
Suara kereta api menderu dengan lantang, meninggalkan stasiun yang pagi itu sudah begitu ramai oleh orang-orang yang tengah menunggu keberangkatan kereta mereka. Sena sudah duduk di kursi keretanya, menatap hiruk pikuk stasiun dari balik jendela kereta yang tengah berjalan meninggalkan stasiun. Matanya masih sembab akibat tangisan perpisahannya dengan ibu dan sahabat-sahabatnya tadi. Berat hati ia meninggalkan kota kelahirannya itu. Namun ini adalah keputusannya, seberat apapun ia tidak akan merubahnya. Toh, ia masih bisa pulang ke rumah jika ada waktu libur atau cuti.
Perjalanan masih sangat panjang, Sena membetulkan posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman untuk dapat sejenak memejamkan matanya. Membunuh waktu perjalanan yang mungkin akan terasa membosankan. Kini ia membiarkan dirinya hanyut dalam tidurnya, berharap saat matanya terbuka ia sudah sampai di tempat tujuan.
Baru saja matanya terpejam, tiba-tiba dering pesan masuk berbunyi dari ponselnya. Sena kembali lagi membuka matanya, mencari ponselnya di dalam tas untuk memeriksa pesan yang baru saja masuk.
Galih:
“Hei, kamu udah naik kereta ya? Sorry ya aku gak jadi ikut nganterin kamu karena ada urusan mendadak. Hati-hati ya Sena, semangat bekerja dan cepat balik lagi ke ibu kota, ada banyak orang yang merindukan kamu, termasuk aku :)”
Wajah Sena tersimpul sebuah senyuman geli membaca pesan yang ternyata dari Galih. Pria itu memang selalu terang-terangan dalam aksi pendekatannya kepada Sena. Jangan difikir ia tidak tahu. Sena adalah seorang wanita yang tidak selugu itu, ia sangat menyadari jika ada seorang pria yang tengah mendekatinya.
Ia membalas pesan itu hanya dengan sebuah emoticon senyum dan sebuah pesan singkat bertuliskan “see you.” Setelah selesai membalas pesan tersebut Sena sengaja menonaktifkan ponselnya, kali ini ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ia ingin memejamkan matanya.
Kereta akhirnya sampai di kota tujuan Sena tepat pukul 16.45, hampir tujuh jam lamanya ia duduk di kereta membuat pinggang dan kakinya terasa keram saat hendak bangkit dari kursi duduknya. Sena menarik koper miliknya menuruni kereta tersebut. Suasana baru tampak menyeruak saat kakinya mulai menjejak stasiun tersebut. Riuh suara orang-orang berbicara dengan bahasa daerah yang masih asing terdengar oleh dirinya.
Menurut informasi ia akan dijemput oleh seorang sopir rumah sakit untuk menuju tempat tinggalnya. Ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Tujuannya adalah menghubungi pak Min, seorang sopir yang akan menjemputnya di stasiun.
“Hallo, pak Min? Ini saya Sena, saya sudah sampai di stasiun, bapak dimana ya?” Tanya Sena saat sambungan telfon itu diangkat oleh pak Min.
“Saya sudah menunggu di pintu ke luar, dokter. Dokter dimana? Saya pakai baju batik warna merah,” jelas pak Min dengan suara yang cukup lantang karena suasana yang begitu ramai di pintu ke luar stasiun tersebut.
Sena yang kini telah berjalan melewati pintu keluar mengedarkan pandangannya mencari sosok pak Min yang katanya mengenakan baju batik berwarna merah. Tidak sulit ternyata bagi Sena menemukan sosok pak Min yang memang tengah berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Sena bergeges menghampiri sosok bapak berusia di awal lima puluh tahun tersebut.
“Pak Min?” Tanya Sena memastikan saat ia mendekat ke arah bapak berbaju batik merah yang tengah menelfon.
“Dokter Sena ya? Iya dok betul saya pak Min,” jawab pak Min tersenyum saat akhirnya bertemu dengan Sena.
