Imperfect Love

Imperfect Love
Chapter 21



Minggu pagi ini Artha dikejutkan dengan kedatangan Sania ke rumahnya. Gadis itu datang dengan membawa sekotak kue lapis untuknya. Menurut Sania itu adalah kue buatan dirinya dan ibunya. Artha tidak punya pilihan selain mempersilahkan Sania masuk dan bertamu di rumahnya. Padahal pagi itu Artha sudah bersiap untuk pergi ke rumah Sena. Semalaman sungguh ia tidak dapat tertidur karena terus memikirka keadaan gadis itu.


“Terimakasih ya, bilang juga sama ibu kamu,” ucap Artha menerima pemberian Sania.


Sania mengangguk kecil sembari tersenyum, “oh iya mas Artha mau pergi? Kelihatannya sudah rapih,” tanya Sania sedikit menyelidik saat ia menyadari jika Artha sudah terlihat rapih pagi ini.


“Iya,” jawab Artha singkat.


Sania terdiam untuk beberapa saat, ia tahu bahwa tujuan utamanya pagi itu datang bukan hanya untuk memberikan kue. Ia tengah bersusah payah membangun keberaniannya. Entah apakah ia akan berhasil atau tidak, tapi Sania sudah tidak bisa lagi mundur dengan seluruh perasaannya.


“Ehem…. Mas Artha ada yang mau aku katakana.,” dengan hati yang berdebar Sania mulai memberanikan diri.


“Ya?”


“Aku…. ingin mengakui tentang perasaanku. Ini sudah cukup lama sejak pertama kali mas Artha datang ke rumah sakit. Aku—“ Sania terdiam sesaat, ucapannya tercekat karena kini detak jantungnya semakin tidak menentu.


Artha sudah mengerti apa yang ingin gadis itu katakana setelahnya, dengan perasaan yang ia buat setenang mungkin ia angkat bicara bahkan sebelum perkataan Sania terselesaikan, “aku paham, dan sangat mengerti tentang perasaan kamu. Aku bukan pria yang tidak peka jika ada seorang gadis yang berusaha mendekati. Terimakasih Sania untuk semua perasaan tulus kamu. Tapi aku juga harus berkata jujur, bahwa aku tidak bisa menerima perasaan itu,” jelas Artha sejujurnya. Ia tahu jawaban ini pasti akan sangat mengecewakan Sania. Tapi itulah kejujurannya.


Hati Sania terasa hancur mendengar jawaban terus terang pria itu. Pria yang sudah membuat dirinya jatuh hati dengan begitu dalamnya. Dan sekarang ia harus menelan pahitnya penolakan dari pria yang begitu ia cintai. Air mata Sania seketika terjatuh. Artha kini bingung harus bagaimana dalam situasi seperti sekarang.


“Aku sungguh minta maaf Sania,” ia mencoba untuk menenangkan gadis itu. Selama ini kedekatannya kepada Sania bukan karena ia yang berusaha mendekat. Tapi justru gadis itu yang selalu berusaha mendekat. Tidak ada sedikitpun niatan di hati Artha untuk mempermainkan perasaan gadis itu. Bahkan selama ini ia sudah cukup berusaha menjaga jarak dengan Sania saat dirinya menyadari bahwa gadis itu memiliki perasaa lebih.


“Apa karena dokter Sena?” Tanya Sania kemudian.


Artha terdiam. Hati kecilnya tentu membenarkan akan hal itu.


“Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaan kamu,” hanya itu jawaban yang bisa Artha berikan.


Sania paham, tanpa perlu Artha menjawabnya secara jelas, ia sudah mengerti apa yang pria itu rasakan. Kini Sania tahu, jika hati Artha sejak dahulu memang sudah tertuju pada Sena. Ia dapat melihatnya dari pancaran mata pria itu saat memandang Sena, jelas ada sorot yang berbeda. Selama ini Sania sebisa mungkin mengabaikan akan hal itu. Baginya sebelum ia benar-benar berjuang, ia tidak boleh menyerah dan mundur begitu saja. Hati seseorang bisa berubah, bukan? Jadi siapa yang akan tahu jika setelah dirinya berjuang, hati Artha akan berubah. Tapi kenyataanya itu tidak terjadi. Hati pria itu memang telah benar-benar jatuh hati pada Sena. Dan itu tidak mudah digoyahkan.


“Apa yang membuat mas Artha mencintai dia?” Sania sungguh ingin tahu apa yang membuat Artha begitu mencintai gadis itu.


Artha terdiam mendengar pertanyaan itu. Apa dan bagiamana ia bisa jatuh cinta pada gadis itu adalah pertanyaan yang juga kerap ia tanyakan pada dirinya sendiri. Semua seperti terjadi begitu saja. Mencintai gadis itu membuat Artha ingin selalu ada untuknya, menjaganya, melindunginya, dan membahagiakannya. Lagi pula, bukankah cinta itu untuk dirasakan, bukan dipertanyakan apa dan bagiamana.


“Aku tidak tahu, tapi aku tahu hati aku bisa merasakannya bahwa aku mencintainya,” jawab Artha akhirnya.


“Kalau begitu aku pulang dulu,” Sania tidak ingin lagi berlama-lama. Ia segera pamit dari rumah Artha dengan membawa perasaan yang hancur. Setelah ini ia tidak tahu harus bagaimana menyembuhkan patah hatinya itu. Rasanya terlalu sakit. Mungkin butuh waktu lama untuk bisa memulihkan hatinya seperti dahulu. Sania hanya bisa berharap jika semua ini segera berlalu seperti sebuah mimpi buruk.


