
Hari minggu pagi Artha dan beberapa tim medis termasuk Sena didalamnya, tengah melakukan breafing untuk acara pengobatan gratis ke salah satu desa. Artha memimpin breafing pagi itu dan membagi tugas pada setiap orang. Acara pengobatan gratis akan berlangsung dari pukul sembilan pagi hingga pukul satu siang. Semua perlengkapan termasuk obat-obatan telah dimasukkan ke dalam mobil milik rumah sakit. Semua tim telah bergegas menuju mobil yang akan membawa mereka ke lokasi acara.
“Sena!” Seru Artha seraya meraih pergelangan tangan gadis itu yang hendak pergi menuju mobil.
“Ya?” Sena terkejut saat pergelangan tangannya diraih oleh Artha.
“Brosur yang kemarin lusa dicetak udah dibawa, kan?” Tanya Artha sembari melepaskan tangannya dari pergelangan tangan gadis itu.
“Oh…. Udah kok, itu…. Udah gue taroh di box perlengkapan tadi.” jawab Sena dengan perasaan gugup.
Artha mengangguk paham, kini ia dan Sena berjalan menuju mobil yang sudah menanti untuk membawa rombongan rumah sakit tersebut.
Acara pengobatan gratis itu mendapat sambutan yang luar biasa dari warga desa. Banyak masyarakat yang sudah duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan oleh panitia. Dengan pembawaan yang ramah dan jenaka, Artha memberikan edukasi kepada warga setempat mengenai penyakit diabetes yang merupakan ancaman bagi banyak orang. Tidak hanya bagi kalangan orang yang telah lanjut usia, tapi anak-anak muda saat ini pun memiliki resiko yang sama besarnya. Sekitar satu jam Artha memberikan pemaparan tentang diabetes berikut cara pencegahan dan pengobatan, serta pola hidup sehat yang bisa warga praktekan. Banyak orang yang antusias bertanya dan pria itu dengan cerdas mampu menjelaskan setiap pertanyaan mereka dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti.
Diam-diam dari arah lain, Sena terus memperhatikannya. Tatapan matanya tidak pernah lepas dari setiap gerak Artha yang entah kenapa terasa begitu mempesona dimatanya saat ini. Ia tidak pernah melihat Artha yang begitu lepas dalam berbicara. Artha yang selama ini ia kenal adalah Artha yang kaku dan seringnya berbicara seperlunya. Apalagi saat mereka dahulu masih di SMA. Artha adalah si ketua OSIS yang bisa dikatakan super dingin, jutek, kaku, dan super perfeksionis, yang membuat pria itu menjadi orang yang super menyebalkan bagi Sena.
Tapi pagi ini, ia melihat sosok Artha yang berbeda. Artha dengan pembawaan yang begitu berwibawa, ramah, dan terlihat begitu luwes dan sabar kepada setiap orang yang antusias bertanya ini dan itu padanya.
Sepertinya memang bukan hanya Sena yang begitu terpesona dengan sosok dokter muda berbadan tegap nan proporsional itu. Banyak ibu-ibu dan para wanita muda di sana yang juga terpesona dengan Artha, bahkan seseorang yang duduk tidak jauh darinya tengah mencuri-curi gambar melalui ponselnya. Siapa lagi jika bukan Sania.
Seusai Artha memberikan pemaparan, dilanjutkan dengan acara pengobatan gratis. Satu-persatu warga mulai diperiksa oleh para dokter dan mendapatkan pengobatan. Tepat saat kumandang adzan dzuhur terdengar, kegiatan itu dihentikan sesaat untuk beristirahat. Sena segera meregangkan otot-otonya yang terasa kaku. Cukup melelahkan juga ternyata setelah duduk dan memeriksa banyak pasien selama kurang lebih satu jam setengah tanpa jeda. Ia segera bangkit dari duduknya meraih tas dan hendak pergi ke sebuah surau di dekat tempat pengobatan gratis itu dilakukan.
Sena berjalan sedikit terpincang karena mendadak kakinya disergap rasa kesemutan saat baru saja berdiri.
“Kenapa kaki lo?” Tiba-tiba suara Artha menyeruak dari arah belakang Sena yang tengah berjalan.
“Kesemutan,” jawab Sena dengan wajah meringis.
Artha kemudian menyodorkan air mineral dingin pada gadis yang berjalan disampingnya itu.
“Wah perhatian sekali, thanks ya Ta. By the way tadi lo keren banget pas kasih penyuluhan ke warga,” Sena meraih botol air mineral tersebut.
“Dari dulu gue memang udah keren,” seloroh Artha menimpali ucapan jujur Sena tadi tanpa beban.
Sena yang mendengar kejumawaan Artha itu langsung merutuki dirinya sendiri karena telah berkata jujur pada pria itu. Memang lebih baik jika ia simpan saja kekagumannya tadi dari pria yang memang sepertinya sudah memiliki bakat menyebalkan sejak dahulu kala.
“Nyesel gue udah ngomong,” sungutnya kesal.
Artha tidak membalas gerutuan Sena, pria itu hanya tersenyum. Keduanya kini terus berjalan menuju surau.
