Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 13



Acara penyuluhan yang merupakan gagasan pribadi Sania kepada ayahnya berjalan lancar. Seperti janji Artha, ia sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik, memberikan penyuluhan kesehatan ditambah konsultasi dadakan kepada para warga yang mayoritas adalah lansia. Seharunya acara tersebut selesai sebelum pukul duabelas siang, namun karena banyaknya warga yang bertanya dan berkonsultasi membuat acara berakhir tepat pukul satu siang. Tidak masalah bagi Artha, pria itu tidak nampak keberatan sama sekali. Ia justru terlihat senang meladeni antusiasme warga.


Pak Karno, yang merupakan ayah Sania ikut senang melihat acara yang digagas putrinya sukses membuat warga puas. Beliau juga merasa terkesima dengan sosok dokter yang putrinya kenalkan itu.


“Terimakasih dokter Artha sudah berkenan mengisi acara ini,” ucap Pak Karno setelah acara usai.


“Sama-sama pak, saya juga senang bisa diajak berkontribusi dalam kegiatan seperti ini.”


Keduanya kini tengah mengobrol santai di ruang tamu kantor kecamatan tersebut, sembari makan siang dengan beberapa pegawai lain. Pak Karno tidak hentinya dibuat terpesona dengan kepribadian Artha yang menurutnya begitu sopan dan luwes saat diajak berbicara bahkan oleh orang yang baru saja dikenalnya. Kini, pak Karno mengerti mengapa putrinya begitu menyukai pria yang saat ini duduk di hadapannya itu.


Jangan salah, meski Sania tidak mengucapkannya secara terus terang mengenai perasaannya kepada pria itu. Pak Karno sebagai ayah sudah dapat menebak jika sikap Sania yang begitu ngotot untuk menjadikan Artha sebagai pembicara dalam acara penyuluhan kesehatan itu bukan semata-mata karena Artha memang berkompeten, tapi lebih dari itu, putrinya menaruh perasaan lebih pada Artha. Awalnya, acara yang memang digagas oleh Sania tersebut akan mengundang seorang dokter yang merupakan kerabat dari pak Karno. Namun dengan tegas Sania menolak usulan tersebut, ia beriskukuh bahwa dirinya memiliki orang yang lebih baik untuk menjadi pembicara. Pada akhirnya, pak Karno sebagai ayah mengalah. Ia membiarkan putrinya mengambil alih seluruh jalannya acara. Hingga kemudian ia bertemu langsung dengan Artha yang selalu dipuji-puji oleh putrinya itu. Kali ini pak Karno mengakui, bahwa pilihan Sania memang tepat.


“Maaf sebelumnya dokter Artha, kalau boleh saya tahu apakah dokter ini sudah berkeluarga?” Tanya pak Karno ditengah obrolan ringan mereka. Ini memang hanya sebuah pertanyaan basa-basi, sebetulnya pak Karno sudah tahu jika Artha belum menikah. Ia hanya sedang menggiring obrolan ke arah sana. Sehingga ia dapat mengetahui lebih jauh tentang dokter tampan yang tengah disukai putrinya itu.


Artha tidak begitu terkejut mendengar pertanyaan tersebut, baginya itu bukanlah pertama kalinya ia ditanya tentang masalah pernikahan. Sudang puluhan bahkan ratusan kali mungkin pertanyaan itu kerap dilontarkan oleh orang-orang yang baru mengenal dirinya. Meski ia sendiri tidak tahu untuk apa mereka repot-repot bertanya hal pribadi seperti itu.


“Belum pak, saya masih belum menikah,” jawab Artha singkat.


“Oh walah ganteng gini kok masih betah melajang toh pak dokter,” seru seorang pegawai yang usianya nampak jauh lebih tua dibandingkan pak Karno.


Artha hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut dibarengi dengan tawa kecil dari pegawai lain dan juga pak Karno.


“Tapi sudah punya calon?” Pak Karno kembali bertanya penasaran.


“Belum juga pak,” jawab Artha jujur.


Pak Karno tampak sumringah mendengar jawaban tersebut, seolah ada sebuah harapan untuk putrinya bisa memenangkan hati pria muda di hadapannya itu.


“Oh iya pak, kalau begitu saya mau permisi pamit,” ucap Artha setelah dirasa cukup untuk beramah-tamah dengan para pegawai kecamatan itu.