Pak Min kini membantu Sena menarik kopernya untuk dibawa ke mobil pick up. Keduanya kini telah berada di mobil menuju tempat yang akan Sena tinggali. Menurut pak Min perjalanan mereka akan memakan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke daerah tempat tinggal Sena, dan rumah sakit tempat bekerjanya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Sepanjang perjalanan mata Sena terasa termanjakan dengan pemandangan alam yang begitu indah. Jalanan aspal yang meliuk-liuk khas pegunungan dipadu dengan rimbunan pohon pinus di sepanjang jalan terasa sangat menyegarkan bagi Sena yang selama ini jarang sekali melihat hijaunya alam. Sena membuka kaca mobilnya lebih lebar membiarkan angin sejuk itu menerpa wajah dan rambut panjangnya yang memang tidak ia ikat.
Satu setengah jam perjalanan Sena kali ini tidak terasa membosankan karena pak Min sangat aktif mengajaknya berbicara dan bercanda. Sena cukup terhibur dengan lelucon-lelucon yang dibuat oleh pak Min. Seketika ia teringat kembali akan sosok ayahnya yang dahulu juga sangat pandai membuat lelucon yang dapat membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Rasanya sudah sangat lama Sena tidak merasakan kebahagiaan itu lagi, kebahagiaan antara dirinya dan Vandi. Semua telah berubah, sikap Sena tidak bisa sehangat dahulu dengan ayahnya. Perasaan sedih itu kembali bergelayut dalam benak Sena.
Mobil pick up hitam itu memasuki halaman sebuah rumah yang terbilang kecil dan sederhana, namun terlihat cukup nyaman. Halaman rumah tersebut cukup luas dengan sebuah pohon jambu air yang rindang tertanam di halaman rumah.
“Ini rumahnya dok, mari,” ucap pak Min sembari turun dari mobil dan mengambil koper Sena.
Sena turun dari mobil dan berjalan bersama pak Min memasuki teras rumah tersebut. Mata Sena berkeliling melihat situasi tempat tinggal barunya itu. Ternyata ia memiliki banyak tetangga di samping kiri dan kanan serta depan rumahnya. Sepertinya ia tidak perlu merasa takut dan khawatir.
“Oh iya saya hampir lupa, ini kunci rumahnya, dokter. Nanti kalau butuh bantuan apa saja dokter jangan sungkan hubungi saya. Kalau begitu saya pamit dulu sudah maghrib. Dokter silahkan beristirahat,” jelas pak Min kepada Sena dengan menyerahkan beberapa kunci yang dibendel menjadi satu dengan sebuah gantungan kunci boneka.
Sena menerimanya dan sesaat setelah pak Min meninggalkan rumah tersebut ia masuk ke dalam rumah. Rumah itu hanya mimiliki dua kamar dengan ukuran yang tidak terlalu besar, terdapat ruang tamu dan ruang televisi yang menyambung dengan meja makan dan dapur. Kamar mandinya hanya ada satu berada dekat area dapur. Kondisi rumah tersebut terlihat baik. Cat tembok berwarna putih yang masih sangat bersih dan bagus. Semua perabotan juga terlihat masih sangat baru. Sepertinya, rumah dinasnya ini memang masih terbilang baru. Kini ia mulai memasuki salah satu kamar yang akan ia gunakan sebagai kamar tidurnya. Ia mulai membereskan seluruh pakaiannya.
...*** ...
Seperti yang pak Min katakan tempo hari, jika rumah sakit tempat bekerjanya tidak jauh dari rumah yang Sena tinggali. Ia dapat menempuhnya dengan hanya berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit. Kini langkah Sena telah sampai di depan gedung rumah sakit yang terbilang tidak cukup besar, setidaknya tidak sebesar rumah sakit tempat bekerjanya dahulu.
Seperti bentuk rumah sakit pada umumnya, rumah sakit ini pun dipenuhi dengan lorong-lorong panjang. Ia terus berjalan mencari ruang rapat yang dimaksud. Tidak sulit menemukan ruang rapat tersebut. Ya, tentu saja karena Sena memang meminta bantuin seorang security untuk mengantarkannya.