Dari arah kejauhan, Sania terus memperhatikan keduanya dengan tatapan ketidak sukaannya. Sejak dahulu Sania mencoba untuk mendekati Artha tapi ia tidak pernah bisa, sulit sekali rasanya karena Artha selalu menjaga jarak. Tapi sejak kehadiran Sena, Artha sepertinya mudah sekali dekat dengan gadis itu. Hati Sania tidak rela jika pria itu kini terlihat dekat dengan gadis lain.
...*** ...
Acara pengobatan gratis itu selesai pukul dua siang. Mereka baru sampai di rumah sakit sekita pukul tiga. Kini semua tim tengah mengangkat semua perlengkapan yang dibawa tadi dari dalam mobil. Sena membawa box berukuran sedang yang berisi sebagian obat-obatan. Sebenarnya tidak terlalu berat hanya pegangan box yang rusak membuat ia kesulitan untuk mengangkat box tersebut.
“Dokter Sena apa kita bisa bicara sebentar?” Tanya Sania dengan pandangan yang seolah tak acuh melihat Sena berkali-kali membetulkan pegangan box agar tidak jatuh.
Sena yang tidak dalam mood yang baik untuk diajak bicara, hanya diam.
“Dokter Sena saya sedang berbicara dengan dokter, apa dokter tidak mendengar ucapan saya tadi?” Sania memang mengucapkan kalimat tersebut dengan nada yang halus, tapi Sena dapat mengetahui penenkanan kata-kata Sania menyiratkan rasa tersinggung karena sudah ia abaikan.
Sena menghentikan langkahnya, menatap ke arah gadis yang usianya mungkin sekitar 3-4 tahun lebih muda dibawahnya itu.
“Apa kamu tidak melihat saya sedang kerepotan membawa box ini? Apa kamu tidak tahu situasi dan kondisi untuk mengajak seseorang berbicara?” Timpal Sena dengan nada ketus. Ia bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan rasa ketidak sukaannya kepada orang lain.
Sania yang mendapati kekesalan Sena tidak mengatakan apa-apa, gadis itu hanya diam. Sedangkan Sena sudah pergi meninggalkan Sania tidak perduli.
Dengan perasaan kesal Sena meletakan box tersebut di atas meja secara kasar hingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Artha yang tengah meletakkan alat-alat lain di dalam sebuah lemari sampai terlonjak mendengarnya.
“Lo kenapa?” Artha membalikan badan menengok kesumber suara.
Dengan wajah yang masih tampak kesal Sena kini menatap tajam ke arah Artha. Pria yang tidak tahu apa-apa itu menjadi objek sasaran kemarahan Sena.
“Gara-gara lo!!!” Sungut Sena sembari berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Artha terdiam ditempatnya melihat kelakuan Sena yang menurutnya sudah agak gila. Bahkan dirinya sejak tadi tidak sedang berinteraksi dengan Sena, tapi gadis itu tiba-tiba datang dan mulai marah-marah padanya.
“Tuh anak salah makan? Apa lagi PMS?” Gumamnya pelan seraya kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sena berjalan menuju ruang kantornya untuk mengambil beberapa barang. Raut wajahnya masih terlihat begitu sangar. Bahkan beberapa pegawai yang melihatnya menjadi segan untuk menyapa dokter yang sudah dikenal ceria dan ramah itu.
Baru saja hendak membuka pintu ruang kantornya, Sena kembali diganggu oleh kehadiran Sania.
“Saya mau bicara sebentar dengan dokter Sena,” ucap Sania memaksa.
Sena yang sudah jengah karena gadis itu seolah terus menerornya sejak tadi, memutuskan untuk meladeni permintaan Sania.
“Kamu mau bicara apa?” Sena berusaha menahan perasaan kesalnya.
“Saya akan langsung saja ke inti pembicaraannya. Saya mau tanya apakah dokter Sena memiliki hubungan khusus dengan dokter Artha?”
Pertanyaan Sania tampak begitu terus terang. Sena tidak begitu terkejut mendengarnya. Dugaannya benar jika gadis itu memang menaruh perasaan pada Artha. Bahkan sejak hari pertama Sena bertemu dengan Sania, ia merasa jika gadis itu mulai menunjukkan aura ketidaksukaan kepada dirinya tanpa alasan yang jelas. Semua keramahannya kepada Sena tampak sekali hanya sebuah basa-basi semata.
“Apapun hubungan saya dengan Artha saya rasa itu bukan urusan kamu. Jadi saya harap kamu jangan suka kepo sama hubungan orang lain, mengerti?!” Tandas Sena dengan seringai liciknya. Ia sangat tahu bagaimana cara menghadapi perempuan seperti Sania.
Sena berlalu masuk ke dalam ruang kantornya, mengambil beberapa barangnya dan pergi tanpa memperdulikan Sania yang masih berdiri di depan pintu ruangannya. Sedangkan Sania berdiri mematung menatap kepergian Sena dengan wajah geram. Tapi bukan Sania jika akan menyerah begitu saja. Semakin merasa tertantang, semakin ia tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
...*** ...