersit perasaan bahagia. Meski Sena tahu kata-kata Artha tadi terdengar begitu mengintimidasi.
Tidak terlalu lama, Artha sudah ke luar dari dalam toilet. Ia cukup terkejut melihat Sena masih berdiri di sana, diambang pintu yang hendak menuju dapur.
“Aku mau kita bicara sebentar,” ucap Sena lirih saat Artha sudah berjarak begitu dekat dengannya.
“Mau bicara apa?” Tanya Artha datar.
Sena menarik nafasnya dalam-dalam, jantungnya berdetak semakin cepat. Air matanya sudah siap-siap ke luar dari pelupuk matanya.
“Apa yang pernah aku katakan waktu itu. Tentang telfon yang aku bilang calon suami aku, itu semua bohong. Aku cuma….” Sena terdiam sesaat, hatinya sudah benar-benar sesak.
“Apapun itu, itu bukan urusan aku, kan? Toh sekarang aku tahu jika kamu adalah perempuan yang sedang didekati kakak aku. Dan perempuan yang selalu orang tuaku bilang sebagai calon menantunya. Selamat ya. Aku turut bahagia karena sebentar lagi kamu akan jadi bagian dari keluarga kami. Mas Galih orang yang baik, dan dia begitu tulus mencintai kamu. Kamu gak perlu hawatir,” ucap Artha setenang mungkin, meski dalam setiap kalimat itu terdapat rasa sakit yang ia tahan saat mengatakannya.
Belum lagi saat ia harus membayangkan jika Sena benar-benar akan menikah dengan kakaknya dan menjadi kakak iparnya kelak. Entah sebabakbelur apa nanti perasaannya.
Sena tidak bisa percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Artha. Kata-kata itu begitu menusuk perasaannya. Bahkan ia sendiri belum memutuskan untuk menerima lamaran Galih. Bagaimana bisa Artha mengatakan hal seperti itu. Air matanya seketika luruh tanpa bisa lagi ia tahan. Saat Artha akan melangkah pergi meninggalkan Sena. Pergelangan tangan kiri pria itu segera ditahan oleh Sena.
“Aku cinta sama kamu, aku mencintai kamu, Ta.”
“Perasaan yang aku sendiri gak tahu gimana itu bisa datang. Sekeras apapun aku menyangkalnya, perasaan itu tetap gak mau pergi. Perasaan itu semakin kuat menetap di hati aku. Tapi waktu aku mulai berani mengakuinya, aku justru di hadapkan pada kenyataan bahwa orang yang aku cintai, mungkin tidak memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan,” jelas Sena susah payah di sela isak tangisnya. Artha masih terdiam mendengar pengakuan gadis itu.
“Sampai akhirnya Sania memukul telak kebodohanku dengan mengatakan kalau selama ini aku dengan bodohnya tidak menyadari semua perasaan kamu sama aku. Tapi gimana aku bisa tahu, kalau selama ini kamu gak pernah bilang sama aku? Kenapa kamu diam aja, Ta?” Tangis Sena semakin menjadi meski ia berusaha menahan suaranya agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Artha mendekat ke arah Sena. Ia mengusap lembut air mata dari wajah gadis itu, “aku sudah hampir mengatakannya, tapi sikap kamu saat itu seolah berubah. Kamu menghindar dari aku. Dan hari dimana aku datang ke ruangan kamu, dan saat kamu bilang bahwa kamu sudah memiliki calon suami. Apa yang bisa aku lakukan? Aku terpaksa mengubur semua perasaanku. Dan kamu tahu Sena, itu gak mudah. Dan sekarang kenyataan lain yang lebih menyakitkan, ternayata kamu gadis yang begitu kakak aku cintai dan ingin dia nikahi.”
Jika hati Sena hancur, maka hati Artha sama hancurnya. Artha meraih tubuh Sena dan membawanya dalam pelukannya. Sena semakin menangis sejadinya dalam pelukan pria yang ia cintai itu. Untuk sejenak keduanya tengah menumpahkan seluruh isi hati mereka. Meski mereka sadar bahwa kini keduanya berada dalam situasi pelik.
...***...