Pak Karno paham, segera ia bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh para pegawai lain untuk bersalaman dan berterimakasih kepada Artha.


Sania kini tengah mengantar Artha hingga parkiran. Gadis itu ternyata sejak tadi menunggu Artha di luar kantor ayahnya.


“Sekali lagi terimakasih ya dokter Artha,” ucap Sania saat Artha hendak menaiki sepeda motor miliknya.


Artha tersenyum, “sama-sama, saya juga terimakasih karena sudah diundang dalam acara ini,” jawabnya ramah. Kali ini Sania dapat melihat jika Artha tidak sekaku sebelumnya.


“Hm…. Dokter Artha, apa boleh jika di luar pekerjaan saya panggil, mas? Supaya tidak terlalu formal. Tapi itu kalau dokter tidak keberatan,” ucap Sania gugup.


“Tidak masalah, mungkin lebih baik seperti itu jika di luar pekerjaan dan kantor,”jawab Artha membuat hati Sania berbunga-bunga, gadis itu tampak berusaha keras menutupi wajah bahagianya. Baginya ini adalah sebuah kemajuan setelah selama hampir setahun lebih ia mengenal pria itu dan sulit sekali bahkan untuk sekedar mengobrol ringan.


“Kalau begitu saya permisi,” ucap Artha membuyarkan fikiran Sania yang kini tengah terbang entah kemana.


Gadis itu mengangguk cepat dan melambaikan tangannya saat sepeda motor Artha pergi meninggalkan halaman parkir kantor ayahnya tersebut. Sania kini begitu optimis untuk terus berjuang mendapatkan hati Artha, meski ia tahu jika Sena bisa menjadi salah satu saingan terberatnya. Tapi tidak masalah bagi Sania, ia tidak akan menyerah begitu saja. Hatinya sudah terlanjur jatuh cinta kepada pria itu.


...*** ...


Sore ini Sena baru saja selesai memasak ayam rica-rica dan tumis brokoli untuk menu makan malam saat tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Meski dengan tampilan yang bisa dibiang semrawut karena ia baru selesai memasak. Bahkan Sena masih menggunakan celemeknya dengan rambut yang digelung asal, tapi gadis itu tidak perduli.


Saat pintu dibuka, ternyata tamu tersebut adalah Artha. Sena dengan senyum lebarnya mempersilahkan Artha masuk ke dalam rumah.


“Lo abis masak?” Tanya Artha yang menatap Sena dengan tatapan yang tak terbaca.


“Yes, betul sekali. Oh iya kebetulan lo dateng, makan di sini aja. Gue masak lumayan banyak loh,” jawab Sena bersemangat saat keduanya kini telah duduk di kursi ruang tamu.


“Lo bisa masak emangnya?” Tanya Artha yang masih tidak percaya.


Sena mendecik kesal mendengar pertanyaan Artha yang terlihat meragukan kemampuan memasaknya. “Heh!! Selama gue tinggal di sini kalau gue mau makan gue masak sendiri. Lo jangan meragukan kemampuan masak gue!!!”


Artha tertawa, “tampang-tampang cewek kayak lo gak keliatan bisa masak soalnya,” ucap Artha terus terang yang membuat Sena semakin sebal.


“Terus tampan-tampang cewek yang keliatannya pinter masak itu yang kayak gimana? Oh, yang kayak Sania? Yang lembut, yang cantik, kalem. Gitu?!” Ketus Sena.


“Lihat aja. Oh iya lo ngapain tiba-tiba ke sini?”


Artha menyodorkan sebuah kresek hitam di atas meja, “mau kasih ini, tadi di jalan gue beli, karena gue yakin gak akan abis sendirian makannya gue ke sini.” Jelas Artha.


Sena kini membuka bungkusan berkresek hitam itu. Sebuah kotak kue berwarna putih yang ternyata adalah martabak manis dengan topping keju kesukaan Sena. Gadis itu memekik senang.


“Kesukaan gue!!!” Heboh Sena dengan mata yang berbinar. Sejak dahulu ia memang sudah sangat menyukai martabak manis dengan topping keju.


Artha tersenyum senang melihat ekspresi Sena. Sebenarnya ia memang sengaja membelikan itu untuk Sena. Ia tahu jika gadis itu sangat menyukai martabak manis dengan topping keju. Ia teringat dahulu saat mereka tengah rapat OSIS dan salah seorang teman membawakan martabak keju untuk camilan di tengah rapat. Kala itu Sena terlihat sangat kegirangan, dan percayalah gadis itu yang paling banyak menghabiskannya tanpa tahu malu.