Sena berdiri di depan pintu kaca berwarna hitam yang masih tertutup rapat. Ia melirik arloji ditangannya, ternyata memang masih pukul 07.40, dimana jadwal breafing tersebut akan dimulai pukul 08.00. Sena membuka pintu tersebut dan memutuskan untuk menunggu orang-orang di dalam.
Saat pintu telah terbuka, ternyata sudah ada seseorang berjas putih—yang bisa Sena tebak bahwa ia adalah seorang dokter, tengah duduk membelakangi pintu masuk tersebut. Pria itu tampak tengah serius di hadapan laptopnya sehingga tidak menyadari ada seseorang yang masuk.
“Selamat pagi,” salam Sena menegur sosok pria itu yang masih belum menyadari keberadaannya.
“Selamat pagi—“ balas pria itu dengan kepala yang menengok ke belakang sumber suara.
“Sena?!” Seru pria tersebut dengan spontan berdiri dari tempat duduknya saat melihat gadis di hadapannya.
“Artha?!” Sena tidak kalah terkejutnya melihat seseorang yang sangat ia kenal.
Dengan antusias Sena berjalan mendekat ke arah Artha—teman semasa sekolahnya dahulu. Betapa bahagianya Sena karena ternyata ia tidak sendirian berada ditempat baru ini, setidaknya ada seseorang yang dikenalnya.
Saat jarak keduanya sudah semakin dekat, dengan gerakan spontan Sena memeluk pria di hadapannya tersebut. Hatinya sungguh bahagia dapat bertemu kembali dengan teman lamanya di tempat kerja barunya ini, “ya ampun Ta, lo kerja di sini juga?” Tanya Sena setelah melepaskan pelukan singkatnya.
Jantung Artha seketika berdegup cukup kencang saat mendapati reaksi gadis itu tadi yang tiba-tiba memeluknya. Sesaat ia hanya terdiam, membiarkan jantungnya untuk kembali berdetak normal. Setelah dirasanya cukup membaik, Artha mulai mengamati gadis itu dari atas sampai bawah. Ia sungguh tidak bisa menutupi keterkejutannya.
Pertmana, ia terkejut karena bertemu Sena ditempat ini, dan keterkejutannya yang kedua adalah saat melihat Sena yang kini juga satu profesi dengannya. Artha masih mengingat dengan jelas, dahulu gadis itu bahkan tidak tahu ingin melakukan apa dalam hidupnya. Dan setelah bertahun-tahun berlalu dan tidak pernah lagi tahu tentang kabar gadis itu, kini ia muncul di hadapannya dengan mengejutkan. Sena telah menemukan tujuan hidupnya.
“Lo sekarang jadi dokter juga?” Artha bukannya menjawab pertanyaan Sena, ia malah bertanya pertanyaan lain pada gadis itu.
Sena tersenyum, “begitulah,” jawabnya bangga.
“Syukurlah akhirnya lo tahu apa yang ingin lo lakukan,” Artha senang mendengarnya.
“Lo dari kapan kerja di sini, Ta? Gila ya lama banget gak ketemu lo, kangen loh gue,” ucap Sena lagi yang masih merasa tidak percaya akan bertemu dengan Artha di tempat ini.
“Gue dari setahun yang lalu udah kerja di sini. Gue kira waktu seminggu yang lalu dikasih info kalau ada dokter baru yang pindah ke sini namanya Sena, itu bukan lo. Ternyata itu beneran orang yang gue kenal,” jelas Artha.
Sena kini mengambil duduk di kursi samping Artha. Sudah lama sekali sejak mereka berdua lulus, ia dan Artha tidak pernah lagi bertemu atau saling berkomunikasi. Artha memilih kuliah di luar kota. Dan lagi pula ia dan Artha memang tidak sedekat itu, tidak ada alasan baginya ataupun Artha untuk tetap saling berkomunikasi, bukan? Tapi Sena tetap senang bisa kembali bertemu Artha. Bahkan kini mereka menjadi rekan kerja ditempat yang sama. Sena merasa ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.
...*** ...