Acara makan malam itu terasa begitu hangat. Canda dan tawa tak henti-hentinya mewarnai pembicaraan ringan mereka. Semua orang seolah dalam suasana hati yang bahagia, kecuali Sena dan Artha yang lebih banyak diam dan mendengarkan tanpa pernah ikut dalam percakapan tersebut.
“Oh iya Sena, sayang. Jadi gimana nih kabar selanjutnya, apakah Sena bersedia sama Galih? Rasanya tante sudah tidak sabar buat jadiin Sena menantu tante,” ucap Intan tanpa basa-basi yang membuat Sena pucat pasi mendengar pertanyaan itu. Artha yang kini duduk di sebelah ibunya pun seketika merasa jantungnya nyaris terlepas dari tempatnya mendengar pertanyaan tersebut.
Sena tidak berani menatap ke arah Intan yang tentu saja nantinya pandangan matanya akan tertuju pada Artha. Gadis itu tidak sanggup melihat wajah pria itu. Sena kini memilih tersenyum getir sambil menunduk. Entah apa yang harus ia jawab.
“Wah masih malu-malu nih sepertinya,” ledek Davina seraya mengelus lembut kepala putrinya.
Dengan susah payah Vandi menggerakkan tangan kanannya yang kini sudah bisa ia gerakkan dengan baik, tentunya dengan gerakan perlahan. Pria itu dengan lembut menggenggam tangan putrinya yang kini sudah berkeringat dingin.
“Boleh papa tanya, sayang? Tapi Sena janji harus jawab pertanyaan papa dengan jujur,” ucapan Vandi membuat semua orang seketika menghentikan tawa riang mereka.
Sena kini tengah menatap wajah ayahnya.
“Apa Sena sekarang sedang mencintai seseorang?” Pertanyaan Vandi tidak hanya mengejutkan Sena tapi juga mengejutkan semua orang yang berada di meja makan itu, termasuk Artha tentu saja.
Sena masih terdiam menatap getir wajah ayahnya, ia tidak berani mengatakan apapun. Hatinya terlalu takut untuk berkata jujur saat ini.
“Kalau Sena tidak mau menjawab. Baiklah, papa sekarang akan tanya Artha. Apa Artha mencintai Sena?” Vandi benar-benar berhasil membuat semua orang terbelalak. Pria itu sudah mengetahui jika putrinya dan Artha saling mencintai. Kebenaran itu baru ia ketahui saat tadi tanpa sengaja ia mencuri dengar semua pembicaraan Sena dan Artha tanpa keduanya sadari.
Artha yang mendapat todongan pertanyaan itu masih terdiam, tapi setelahnya ia memberanikah diri untuk menjawab. Meski ia tahu, jika jawabannya mungkin akan melukai perasaan kakaknya, “iya om, bahkan mungkin sejak kami masih dibangku sekolah dahulu.”
Jawaban Artha berhasil menohok perasaan Galih. Bahkan Intan dan Dimas yang mendengar jawaban putranya itu seolah dibuat tidak percaya. Keduanya saling menatap dengan tatapan bingung.
“Mas, ada apa ini?” Tanya Davina yang masih tidak mengerti.
“Sena, sekarang papa tanya lagi, apa Sena mencintai Artha?” Kali ini pertanyaan itu ditujukan pada Sena yang saat ini sudah tidak dapat lagi menahan air matanya.
Sena seketika memeluk tubuh ayahnya, gadis itu menangis dalam pelukan Vandi, “Sena cinta sama Artha pah, Sena sangat mencintai dia,” ucapnya dalam isak tangisnya itu.
Semua orang mampu mendengar dengan jelas pengakuan gadis itu. Galih kini hanya bisa pasrah, merelakan gadis yang ia cintai itu untuk adiknya. Tentu saja, ia memang harus melakukannya. Artha lebih berhak untuk Sena. Perasaan keduanya bukanlah hal yang bisa ia hancurkan atau ia rebut. Galih cukup bisa berbesar hati. Meski tentu rasanya tidak mudah, karena percayalah, perasaannya pada Sena begitu tulus.