Artha masih duduk termenung sesaat setelah Sania pulang. Ada sudut hatinya yang ikut merasakan terluka saat melihat gadis itu menangis di hadapannya tadi. Ia tahu Sania tentu telah bersusah payah mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengutarakan perasaannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan saat hatinya sendiri kini telah terisi oleh seseorang. Bahkan semua perasaan itu telah lama berada di sana tanpa pernah Artha minta dan sadari selama ini. Jatuh cinta kepada seseorang ternyata semisteri itu.


...*** ...


Sena masih bergelung di balik selimutnya saat suara dering telfon membuatnya terpaksa harus beranjak. Dengan langkah yang masih pincang tertatih, ia mengambil handphone yang terletak di atas meja rias. Sebuah panggilan video dari ibunya terlihat di layar ponsel. Sena segera mengangkat panggilan tersebut.


“Assalamualaikum ma,” salam Sena saat kini video call itu telah tersambung.


Sena tersenyum seraya berjalan menuju kasurnya kembali. “Udah bangun dari tadi, cuma males gerak jadi tidur-tiduran aja di kasur, mumpung libur. Papa gimana kabarnya ma?” Tanya Sena yang tidak pernah lupa untuk menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan ayahnya.


“Papa is good, lagi latihan jalan tuh sama little boy nya,” kata-kata ibunya membuat Sena mengernyitkan dahinya, little boy? Siapa?


“Maksud mama?” Tanya Sena bingung.


Davina segera berjalan mengampiri suaminya dan menekan kameranya agar kini dalam mode kamera belakang. Dalam layar ponsel Sena kini terlihat ayahnya tengah berlatih berjalan ditemani dengan Varo. Bocah laki-laki yang pernah ia temui di rumah sakit waktu itu. Sena sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Ma? Are you serious? Is he Varo?” Tanya Sena masih tidak percaya. Kini panggilan itu kembali menampilkan wajah ibunya yang terlihat tertawa kecil mendengar pertanyaannya.


“Iya, dia adik kamu. Kamu udah pernah ketemu dia kan di rumah sakit? Mama sengaja minta Varo untuk datang ke rumah buat kasih semangat sama papa.” Jelas Davina ringan seolah hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan.


Sena hanya berdecak kagum dengan kebesaran hati ibunya itu. “Ma… I love you more than one billion even more and so proud of you,” ucap Sena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Davina semakin terkekeh dengan kekonyolan putrinya, “kamu ini kenapa sih. Oh iya mama telfon kamu soalnya mama pengen tahu, udah sejauh mana nih PDKT-an Sena sama Galih? Jangan lama-lama dong sayang, kalau sudah merasa cocok gak usah mikir lama-lama,” pinta Davina merasa tidak sabar untuk melihat putri sematawayangnya itu menikah.


Sena mulai terdiam dengan ucapan ibunya kali ini. Apa yang mau dikatakan jika pada kenyataannya perasaan Sena malah tengah terjebak dengan orang lain.


Sena menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya dalam satu kali hembusan, “gak tau deh ma, bingung,” jawab Sena lesu.


“Kenapa? Bukannya Galih baik, dia juga keliatan sayang sama kamu. Terus apa yang membuat Sena bingung?” Telisik Davina.


Sena termangu, “Sena…. Jatuh cinta sama orang lain, ma,” ucapnya lirih dengan wajah pilunya.


Hati Davina seketika berdesir bahagia mendengar jika putrinya kini tengah jatuh hati. Sebuah pengakuan yang langka yang ke luar dari mulut putrinya. Wanita cantik itu tersenyum penuh bahagia. “Siapa sayang? Kok gak pernah cerita sama mama,” tanya Davina bersemangat.


“Ada lah ma, percuma Sena kasih tahu juga, toh cowoknya udah sama cewek lain,” jawab Sena yang kini membuat senyuman bahagia di wajah ibunya itu seketika memudar, digantikan dengan tatapan pilu kepada putrinya itu.


“Jadi cowoknya udah sama orang lain?” Tanya Davina memastikan.


Sena menggangguk dengan senyuman getir di wajahnya, “lebih tepatnya mereka lagi deket. Jadi ya sudahlah, mungkin dia memang bukan buat Sena. Mau gimana lagi. Tapi ma, rasanya kenapa menyakitkan, ya?” Tutur Sena yang kini sudah hampir menjatuhkan air matanya.


“Oh sayang, please jangan nangis. Mama nanti ikut sedih kalau putri mama sedih dan mama gak bisa peluk Sena,” Davina sebisa mungkin menguatkan putrinya yang kini malah sudah menitikan air matanya. Ia sungguh tahu dan paham bagaimana rasanya.


Sena segera menyeka air matanya dan mencoba tersenyum kepada ibunya agar wanita itu tidak khawatir dengannya.


“Mama percaya Sena akan mendapatkan pria yang terbaik. Sekarang cobalah untuk benar-benar membuka hati pada Galih. Dia pria yang baik, sayang. Dia berhak mendapatkan kesempatan.”


Apa yang ibunya katakan benar, Galih adalah pria yang baik. Mungkin sekarang ia memang harus benar-benar fokus pada pria itu. Memberikan kesempatan kepada Galih dan juga memberikan kesempatan kepada dirinya untuk mengenal pria itu yang mungkin saja memang dialah jawaban terbaik untuknya.


...*** ...