“Ini sih abis kena gue doang, Ta,” Sena sudah mengambilnya sepotong.


“Abisin aja kalau lo doyan,” jawab Artha yang membuat Sena semakin tersenyum lebar.


Tidak sulit ternyata membuat gadis itu bahagia. Hal-hal sederhana saja sudah dapat membuatnya tersenyum bahagia.


“Lo mau kita makan malam sekarang apa nanti?” Tanya Sena di sela-sela ia menikmati potongan ketiga martabaknya.


“Boleh, sekarang aja.”


“Kita makan di meja makan aja ya, gue udah taroh di sana.”


Artha mengangguk setuju. Keduanya berjalan menuju meja makan. Artha cukup terkejut dengan apa yang gadis itu masak. Ia sempat berfikir mungkin Sena hanya memasak hal-hal yang sangat sederhana. Tapi ternyata tidak juga.


“Cobain deh ini ayam rica-rica buatan gue. Gue jamin enak banget,” Sena menyodorkan piring berisi ayam rica-ricanya yang terlihat sangat menggiurkan di mata Artha.


Pria itu menyuap makanannya. Dan siapa mengira jika rasanya memang sungguh lezat. Artha sampai menatap Sena dengan tatapan tidak percaya jika ini adalah masakan gadis itu.


“Gimana? Enak, kan?” Tanya Sena penuh dengan percaya diri.


Artha hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan pria itu kembali menikmati makannya. Sena begitu senang. Untuk pertama kalinya seseorang mencoba masakannya, selain dari keluarganya tentu saja. Bahkan ketiga sahabatnya saja belum pernah mencoba masakannya. Sena kini cukup bisa membanggakan dirinya dalam urusan memasak. Keduanya kini tengah menikmati makan malam mereka. Tidak ada percakapan selama makan malam berlangsung.


“Sejak kapan lo bisa masak?” Tanya Artha setelah ia selesai dengan makan malamnya.


“Udah lama sih, tapi baru sering masaknya ya pas tinggal di sini,” jawab Sena.


“Sepertinya lo udah cocok buat jadi ibu rumah tangga yang baik,” ucap Artha yang membuat Sena menghentikan pergerakan tangannya yang hendak mengambil botol air minum di atas meja makan. Gadis itu segera melirik pada Artha yang duduk di depannya.


“Kenapa?” Tanya Artha bingung dengan tatapan gadis itu.


Sena menggeleng. Ia segera mengambil botol air minum dan menuangkannya dalam gelas miliknya.


“Lo sendiri kapan mau nikah?” Sena balik bertanya. Debaran aneh itu kembali terasa.


“Saat gue menemukan jodoh gue,” jawab Artha yang kini tatapannya lurus menatap wajah gadis itu.


Sena terdiam sesaat, “udah nemu?” Lanjut gadis itu kembali dengan wajah yang masih terlihat menatap gelas air minumnya.


Artha menggeleng dengan masih menatap pada Sena. Sejujurnya, hatinya memang sudah menemukan seseorang dan itu adalah gadis yang kini tengah duduk di depannya. Tapi Artha masih belum yakin untuk mengutarakan seluruh perasaannya pada Sena.


“Lo sendiri? Udah punya seseorang spesial?” Tanya Artha menelisik.


Sena tersenyum pias dengan pertanyaan tersebut. Gadis itu terdiam. Wajahnya tampak sekali menyorotkan kepedihan. Sorot mata itu sama seperti sorot mata kala Artha pertama kali melihat Sena menangis di hadapnnya dahulu.


Artha bangkit dari kursi duduknya. Langkah pria itu kini berjalan mendekati Sena. Gadis itu masih menunduk dengan air mata yang sudah berada di pelupuk matanya. Artha meraih lengan Sena. Dengan satu kali gerakan ia membawa gadis itu dalam pelukannya, membiarkan Sena menangis di sana.


Sena tidak dapat lagi menahan rasa sesak di hatinya. Malam itu, di hadapan Artha, Sena kembali memperlihatkan kerapuhan hatinya. Ia kembali menangis. Bahkan kini ia menangis dalam dekapan pria itu.


“It’s ok, everything will be ok,” ucap Artha lirih menengkan gadis yang menangis dalam pelukannya itu.


...***...