“Kamu kok gak pernah cerita sama mama sih kalau selama ini sudah punya seorang gadis yang dicintai,” ucap Intan seraya menghapus air matanya. Ya, air mata haru dan bahagia.
“Maafin Artha ya, ma,” ucap Artha seraya memeluk tubuh wanita yang paling ia cintai itu.
“Hah…. Selama ini mama berjuang mati-matian buat jodohin Sena sama Galih. Ternyata skenario Tuhan lebih indah ya. Sena gak perlu lagi dipaksa-paksa buat jadi menantu mama. Sepertinya kali ini Sena sendiri yang akan dengan suka rela buat mau jadi menantu mama,” ucap Intan yang membuat semua orang kini tertawa, termasuk Sena dan Artha. Intan memang selalu apa adanya dalam berbicara. Sena mulai mengetahui salah satu sifat calon ibu mertuanya itu.
“Jadi sekarang apakah Sena bersedia dilamar oleh putra kami, Arthaditya Mahesa ini?” Tanya iseng Dimas kepada gadis cantik itu yang kini sudah tampak memperlihatkan aura bahagianya.
“Gak usah ditanya lagi pa, jawabannya kali ini pasti iya, langsung gak perlu nunggu, apalagi mikir dulu,” jawab Galih meledek yang membuat Sena tertawa mendengar sindiran Galih tersebut.
...***...
...EPILOG...
Malam itu langit begitu indah dengan taburan bintang-bintang. Suasana malam begitu tenang dan damai. Dua orang itu kini tengah duduk di sebuah bangku taman belakang rumah mereka sambil menatap hamparan langit yang cantik.
“Indahnya….” Seru Sena sambil bersender manja pada bahu Artha yang kini juga tengah merangkul tubuhnya.
“Karena kamu lihatnya sama aku,” ucap Artha dengan nada suara datar khasnya.
Sena segera mengangkat kepalanya dari bahu Artha dan melihat wajah pria di sebelahnya dengan tatapan menelisik, “kamu ternyata gak berubah ya, tetep aja datar-datar aja. Gak ekpresif sama sekali,” seloroh Sena.
“Kamu, kamu, kamu. Mas! Aku ini suami kamu sekarang, bukan temen kamu lagi,” protes Artha yang selalu berusaha meralat panggilan istrinya itu.
Keduanya memang telah menikah tiga bulan yang lalu, dan kini keduanya memilih untuk menetap di ibu kota sebelum akhirnya mereka sama-sama melanjutkan studi master mereka di Jepang bulan depan.
“MAS Artha itu akan tetep jadi temen aku lah,” ucap Sena dengan penekanan pada kata
“mas” yang selalu dipermasalahkan oleh suaminya.
“Jadi kamu maunya kita temenan aja?” Tanya Artha yang kini wajahnya sudah menatap ke arah istrinya.
Sena mengangguk, “iya dong, mas akan selalu jadi temen aku. Teman hidup untuk selamanya,” jawab Sena seraya mencium pipi suaminya sekilas yang membuat Artha tersenyum lebar dan keduanya kini tertawa riang bersama.
“I love you,” ucap Artha sembari mencium kening istrinya dengan lembut.
“I love you more than you know,” jawab Sena dengan senyum bahagianya yang terus mengembang.
Dengan Artha, ia tidak lagi merasakan takut akan cinta. Cinta yang dahulu pernah begitu rumit. Cinta yang dahulu pernah begitu melukai dan telah mempercundangi nyalinya. Dan semua ketidak sempurnaan cinta yang selama itu Sena rasakan. Akhirnya, ia kini dapat memahaminya. Bahwa semua ketidak sempurnaan itu adalah bagian yang memang harus ia lalui dengan sebaik-baiknya. Hingga akhirnya Tuhan membawanya pada sebuah cinta dan kebahagiaan yang dapat ia rasakan begitu sempurna. Mungkin jika tanpa melalui semua perasaan terluka, kecewa, dan sakit itu, mungkin ia tidak akan pernah bisa memahami kesempurnaan itu sendiri. Artha adalah cinta yang kini telah melengkapi ketidak sempurnaannya. Dan ia adalah cinta yang juga melengkapi ketidak sempurnaan Artha.